Sampit (ANTARA) - Komitmen kuat ditunjukkan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah dalam menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi yang kian kencang, salah satunya lewat pertandingan Lawang Sakepeng dalam gelaran Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) 2026.

“Kesenian ini memiliki latar belakang sejarah kuat. Seni silat tradisional Suku Dayak Ngaju ini, tampil sebagai simbol penyambutan sekaligus penjaga nilai-nilai adat yang terus dijaga kelestariannya,” kata Koordinator Lomba Lawang Sakepeng Agus Sanang di Sampit, Jumat.

Hal ini ia sampaikan saat memantau pelaksanaan lomba Lawang Sakepeng yang menjadi rangkaian kegiatan FBHH 2026 yang dilaksanakan di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit.

Agus Sanang menjelaskan, seni silat ini bukan sekadar pertunjukan fisik, melainkan warisan sejarah yang dalam. 

Berakar dari pengamatan terhadap gerak alami hewan beruk, gerakan itu bertransformasi menjadi seni bela diri yang artistik dan sarat filosofi bagi masyarakat Dayak Ngaju, khususnya Kalimantan Tengah.

“Gerakannya itu meniru gerak hewan beruk. Dari situ dikembangkan menjadi seni yang luar biasa, dan sampai sekarang masih hidup di masyarakat Dayak, khususnya di Kalimantan Tengah,” ujarnya.

Selain sebagai seni silat, Lawang Sakepeng kerap ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat, seperti pernikahan maupun penyambutan tamu penting. Hal itu sebagai bentuk prosesi pembuka sebelum memasuki suatu wilayah atau acara.

Baca juga: Kapolres Kotim imbau masyarakat waspada penipuan berkedok E-Tilang

Secara simbolis, Lawang Sakepeng adalah ‘pintu’ yang wajib dilalui sebelum memasuki suatu wilayah atau memulai prosesi sakral seperti pernikahan dan penyambutan tamu agung.

Dalam prosesi itu, pesilat memotong tiga benang yang dipasang di gapura kayu berhias ukiran khas Dayak. Tiga benang itu melambangkan bahaya, ketidakharmonisan, dan maut yang berhasil ditaklukkan melalui ketangkasan pesilat yang diiringi tabuhan musik tradisional.

“Lawang ini menandakan bahwa tamu sebelum masuk ke suatu tempat itu dihalang oleh pintu adat. Setelah melalui prosesi Lawang Sakepeng, segala hal negatif, kesialan, atau pengaruh buruk itu diharapkan terputus,” jelasnya.

Sehubungan dengan Lomba Lawang Sakepeng di FBHH 2026 ini, ia menegaskan bahwa para juri melakukan penilaian ketat berdasarkan keragaman dan kemantapan gerak, ketangkasan, kostum, hingga ketepatan durasi waktu. 

Modernisasi nyatanya tidak menyurutkan minat Generasi Z di Kotim. Tahun ini, lomba diikuti oleh 27 regu yang terdiri dari 17 regu putra dan 10 regu putri, menunjukkan tren peningkatan partisipasi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Juara pertama putra dan putri dalam festival ini, akan menjadi utusan Kotim dalam mengikuti Festival Budaya Isen Mulang 2026. Pemenang akan dibina lebih lanjut sesuai juknis provinsi agar siap bersaing.

“Prestasi kita di tingkat provinsi cukup membanggakan. Di tahun-tahun sebelumnya, cabang Lawang Sakepeng tidak pernah lepas meraih juara. Bahkan pada 2018, putra dan putri Kotim meraih juara satu,” sebutnya.

Baca juga: Pelaksanaan proyek strategis 2026 di Kotim dikawal KPK

Agus Sanang menambahkan, pembinaan Lawang Sakepeng di Kotim dilakukan melalui berbagai jalur. Mulai dari sanggar seni yang dibina para senior budaya, sanggar sekolah, sanggar kecamatan, hingga perguruan pencak silat.

“Melalui pembinaan berkelanjutan, Lawang Sakepeng diharapkan terus hidup bukan hanya sebagai tontonan festival, melainkan sebagai identitas yang menjaga jati diri masyarakat Dayak di masa depan,” pungkasnya.

Lomba Lawang Sakepeng kali ini didominasi anak muda dari berbagai kecamatan, sekolah, dan perguruan silat. Salah satunya adalah Rafli, pesilat asal Kecamatan Cempaga yang telah menekuni seni ini sejak awal 2025.

Ia mengaku puas dengan penampilannya setelah satu pekan terakhir rutin berlatih siang dan malam, sehingga ia optimis bisa meraih juara.

"Selain lomba, saya juga sering bahkan puluhan kali atraksi di acara pernikahan. Saya menekuni Lawang Sakepeng sejak awal 2025. Optimis bisa juara, tapi semua tergantung penilaian juri,” demikian Rafli. 

Baca juga: Disdik Kotim: Anak terpapar ekstremisme bukan pelajar SD, melainkan SMA

Baca juga: Terluas di Kalteng, kebun sawit sudah hampir sepertiga wilayah Kotim

Baca juga: Pelayanan KB gratis di Sampit Expo disambut antusias