Sampit (ANTARA) - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah meluruskan terkait informasi yang beredar mengenai adanya anak di bawah umur yang terpapar ekstremisme yang merupakan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), bukan Sekolah Dasar(SD).

“Informasi sebenarnya yang terpapar itu adalah anak SMA, bukan SD, sehingga untuk penanganannya kami berkoordinasi dengan Disdik Provinsi Kalteng, terkait juga bagaimana untuk pengelolaan ke depannya,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdik kotim Yolanda Lonita Fenisia di Sampit, Jumat.

Yolanda menjelaskan, sebelumnya pihaknya telah dilibatkan dalam pertemuan bersama Polres Kotim dan perwakilan Densus 88 Antiteror Polri terkait indikasi penyebaran ekstremisme di kalangan pelajar Kotim. Saat itu dijelaskan bahwa yang terindikasi merupakan pelajar SMA.

Hal ini pun ia sampaikan bertujuan meluruskan persepsi di masyarakat agar tidak terjadi kekhawatiran berlebih pada jenjang pendidikan dasar. Penanganannya pun sudah berbeda kewenangan, karena untuk jenjang SMA merupakan kewenangan Disdik provinsi.

Meski begitu, Yolanda mengatakan pihaknya tetap menaruh perhatian serius terhadap isu tersebut dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait, antara lain Kepolisian Resor (Polres) Kotim.

Sebagai langkah preventif ke depan, Disdik Kotim berencana memperketat edukasi mengenai bahaya radikalisme dan ekstremisme pada peserta didik dengan memanfaatkan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Dalam kegiatan ini pihaknya akan menggandeng Kepolisian Resor (Polres) dan  Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) 

“Kami akan bekerja sama dengan Polres serta dinas terkait. Pada saat MPLS nanti, mereka akan memberikan sosialisasi untuk mengedukasi peserta didik mengenai bahaya ekstremisme maupun radikalisme, di situ lah peran kami dari Disdik Kotim," jelasnya.

Ia melanjutkan, saat pembinaan terhadap dua pelajar yang terpapar ekstremisme sebelumnya Disdik Kotim memang tidak dilibatkan, karena perwakilan Densus 88 Antiteror Polri yang langsung mendatangi dan memberikan pembinaan terhadap para korban.

Baca juga: Terluas di Kalteng, kebun sawit sudah hampir sepertiga wilayah Kotim

Berdasarkan informasi yang diterima, para pelajar tersebut saat ini masih berstatus aktif sekolah namun berada di bawah pengawasan dan pembinaan yang dilanjutkan oleh Polres Kotim.

“Anak-anak tersebut saat ini masih bersekolah seperti biasa. Posisi mereka sekarang masih dalam pembinaan. Ada pendekatan-pendekatan teknis yang dilakukan oleh rekan-rekan di Polres yang memang memiliki mekanisme khusus terkait hal ini,” ujar Yolanda.

Selain itu, Yolanda juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mengawasi penggunaan gadget pada anak, terutama terkait maraknya game online yang mengandung unsur kekerasan. 

Sebagaimana informasi yang disampaikan oleh Densus 88 Antiteror Polri, bahwa penyebaran paham yang mengarah pada kekerasan ini memanfaatkan ruang digital sebagai sarananya.

Bermula dari game online dengan unsur kekerasan, lalu anak akan dibawa bergabung dalam grup WhatsApp yang menjadi wadah cuci otak atau brainwash terhadap anak.

“Kalau dari kecil sudah terbiasa dengan konten-konten kekerasan seperti itu akhirnya bisa berdampak jangka panjang. Maka dari itu, orang tua harus lebih perhatian dan mengelola terkait penggunaan gadget pada anak,” lanjutnya.

Menurutnya, kolaborasi antara sekolah dan keluarga harus seimbang dalam pengelolaan penggunaan gadget pada anak.

Di lingkungan sekolah dasar, penggunaan gawai umumnya dilarang kecuali untuk keperluan media belajar atau ujian tertentu. Namun, tantangan utama justru berada di luar jam sekolah atau di lingkungan rumah.

“Teknologi memiliki banyak manfaat jika digunakan dengan tepat, dan kuncinya terletak pada batasan serta pengawasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh diakses oleh anak-anak,” demikian Yolanda.

Baca juga: Pelayanan KB gratis di Sampit Expo disambut antusias

Baca juga: Kapolres Kotim tekankan pentingnya literasi digital sejak dini

Baca juga: Masyarakat Kotim adu ketangkasan bagasing lestarikan kekayaan budaya warisan leluhur