Sampit (ANTARA) - Gelaran Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) 2026 kembali menghidupkan memori masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah terhadap permainan tradisional, salah satunya bagasing atau habayang bagi masyarakat suku Dayak Ngaju.

“Pertandingan ini bukan sekadar tentang adu ketangkasan atau menang kalah, tetapi juga sebagai salah satu upaya kita untuk terus melestarikan permainan tradisional yang menjadi warisan leluhur kita,” kata Kepala Bidang Kesenian dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Ahmad Santri di Sampit, Kamis.

Suara dengung kayu ulin berputar kencang mewarnai halaman gedung voli indoor, kawasan Stadion 29 November Sampit yang menjadi lokasi pelaksanaan FBBH 2026 yang sekaligus menjadi rangkaian kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kotim.

Lomba bagasing ini diikuti oleh lebih dari 18 tim yang datang dari berbagai kecamatan di wilayah setempat. Para peserta saling pamer kebolehan, mulai dari teknik melempar gasing agar berputar lama hingga teknik batikam atau mengadu gasing untuk menjatuhkan lawan.

Santri menyebut, lomba ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan upaya konkret dalam melestarikan permainan tradisional di tengah gempuran arus digital, seperti game online dan lainnya.

“Permainan bagasing ini juga sering kali dilaksanakan saat acara-acara penting, seperti menjelang panen raya. Makanya, kami terus berupaya melestarikannya. Nanti bekerja sama dengan ahlinya kami akan mengadakan pelatihan,” lanjutnya.

Ia menambahkan, meskipun peserta lomba permainan tradisional ini tergolong sedikit namun pihaknya mencatat adanya peningkatan minat peserta dibandingkan tahun sebelumnya. 

Meski permainan ini lebih populer di wilayah pedesaan, namun saat ini sekolah-sekolah di area perkotaan mulai aktif melestarikannya, salah satunya SMP Muhammadiyah Sampit. 

Hal ini pula yang terus didorong agar eksistensi permainan tradisional tetap bertahan seiring dengan perkembangan zaman.

“Harapan ke depan, kami bisa bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk memasukkan permainan tradisional ini ke dalam kurikulum muatan lokal. Tujuannya agar sejak bangku Sekolah Dasar, anak-anak kita sudah mencintai budaya ini,” tambahnya.

Baca juga: Sukses lampaui target, KSOP Sampit bertekad terus tingkatkan kinerja

Dalam lomba bagasing kali ini, Kecamatan Telaga Antang menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi dengan mengirimkan perwakilan peserta paling banyak, yakni sepasang putra dan sepasang putri.

Bukan hanya lomba bagasing, pihaknya juga mengikuti hampir seluruh lomba dalam FBHH kali ini, seperti lomba balogo, manyumpit, lawang sakepeng dan karungut.

Camat Telaga Antang Joko Ariyadi Setiawan menyatakan bahwa sebagai putra daerah memprioritaskan pelestarian kearifan lokal agar tidak tergerus kemajuan zaman. Baginya, kemenangan bukanlah target utama, melainkan eksistensi budaya Dayak itu sendiri.

“Kami tidak mengejar juara, yang terpenting adalah partisipasi agar budaya ini tetap eksis. Saya sendiri turun langsung memberikan motivasi kepada anak-anak muda di kecamatan agar mereka bangga memainkan permainan tradisional ini,” tuturnya.

Joko bercerita, bahwa di wilayah Kecamatan Telaga Antang yang rata-rata penduduknya merupakan warga asli Dayak, permainan tradisional masih sering dimainkan, baik oleh orang tua hingga anak-anak.

Bagi masyarakat Dayak, bagasing bukan sekadar permainan, melainkan memiliki filosofi mendalam yang berkaitan dengan siklus pertanian. 

“Masyarakat kami biasanya bermain Bagasing menjelang panen raya. Filosofi dari nenek moyang adalah agar padi yang ditanam bisa berisi dan bulat sempurna seperti gasing, tidak kempes dan terhindar dari hama,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya sangat mendukung setiap penyelenggaraan yang bertema pelestarian budaya, khususnya permainan tradisional. Semangat ini pula yang terus ia tanamkan pada masyarakat di wilayahnya.

Ia pun berharap agar lomba permainan tradisional seperti ini bisa lebih sering digelar, misalnya setiap enam bulan sekali, guna memastikan api kelestarian budaya tetap menyala di Bumi Habaring Hurung.

“Karena ini adalah ciri khas orang Dayak maka harus kita lestarikan. Jangan sampai hilang ciri khas itu, itu harapan kami,” demikian Joko.

Baca juga: Job Fair Sampit 2026 sediakan ratusan lowongan pekerjaan

Baca juga: Juan Reza sukses pukau pengunjung Sampit Expo di tengah guyuran hujan

Baca juga: DPRD apresiasi kinerja pemkab di HUT ke 73 Kotim