Sampit (ANTARA) - Pedagang ayam di Pasar Ikan Mentaya (PIM) dan Pasar Keramat Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengeluhkan omzet mereka anjlok hingga 70 persen setelah maraknya penjual ayam dadakan yang bermunculan di pinggir sejumlah ruas jalan.
"Kalau dibandingkan dulu, sekarang ini paling sekitar 30 persen sisanya, sedangkan 70 persennya hilang. Kami bertahan karena kami perlu makan," kata Yani, pedagang ayam di PIM Sampit, Jumat.
Yani tak bisa menyembunyikan kekecewaan dan kegundahannya. Dia mengaku mulai kehilangan harapan karena berulang kali aspirasi disampaikan, namun belum ada tindakan nyata sebagai solusi dari pemerintah daerah.
Yani dan pedagang lainnya berharap pedagang ayam yang bermunculan di pinggir jalan diterbitkan dan diarahkan masuk berjualan ke dalam pasar seperti mereka. Dengan begitu masyarakat akan kembali berbelanja di pasar sehingga transaksi kembali ramai dan omzet meningkat.
Saat ini omzet per hari di PIM ketika sepi pembeli, ayam yang terjual berkisar 30 sampai 50 kilogram, sedangkan ketika ramai bisa mencapai 100 kilogram. Namun jumlah itu, menurut Yani, turun drastis dibanding dulu dirinya bisa menjual 300 hingga 400 kilogram ayam potong dalam sehari.
Yani yang sudah berjualan di PIM Sampit sejak 2001 silam, mengakui urusan rezeki memang sudah diatur Yang Maha Kuasa. Namun menurutnya, setidaknya ada upaya pemerintah daerah menata dan menertibkan agar kehadiran pedagang dadakan tersebut tidak semakin merugikan pedagang resmi di pasar.
"Kami ini resmi. Bayar lapak dan retribusi. Kami berkontribusi terhadap daerah, sementara mereka enak berjualan di pinggir jalan. Belum lagi limbahnya itu bagaimana. Ini harusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah," keluh Yani.
Baca juga: Sinergi BKSDA Sampit dan warga selamatkan anak trenggiling
Yani sangat menyayangkan situasi ini dibiarkan berlarut-larut. Selain menggerus dan merugikan pedagang resmi di pasar, kehadiran pedagang ayam dan ikan di pinggir jalan tentu membuat pemandangan Sampit menjadi kumuh.
Saat ini banyak pedagang resmi di pasar yang akhirnya tumbang tidak mampu bertahan. Bahkan di PIM, Pasar Keramat dan lainnya, kini puluhan lapak sudah ditinggalkan pedagang sehingga membuat aktivitas di pasar terus menurun dan semakin sepi.
"Kondisi seperti ini kan juga merugikan pemerintah daerah karena kehilangan pendapatan retribusi karena pedagang di pasar terus berkurang. Harusnya pemerintah bisa mengatur dan menempatkan mereka pedagang dadakan itu ke dalam pasar,” ujar Yani.
Yani dan pedagang lainnya menunggu keseriusan pemerintah daerah menyelesaikan masalah ini. Jika ini tidak menjadi perhatian, dia khawatir kondisinya semakin parah dan akan menimbulkan masalah baru di berbagai bidang.
Sementara itu, saat ini harga ayam potong di PIM Sampit untuk ayam potong utuh Rp37 ribu per kilogram sedangkan harga ayam bersih tanpa kaki Rp40 ribu per kilogram. Sementara itu harga daging sapi Rp150 ribu per kilogram, dinilai stabil meski terbilang tinggi.
"Ini harga sekarang. Belum tahu nanti menjelang Ramadhan. Tapi selama pasokan lancar dan agen tidak menaikkan harga, saya rasa stabil saja. Masalahnya, ayam kita ini kan didatangkan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan sana. Jadi harga sangat tergantung turun naik harga di sana juga," demikian Yani.
Baca juga: Disdik Kotim usut dugaan pungli Komite Sekolah
Baca juga: Panginan Sukup Simpan simbol ketahanan pangan dan warisan leluhur di Kotim
Baca juga: Disdik Kotim pangkas durasi belajar sekolah selama Ramadhan