Sampit (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mengintensifkan upaya penanggulangan wilayah rawan kekeringan dengan menggabungkan dua strategi guna menjaga produktivitas pertanian.

“Untuk mengantisipasi kekeringan, kami dari DPKP Kotim ada dua strategi yang kami satukan dan kombinasikan, yaitu pembangunan infrastruktur air dan penerapan teknik budidaya adaptif agar produktivitas pertanian tetap terjaga,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan DPKP Kotim Yulita di Sampit, Minggu.

Ia menjelaskan, upaya mitigasi dilakukan seiring dengan dirilisnya data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kotim mengenai musim kemarau yang diprediksi mulai terjadi pada Juni hingga akhir September mendatang.

Dari data tersebut, disampaikan pula bahwa tingkat kekeringan pada musim kemarau tahun ini cukup tinggi karena adanya pengaruh El Nino moderat. Kondisi ini dikhawatirkan juga akan berdampak pada pertanian di Kotim.

Oleh karena itu, DPKP Kotim melakukan langkah-langkah konkret guna meminimalkan dampak dari kekeringan tersebut. Pertama-tama pihaknya melakukan pemetaan terhadap wilayah pangan rawan kekeringan.

“Ada dua wilayah pangan rawan kekeringan di Kotim, yakni Kecamatan Teluk Sampit dengan luas lahan sawah 8.565 hektare dan potensi produksi 36.615 ton gabah kering panen (GKP), serta Kecamatan Mentaya Hilir Selatan seluas 765 hektare dengan potensi 2.827 ton GKP,” paparnya.

Ia melanjutkan, selain dua wilayah tersebut, kawasan lain seperti Pulau Hanaut dan sejumlah kecamatan lain juga memiliki potensi terdampak kekeringan, meski dalam skala yang berbeda.

Dalam mengatasi persoalan tersebut, pihaknya menerapkan dua metode, yakni pembangunan infrastruktur air dan teknik budidaya adaptif. Pendekatan ini diharapkan mampu mengantisipasi risiko perubahan iklim seperti kekeringan.

Baca juga: DPRD Kotim desak kepolisian segera tuntaskan kasus penganiayaan Camat MHU

Untuk infrastruktur, DPKP Kotim telah menyiapkan pompanisasi yang berfungsi mengalirkan air dari sumber terdekat seperti sungai. Sistem ini memiliki jarak hisap sekitar 7–8 meter dengan kapasitas pompa yang disesuaikan dengan luas lahan, rata-rata 1 liter per 0,5 hingga 1 hektare.

Sumur bor juga menjadi solusi alternatif dengan memanfaatkan air tanah dalam. Kedalaman pengeboran berkisar antara 20 hingga 100 meter tergantung kondisi tanah di masing-masing wilayah.

Lalu, ada embung di wilayah Kecamatan Mentaya Hilir, sebagai tempat penampungan air untuk cadangan selama musim kemarau. 

Lokasi yang dipilih berupa cekungan dan tekan dengan lahan pertanian. Embung ini dirancang mampu memenuhi kebutuhan air selama satu hingga dua bulan.

“Semua metode ini sudah kami sosialisasikan kepada petani, baik untuk tanaman padi maupun palawija, agar mereka siap menghadapi kondisi kekeringan,” ujarnya.

Berikutnya, teknik budidaya adaptif, yakni strategi pengelolaan pertanian, baik itu perikanan maupun perkebunan yang disesuaikan secara fleksibel untuk mengantisipasi risiko dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir dan serangan hama penyakit guna mempertahankan produktivitas pertanian.

Dari sisi teknik budidaya ini, petani dianjurkan menggunakan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan seperti padi Inpago 8, jagung Bisi 18 dan cabai rawit Dewata 43. Varietas tersebut dinilai lebih cocok terhadap kondisi lahan kering tanpa genangan air.

Disamping itu, pengaturan jarak tanam yang lebih renggang dan pengolahan tanah minimum juga diterapkan untuk menjaga kelembaban tanah selama musim kemarau.

“Petani juga didorong menggunakan mulsa dari jerami atau daun kering guna mengurangi penguapan air serta menjaga kelembaban tanah. Teknik ini dinilai efektif dalam mempertahankan ketersediaan air di lahan pertanian,” tambah Yulita.

Baca juga: Dinkes Kotim siagakan tenaga medis dan logistik hadapi kemarau panjang

Kemudian, penyesuaian jadwal tanam turut menjadi bagian penting dalam strategi ini. Secara umum, terdapat tiga musim tanam, yakni Oktober–Januari, Februari–Maret, serta Juni–September yang bertepatan dengan musim kemarau.

Penentuan jadwal tanam ini mengacu pada Kalender Tanam Terpadu (Katam) yang berbasis data dari BMKG, sehingga lebih akurat dalam menghadapi dinamika cuaca.

Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak musim kemarau terjadi pada Agustus. Oleh karena itu, petani disarankan untuk menanam palawija atau melakukan tumpang sari pada musim tanam ketiga, sementara tanaman padi dapat diistirahatkan jika kondisi terlalu kering.

Ia menegaskan, kekeringan merupakan ancaman serius bagi sektor pertanian, terutama dalam upaya menjaga ketahanan pangan yang menjadi target pemerintah dalam lima tahun ke depan.

“Antisipasi kekeringan tidak hanya soal ketersediaan air, tetapi juga bagaimana kita bijaksana menerapkan teknologi dan metode yang ada agar petani mampu melewati musim kemarau dengan baik,” tegasnya.

Pihaknya juga mendorong penggunaan teknologi sederhana seperti mulsa hingga penerapan sistem hidroponik untuk tanaman hortikultura sebagai alternatif di tengah keterbatasan air.

DPKP Kotim memastikan berbagai upaya akan terus dilakukan secara maksimal, mulai dari penyediaan infrastruktur hingga pendampingan kepada petani di lapangan.

“Pada akhirnya, selain ikhtiar yang kita lakukan, kita juga berharap dan berdoa agar musim kemarau tidak berlangsung panjang sehingga tidak menyebabkan gagal panen atau tanaman mati total,” demikian Yulita.

Baca juga: Legislator Kotim minta pemkab perkuat literasi masyarakat terkait pinjol ilegal

Baca juga: Ratusan pelajar SD di MB Ketapang bersaing dalam olimpiade 2026

Baca juga: Bulog Kotim ajak pedagang dan masyarakat jadi mitra penyaluran Minyakita