
DPKP Kotim ajak perusahaan sawit optimalkan integrasi sapi-sawit

Sampit (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mengajak perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan kelapa sawit di daerah itu untuk mengoptimalkan peternakan sapi dengan Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (Siska).
"Potensinya sangat besar. Kalau perusahaan mau mendukung ini, saya sangat yakin kita bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan daging dan harganya bisa lebih murah dari sekarang," kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timur, Yephi Hartady di Sampit, Jumat.
Harapan itu disampaikan Yephi di hadapan puluhan perwakilan perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sengaja mengundang perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk berkoordinasi terkait optimalisasi pengembangan sapi melalui Siska.
Saat ini harga daging sapi di Sampit Rp140.000 per kilogram, bahkan usai Lebaran Idul Fitri lalu sempat mencapai Rp170.000 per kilogram. Tingginya harga daging sapi disebabkan sebagian kebutuhan sapi di daerah ini masih dipasok dari luar daerah seperti Kalimantan Selatan, Jawa dan lainnya.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Yephi sejak dilantik menjadi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pada Februari lalu. Untuk itu dia mencoba mengajak perusahaan besar perkebunan kelapa sawit untuk mengoptimalkan program Siska.
Program ini diakui sudah ada cukup lama, bahkan saat ini sudah ada sejumlah perusahaan sawit yang menjalankan integritas sapi-sawit. Namun menurutnya, program ini perlu dioptimalkan agar Kotawaringin Timur bisa mandiri, bahkan swasembada daging sapi.
Potensinya sangat besar. Yephi menyebut, saat ini ada sekitar 400.000 hektare kebun sawit di Kotawaringin Timur yang dikelola 56 perusahaan, terdiri dari 40 perusahaan yang konsesinya di wilayah Kotawaringin Timur dan 16 perusahaan yang konsesinya lintas kabupaten.
Baca juga: BMKG Kotim imbau masyarakat waspada bencana hidrometeorologi
Dengan tutupan kebun sawit sekitar 25 persen dari luas wilayah Kotawaringin Timur, maka kabupaten ini mempunyai potensi sangat besar untuk mengembangkan peternakan sapi dengan Siska.
Ini menjadi modal besar karena sudah tersedia pakan alami di areal perkebunan kelapa sawit. Polanya diserahkan kepada perusahaan masing-masing untuk menerapkan sistem ekstensifikasi, intensifikasi atau semi intensifikasi.
"Target saya tidak muluk-muluk. Dari 56 perusahaan ini, kalau kita bisa mengondisikan sekitar 20 PBS saja untuk mengaktifkan kemitraan dengan menjalankan program Siska di tahun pertama, itu sudah luar biasa," timpal Yephi.
Sementara itu saat sesi dialog, beberapa aspirasi disampaikan perwakilan perusahaan. Salah satunya adalah meminta agar ada ketegasan terkait regulasi atau aturan pengembangan Siska sehingga menjadi payung hukum bagi perusahaan untuk menjalankan program tersebut secara legal dan aman.
Menanggapi itu, Yephi menyampaikan bahwa Siska merupakan tindak lanjut dari arahan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang sudah melaksanakan nota kesepakatan atau MoU dengan Kementerian Pertanian, dalam hal ini Dirjen Perkebunan dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Dari situ, pemerintah provinsi meminta masalah ini ditindaklanjuti oleh masing-masing kepala daerah untuk melaksanakan MoU lagi dengan PBS. Pemerintah daerah mengajak PBS bermitra supaya program Siska ini bisa berjalan dengan baik.
"Saat ini harga pangan untuk komoditas protein relatif tinggi dan tidak stabil. Tapi kalau kita punya ketersediaan stok lokal yang memadai, kita punya kendali harga pasar," demikian Yephi Hartady.
Baca juga: Satgas Pangan Kotim sidak pasar untuk jaga stabilitas harga
Baca juga: Kemenhaj Kotim matangkan persiapan keberangkatan JCH 2026
Baca juga: DPRD Kalteng sebut blank spot di Kotim kini hampir hilang
Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
