Logo Header Antaranews Kalteng

Satgas Pangan Kotim sidak pasar untuk jaga stabilitas harga

Jumat, 10 April 2026 16:04 WIB
Image Print
Satgas Saber Pangan Kotim melakukan sidak pasar untuk memantau harga dan ketersediaan bahan pokok, Jumat (10/4/2026). ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, melalui Satuan Tugas (Satgas) Pangan melakukan inspeksi dadakan (sidak) terhadap harga dan ketersediaan barang di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) dan Pasar Keramat, Kota Sampit.

"Kegiatan hari ini bertujuan untuk melakukan pemantauan terhadap harga maupun kesediaan bahan pokok pangan yang ada di Kotim, khususnya Kota Sampit," kata Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotim Rafiq Riswandi di Sampit, Jumat.

Rafiq memimpin sidak yang melibatkan antara lain Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kotim, Bulog Cabang Kotim, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait lainnya.

Sidak ini menyasar dua lokasi yang menjadi rujukan BPS Kotim dalam memantau perkembangan harga. Langkah ini diambil untuk melihat sejauh mana tingkat ketersediaan komoditas guna menjaga dan menstabilkan inflasi di daerah tersebut.

Melalui peninjauan lapangan ini, Rafiq berharap muncul sinergisitas yang kuat antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan para pelaku usaha. Hal ini penting demi menjaga keseimbangan antara pasokan barang yang masuk dengan harga yang berlaku di pasar.

“Kita berharap dengan kegiatan ini semua harga-harga bisa kita kendalikan, inflasi tidak terlalu tinggi naiknya dan insyaallah tetap terkendali sehingga harga tetap terjangkau oleh masyarakat," ujar Rafiq.

Berdasarkan pantauan di dua pasar tersebut, ditemukan bahwa beberapa komoditas pangan memang mengalami kenaikan harga, namun yang paling dikeluhkan masyarakat maupun pedagang justru berasal dari komoditas plastik.

Tak tanggung-tanggung kenaikan harga plastik ini ada yang mencapai 100 persen, ada pula yang 20-50 persen tergantung jenisnya, seperti plastik cup, plastik kresek, hingga plastik yang biasa untuk mengemas gula pasir kiloan.

Keterangan dari pedagang, kenaikan harga plastik ini mengikuti perkembangan harga dari distributor di Pulau Jawa serta kenaikan biaya ekspedisi. Pasalnya, bahan baku untuk pembuatan plastik mengalami kelangkaan yang berdampak pada harga produk jadi.

"Kita di Kotim tidak memproduksi plastik, semua didatangkan dari Pulau Jawa dan keterangan dari pedagang kenaikan harga ini sudah dari agennya sana ditambah dengan ongkos ekspedisi yang juga naik. Hal ini juga akan menjadi pembahasan kami bersama tim nanti," ungkapnya.

Selain plastik, komoditas daging sapi juga mengalami fluktuasi harga yang cukup dinamis. Sebelum Ramadhan harga daging sapi berkisar Rp150.000 per kilogram, lalu menjelang Lebaran sempat menyentuh angka Rp180.000 per kilogram, saat ini harga daging sapi mulai berangsur turun ke level Rp160.000 per kilogram.

Meski turun, harga daging ini diperkirakan akan bertahan lama di angka Rp160.000, bahkan kemungkinan menjadi harga normal yang baru. Pasalnya, kenaikan harga sapi hingga biaya Rumah Potong Hewan (RPH) menjadi penyebab kenaikan tersebut.

Terkait harga daging, pemerintah daerah berencana untuk menjalin komunikasi lebih lanjut dengan para pemasok. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu penyebab pasti harga yang masih bertahan di atas harga normal sebelum Lebaran.

"Kemudian, komoditas yang juga naik adalah beras, khususnya beras pera jenis Siam Epang. Karena panennya hanya satu tahun sekali dan sekarang penanamannya sudah berkurang. Tapi kenaikannya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar Rp1000-Rp2000 dibanding sebelumnya," lanjutnya.

Selanjutnya, minyak goreng subsidi merek Minyakita juga ditemukan ada kenaikan dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 menjadi Rp17.000. Untuk itu, Satgas Pangan berencana melaksanakan sidak lanjutan dengan menyasar agen dan distributor pangan.

Baca juga: Kotim tanam padi serentak 284 hektare di lahan Cetak Sawah Rakyat

Sebaliknya, harga cabai rawit dan bawang merah justru menunjukkan tren penurunan yang positif. Bawang merah yang sebelumnya dibandrol Rp48.000 per kilogram, kini sudah turun menjadi Rp45.000 di tingkat pengecer. Sementara cabai rawit yang sempat tembus Rp150.000 per kilogram sebelum hingga pasca Lebaran, kini berangsur turun ke angka Rp100.000.

Meski plastik mengalami lonjakan harga yang signifikan Rafiq menegaskan bahwa hal tersebut tidak berpengaruh besar terhadap inflasi. Pemerintah lebih fokus pada sembako yang menjadi kebutuhan pokok utama masyarakat.

"Jujur yang sangat mempengaruhi kita adalah sembako. Kalau plastik bukan bagian kebutuhan pokok, jadi tidak terlalu banyak berpengaruh karena masyarakat bisa menggunakannya berulang kali," tegasnya.

Sebagai langkah konkret menjaga daya beli, Pemda Kotim akan segera melakukan intervensi pasar melalui program gerakan pangan murah atau pasar penyeimbang seperti yang biasa dilakukan.

Selain itu, pihaknya mempertimbangkan melibatkan BUMD untuk membuka unit usaha semacam minimarket dengan harga yang lebih miring, namun hal ini masih perlu pembahasan lebih lanjut.

Baca juga: DPRD Kotim dorong peran PBS wujudkan pemerataan listrik desa

"Langkah paling jangka pendek adalah pasar murah. Ke depan kita berupaya mengambil terobosan melibatkan BUMD untuk membuka tempat usaha yang harganya lebih murah sebagai pembanding harga pasar," demikian Rafiq.

Disisi lain, seorang pedagang sembako di Pasar PPM Sampit mengaku kesulitan mendapatkan stok minyakita dari Bulog. Untuk itu, dirinya harus mengambil barang minyakita dari agen biasa yang harganya jauh lebih tinggi dibandingkan mengambil di Bulog.

Disamping, harga yang lebih tinggi, pembelian dari agen juga dibatasi. Akhirnya karena modal awal sudah tinggi, ia pun menjual minyakita Rp17.000 per liter di atas HET.

"Biasanya kami jual Rp16.000, tapi ini Rp17.000 karena pengambilannya dibatasi dan harganya lebih mahal di agen," beber pedagang tersebut.

Baca juga: DPRD Kotim tekankan loyalitas atlet jelang Porprov XIII Kalteng

Baca juga: BMKG Kotim imbau masyarakat bersiap hadapi kemarau panjang

Baca juga: KONI pastikan Kotim tetap ikut Porprov Kalteng meski anggaran belum cair



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026