Sampit (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengapresiasi peran generasi mudah yang dinilai tetap menunjukkan komitmen dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah di tengah kuatnya pengaruh modernisasi dan budaya luar.

“Kita tidak bisa memungkiri bahwa dunia globalisasi saat ini membawa gempuran budaya-budaya luar. Tetapi kita masih bangga, masih ada generasi muda yang perhatian terhadap budaya kita dengan berkembangnya sanggar-sanggar tari dan kesenian adat Dayak saat ini,” kata Kepala Disbudpar Kotim Ramadansyah di Sampit, Minggu.

Ramadansyah mengungkapkan rasa syukurnya terhadap keterlibatan generasi muda yang terus aktif di berbagai kegiatan seni budaya. Peran aktif mereka menjadi harapan bagi keberlangsungan warisan budaya daerah.

Hal ini dapat dilihat dari cukup banyaknya sanggar seni menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk menyalurkan minat sekaligus memperdalam pemahaman terhadap budaya lokal agar tetap terarah.

Disbudpar Kotim telah mencatat sekitar 123 sanggar seni dan budaya yang aktif di wilayah Bumi Habaring Hurung saat ini, baik dalam maupun luar kota, dan jumlah tersebut berpotensi terus meningkat seiring tingginya minat masyarakat.

“Saat ini sanggar yang sudah terdata di Disbudpar sekitar 123 sanggar. Ini tidak menutup kemungkinan kedepannya akan semakin bertambah. Bahkan baru kemarin saya menerima surat permohonan operasional salah satu sanggar di Kotim,” ujarnya.

Ramadansyah menilai, antusiasme generasi muda dalam mengembangkan seni budaya Dayak menjadi indikator positif bagi keberlanjutan pelestarian budaya daerah. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa generasi muda Kotim masih perhatian terhadap budaya daerah.

Baca juga: Pemkab Kotim edukasi penyedia usaha lokal cara bertransaksi daring di Mbizmarket

Kedepannya, Disbudpar Kotim berencana melakukan pendataan lebih rinci terkait jumlah anggota di setiap sanggar sebagai bagian dari upaya pembinaan dan pengembangan.

“Nanti kami akan mendata berapa jumlah anggota sanggar itu. Harapan kita generasi muda terus melestarikan budaya adat Dayak,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan kedekatannya dengan dunia seni budaya Dayak. Saat masih muda, Ramadansyah pernah aktif sebagai pemain musik etnik di Sanggar Habaring Hurung dan tampil di berbagai panggung nasional.

“Saya dulu pernah ikut di Sanggar Habaring Hurung sebagai pemain musik etnik Dayak. Pernah tampil di Gedung Kesenian Jakarta dan juga di Gedung Cak Durasim Surabaya,” kenangnya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan seni semata, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kesantunan dan karakter masyarakat yang harus terus dijaga.

Ia berharap budaya Dayak terus diwariskan kepada generasi muda seiring dengan cerminan nilai kesantunan dan perilaku masyarakatnya.

“Karena budaya ini erat kaitannya dengan sikap dan perilaku kita yang mencerminkan kesantunan,” demikian Ramadansyah.

Baca juga: Kajari Kotim ingatkan kades pentingnya memahami aturan penggunaan DD

Baca juga: Respons cepat warga dan petugas selamatkan Lutung terluka di Sampit

Baca juga: SD Alam Bumi Khatulistiwa diharap kembalikan kejayaan emas hijau di Kotim