
BPBD Kotim prioritaskan Teluk Sampit dalam mitigasi karhutla

Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, memprioritaskan Kecamatan Teluk Sampit dalam upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), lantaran wilayah tersebut dinilai memiliki tingkat kerawanan paling tinggi.
“Kamis kemarin kami juga sudah melakukan pertemuan internal dengan Kecamatan Teluk Sampit, yang mana Kecamatan Teluk Sampit itu adalah daerah risiko tinggi karhutla dan sudah kolaborasi juga baik aparat kecamatan, para kepala desa, serta tiga perusahaan yang ada di sana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Selasa.
Ia menjelaskan, pertemuan itu bertujuan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan menghasilkan komitmen bersama dalam penanggulangan ancaman karhutla.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah pembangunan sumur artesis guna memastikan ketersediaan air di wilayah rawan. Mengingat wilayah selatan Kotim tersebut didominasi lahan gambut yang sangat mudah terbakar saat kering dan sulit dipadamkan.
“Kami membangun komitmen bersama untuk penanggulangan karhutla dan alhamdulillah, mudah-mudahan itu bisa kita tanggulangi dengan pembuatan sumur-sumur artesis di sana,” ujarnya.
Selain ancaman karhutla, dalam pertemuan itu Multazam juga membahas terkait potensi kekeringan yang juga menjadi perhatian serius, karena biasanya berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat setempat.
Multazam mengungkapkan, berdasarkan informasi dari Kepala Desa Ujung Pandaran, sumber air dengan kedalaman sekitar delapan meter saat ini masih layak konsumsi. Akan tetapi, kondisi tersebut belum tentu bertahan saat musim kemarau tiba.
Apalagi, berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa tahun ini Kotim akan mengalami kemarau yang cukup panjang, yakni sekitar 120 hari atau empat bulan.
“Informasi dari kepala desa itu berlaku untuk saat ini, tapi bagaimana pada saat musim kemarau itu yang belum bisa kita pastikan. Mudah-mudahan apa yang kita akan hadapi ini bisa kita tanggulangi,” ujarnya.
Baca juga: Tren hobi baru terrarium di Sampit punya peluang ekspor
Dalam hal kekeringan ini, selain Teluk Sampit, pihaknya juga menaruh perhatian pada Kecamatan Pulau Hanaut yang dinilai memiliki tantangan berbeda terkait ketersediaan air bersih.
Berdasarkan hasil pemetaan sebelumnya, sebagian besar air tanah di kecamatan yang berada di wilayah pesisir tersebut tersebut tidak layak konsumsi.
“Jadi harapan kita tinggal air dari dalam hutan yang turun, kemudian dilakukan sekat-sekat dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” tambahnya.
Ia melanjutkan, BPBD Kotim berencana melakukan koordinasi dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan untuk membantu pasokan air bersih untuk Kecamatan Pulau Hanaut.
Selain beberapa kecamatan di atas, Multazam juga menyebutkan beberapa kecamatan yang rawan karhutla, yakni Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Mentawa Baru Ketapang, Baamang dan Cempaga.
Selanjutnya, pihaknya akan berkoordinasi dengan setiap kecamatan guna memetakan kebutuhan pembiayaan di masing-masing wilayah dalam menghadapi potensi karhutla dan kekeringan. Sebab, pendekatan penanggulangan bencana harus dimulai dari tingkat paling bawah agar lebih efektif.
“Kami berharap operasi penanggulangan bencana karhutla dan bencana kekeringan ini bisa dimulai dari satuan bawah, dari desa kemudian naik ke kecamatan, baru ke kabupaten,” demikian Multazam.
Baca juga: DPRD Kotim dorong pemkab berikan solusi terkait Jembatan Patah
Baca juga: Seorang pelajar di Parenggean Kotim tenggelam saat mandi
Baca juga: Pemkab dan DPRD Kotim sepakati Raperda PSU
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
