
Petani Kalteng Diminta Rubah Pola Produksi

Petani banyak mengalihfungsikan lahan pertanian tanaman pangan menjadi tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet, sehingga keinginan untuk menanam padi semakin kecil,"
Palangka Raya,24/4 (Antara) - Dekan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya (Unpar) Yusurum Jagau menilai petani di Kalimantan Tengah perlu merubah pola produksi agar mampu meningkatkan produktivitasnya.
Menurut Yusurum di Palangka Raya, Rabu, kebanyakan petani di Kalteng masih melakukan aktivitas bertani, khususnya tanaman pangan, hanya untuk tujuan memenuhi kebutuhan pangan keluarga, bukan untuk produksi skala besar.
"Akibatnya produktivitas selalu rendah dan kurang spekulatif," katanya.
Selain itu, kata dia petani juga kurang memanfaatkan teknologi pertanian dengan baik yang mana banyak strategi pertanian yang dianjurkan kepada petani, namun sangat sedikit yang menerapkannya sesuai arahan, sehingga hasilnya tidak optimal.
Menurut Yusurum, selain pola produksi kolot, petani juga dihadapkan dengan tuntutan konversi lahan pertanian dengan harapan keuntungan yang jauh lebih besar.
"Petani banyak mengalihfungsikan lahan pertanian tanaman pangan menjadi tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet, sehingga keinginan untuk menanam padi semakin kecil," katanya.
Dia menyatakan, mengecilnya kesadaran petani untuk produksi tanaman pangan diperparah dengan kebijakan pemerintah kurang berpihak.
Petani masih kesulitan mencari bahan-bahan pendukung pertanian, khususnya pupuk sementara itu distribusi pupuk oleh pemerintah tidak tepat sasaran.
Selanjutnya kata dia, pengaruh pasar global juga sangat terlihat. Harga komoditas pertanian impor sering kali lebih murah dibanding produksi lokal.
Sementara pengawasan dari pemerintah juga tidak tegas tentang pembatasan impor, akibatnya petani takut melakukan produksi skala besar.
Menurut penelitian yang telah dilakukan Fakultas Pertanian Unpar, dan juga penelitian oleh sejumlah pemerhati pertanian, tingkkat kesuburan tanah di Kalteng tergolong sangat rendah dibanding Pulau Jawa atau Sumatera.
"Tapi bagaimanapun kondisi tanahnya, semua bisa diolah menjadi lebih baik jika petani melakukannya dengan strategi yang tepat," katanya.
(T.KR-OSL/B/S025/C/S025)
Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
