
Pemkab Kotim Diminta Motori Pelestarian Anggrek Tebu

Sampit, Kalteng, 20/5 (Antara) - Masyarakat meminta Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi motor pelestarian anggrek tebu yang merupakan khas daerah ini yang kini mulai langka dan hampir punah.
"Harus ada gerakan nyata yang dimotori oleh pemerintah daerah untuk menyelamatkan anggrek tebu ini dari kepunahan, apalagi kan sekarang klaim anggrek tebu sebagai anggrek khas Kotawaringin Timur kembali digaungkan. Jadi, aneh kalau dijadikan ikon daerah tapi anggreknya sendiri sulit didapat," ucap Andi, salah seorang pecinta anggrek di Sampit, Senin.
Menurutnya, saat ini mungkin masih ada sebagian masyarakat yang memelihara anggrek yang oleh masyarakat Dayak disebut dengan anggrek tewu tersebut. Namun jika hanya mengandalkan pecinta anggrek, maka dikhawatirkan akan lambat karena jumlahnya pasti terbatas, sementara ancaman kepunahan anggrek berwarna kuning ini makin nyata seiring makin terdegradasinya hutan di Kotawaringin Timur.
Dia berharap pemerintah memberi perhatian terhadap masalah ini sebelum terlambat. Dengan melestarikan anggrek tebu maka pemerintah daerah telah menyelamatkan ikon daerah sekaligus bisa kembali mempromosikannya kepada masyarakat luas, termasuk kepada pendatang dari luar daerah.
"Saya yakin banyak masyarakat kita yang masih asing dengan nama anggrek tebu, apalagi melihatnya. Saat Sampit Expo lalu saya lihat ada anggrek tebu di stan pemerintah daerah, tapi itu juga cuma batang tebunya saja, sedangkan anggreknya tidak ada," ucap Andi.
Harapan serupa juga disampaikan Omas, pecinta anggrek lainnya. Dia berharap makin banyak masyarakat yang memelihara anggrek tebu sehingga klaim atas ikon anggrek berukuran besar ini semakin kuat. "Perawatannya tidak sulit, asal banyak kena sinar matahari langsung," ucap Omas memberi tips sesuai pengalaman dia memelihara anggrek tebu di rumahnya.
Jika di habitat aslinya di hutan, anggrek tebu bisa berbunga dua tahun sekali, namun ketika dipelihara di pekarang rumah, biasanya hanya berbunga sekali dalam setahun. Anggrek tebu masih bisa ditemukan di habitat aslinya di hutan-hutan di daerah Kotim dan sekitarnya.
Disebut anggrek tebu karena anggrek jenis ini memang memiliki batang persis seperti tebu. Tidak heran jika sepintas orang akan mengira tanaman tersebut adalah tebu. Namun jika sudah dewasa, maka batang anggrek akan muncul di tengah-tengah rumpun batang, menjulang tinggi bahkan bisa mencapai dua meter. Ketika berbunga, anggrek tebu terlihat sangat cantik dengan daun lebar didominasi warna kuning disertai bercak-bercak coklat.
Anggrek tebu kini dipatenkan menjadi motif batik khas Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur. Anggrek tebu mempunyai filosofi bahwa dia mudah tumbuh di mana saja berdampingan dengan tanaman lain, namun ketika berbunga maka dia akan menjadi perhatian karena terlihat lebih menarik.
(T.KR-NJI/B/F002/F002)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
