Logo Header Antaranews Kalteng

Ayo, masyarakat Kalteng cegah penyakit balita pendek

Kamis, 3 Mei 2018 22:38 WIB
Image Print
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Tengah, Kusnadi. (Foto Antara Kalteng/Norjani)

Sampit (Antaranews Kalteng) - Masyarakat Kalimantan Tengah diajak untuk lebih mengenali hal-hal tentang penyakit balita pendek atau `stunting` sehingga bisa melakukan pencegahan dan penanggulangannya sejak dini.

"Penyakit balita pendek ini harus menjadi perhatian kita bersama agar anak dan cucu kita tidak pendek secara fisik dan daya pikir," kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Tengah, Kusnadi di Sampit, Kamis.

Hal itu disampaikan Kusnadi saat peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat ke-15 di Desa Kenyala Kecamatan Telawang. Kegiatan itu juga dirangkai peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-46, Hari Keluarga Nasional ke-25 serta pencanangan Kampung KB tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur.

Penyakit balita pendek bisa terjadi mulai saat pertumbuhan janin. Penyebab utamanya adalah kurangnya asupan gizi oleh ibu hamil, terlebih yang menderita anemia, sehingga berdampak pada pertumbuhan janin.

Penyakit ini juga bisa terjadi saat balita baru lahir, yakni dengan pemicu umumnya juga sama yaitu kekurangan gizi. Untuk itulah pemerintah membuat program fokus 1000 hari pertama kelahiran, yaitu sejak janin sampai bayi berusia dua tahun.

Jenis penyakit ini jangan dianggap sepele. Tidak hanya terkait tubuh anak yang lebih pendek dibanding anak seusianya, penyakit ini juga bisa mempengaruhi tingkat kecerdasan sang anak yang bisa lebih rendah dibanding anak lainnya.

Cara yang bisa dilakukan mencegah penyakit ini adalah melaksanakan gerakan masyarakat hidup sehat. Pemenuhan gizi keluarga harus tercukupi, khususnya bagi ibu hamil dan balita.

Tahun 2018 ini pemerintah mencanangkan program penanganan `stunting` di 100 kabupaten dan 1000 desa. Kalimantan Tengah akan mendapatkan jatah menetapkan satu kabupaten dan 10 desa penanganan `stunting`.

"Tapi bukan berarti kabupaten yang tidak ditunjuk dalam program itu tidak ada `stunting`. Pemerintah daerah harus memantau perkembangan balita setiap saat sehingga bisa dideteksi sejak dini dan dilakukan penanganannya," kata Kusnadi.

Orang tua berperan penting dalam mencegah dan menanggulangi penyakit balita pendek. Ketersediaan pemenuhan gizi menjadi hal utama yang harus dilakukan sebagai langkah pencegahan.

Pemeriksaan ibu hamil dan balita, harus dilakukan secara rutin sebagai upaya deteksi dini. Kusnadi mendorong semua pihak, seperti PKK dan organisasi kemasyarakatan untuk membantu pemerintah mencegah dan menanggulangi penyakit ini.



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026