Batu bara masih dibutuhkan di Indonesia, bisnisnya menjanjikan

id bisnis batu bara, batu bara

ist (istimewa)

Banda Aceh (Antaranews Kalteng) - Bisnis batu bara di Indonesia masih sangat menjanjikan, karena barang tambang tersebut merupakan bahan bakar utama untuk pembangkit listrik kapasitas besar.

"Kalau di Eropa mungkin sudah mulai ditinggalkan batu bara, karena diganti dengan energi terbarukan, namun di Indonesia untuk 30 hingga 50 tahun ke depan masih dibutuhkan," kata Direktur Keuangan dan SDM PT Satria Bahana Sarana (Bukit Asam Grup), M Hatta di Banda Aceh, Sabtu.

Berbicara pada seminar nasional "Pertambangan sebagai industri vital Indonesia", M Hatta menyatakan Indonesia masih banyak membutuhkan batu bara sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik.

"Program pemerintah membangun pembangkit listrik mencapai 35.000 MW sangat banyak membutuhkan batu bara," katanya.

Namun, ia menyampaikan untuk membangun industri batu bara memang banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama isu sosial.

Ia menyatakan untuk mengatasi isu sosial banyak yang bisa dilakukan. Misalnya PT (Persero) Bukit Asam mengelola sekolah di sekitar pabrik mulai TK, SD, SMP, hingga SMK yang semuanya gratis dan memberi beasiswa bagi siswa terbaik.  
Kemudian, lulusan SMK bisa dipekerjakan di PT Bakit Asam dan anak-anak perusahaannya, sehingga biaya perekrutan tenaga kerjanya murah.

"Jadi, sebenarnya CSR bukan lagi sebagai biaya, tapi investasi bagi perusahaan," katanya.

Selain itu, PT Bukit Asam akan mengembangkan kebun kelapa sawit seluas 8.000 hektare yang melibatkan masyarakat sekitar perusahaan.

"Dengan pengembangan kelapa sawit itu, PT Bukit Asam akan membangun industri bio disel," katanya.

Kemudian, yang lebih penting lagi, lanjut M Hatta, yang perlu dipikirkan adalah bagaimana setelah industri batu bara berakhir.

Ia mencontohkan di Sawah Lunto, Sumatera Barat. Industri batu bara di sana sudah tidak ada lagi, tapi daerah tersebut tetap hidup setelah dikembangkan menjadi daerah wisata dengan memanfaatkan peninggalan pabrik sebagai objek wisata.

Demikian juga di Tanjung Enim, PT Bukit Asam jauh-jauh hari sudah disiapkan, walaupun industri batu bara di daerah itu masih panjang.

Seminar yang digelar oleh Fakultas Teknik Jurusan Pertambangan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh itu menghadirkan beberapa pembicara, di antaranya Budi Antono (Dirut PT Dahana), Azizon Nursa (Manager CSR PT Mifa Bersaudara).  

Pewarta :
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar