Hangzhou, sekeping "surga" di China

id hangzhou,china,kota tercantik,asian para games,asian games

Hangzhou, sekeping  "surga" di China

Warga setempat memadati kawasan West Lake di Hangzhou, provinsi Zhejiang, China merayakan festival pertengahan musim gugur. (29/9/2023) (ANTARA/Aditya E.S. Wicaksono)

Hangzhou, China (ANTARA) - Ada kesan yang tak biasa ketika menyusuri jalanan kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, China, untuk pertama kalinya pada akhir bulan September.


Kala itu, Kamis petang yang dingin. Pendar lampu yang memamerkan 'kemolekan' gedung-gedung pencakar langit berdesain arsitektur modern di seberang Sungai Qiantang tersamarkan kabut yang menyelimuti cakrawala Hangzhou.

Udara yang segar, bercampur aroma tanah dan Green Leaf Volatile, wangi khas senyawa yang keluar dari rumput yang baru dipotong, seakan kontras dengan gambaran umum suatu kota besar.

Hangzhou bukanlah wilayah terpencil di Tiongkok, namun merupakan "megacity" dengan penduduk lebih dari 10 juta orang yang memadati salah satu provinsi terkaya di sana.

Sebagai kota terbesar kelima di China setelah Beijing, Shanghai, Guangzhou dan Shenzhen, Hangzhou di era modern ini paham betul bagaimana merencanakan dan membangun kota namun tak lupa memanusiakan warganya.

Di atas permukaan, jalan raya yang lebar dibangun dengan aspal kualitas wahid. Deretan pepohonan yang rindang dan tanaman bunga memanjakan para pejalan kaki di jalur pedestrian.

Jalanan bisa dibilang "senyap", jauh dari bising deru mesin dan knalpot karena hampir semua kendaraan roda dua yang lalu lalang adalah motor listrik, sementara mobil-mobil "hijau" menguasai jalur roda empat.

Di bawah tanah, sedikitnya 12 jalur kereta Hangzhou Metro membelah pusat kota dan menghubungkan sejumlah kota tetangga dan terintegrasi dengan stasiun kereta cepat hingga bandara.

Jaringan kereta bawah tanah itu serupa dengan MRT yang ada di Jakarta, hanya saja jauh lebih besar. Satu jalur Hangzhou Metro saja bisa melintasi 33 stasiun, dibandingkan 13 stasiun yang membentang dari Lebak Bulus ke Bundaran HI.

Ruang terbuka hijau juga tak terhitung banyaknya di antara deretan pencakar langit kota yang terletak di Delta Sungai Yangtze itu.


Napak tilas peradaban


Mengenali kota, awalan yang bagus adalah melihat sejarahnya.

Sekilas gambaran di atas, Hangzhou yang sekarang tidak dibangun dalam semalam.

Salah satu kota kuno di China itu memiliki sejarah lebih dari 2.000 tahun sejak masa kaisar pertama, Qin Shi Guang, yang juga membangun Tembok Besar sebelum mangkat ke peraduan dikelilingi pasukan terakota yang masyhur.

Namun, jejak tertua kegiatan manusia di Hangzhou terkuak pada November 2002 silam ketika ekskavasi di suatu desa di wilayah Danau Xianghu menemukan fosil dayung yang berusia lebih dari 8.000 tahun beserta sejumlah besar kerajinan gerabah, perkakas dari batu dan tulang.

Akan tetapi, para ahli mendapati awal peradaban di Hangzhou berada di suatu tempat yang bernama Liangzhu, di bagian utara kota.

Di sana ditemukan bekas kota kuno yang diperkirakan dibangun pada empat hingga lima ribu tahun yang silam. Penggalian lebih lanjut juga mendapati artefak-artefak yang terbuat dari batu giok dengan presisi dan teknik pahatan tingkat tinggi, menunjukkan betapa majunya peradaban prasejarah di Liangzhu.

Salah satu temuan yang paling terkenal adalah giok Cong, yang kini tersimpan di museum Liangzhu, sekira 24 km dari pusat Kota Hangzhou.
 
Jembatan Gongchen di Desa Tiangqi, Hangzhou, China (ANTARA/Aditya E.S. Wicaksono)


Dalam buku "This is Hangzhou" disebutkan bahwa struktur seperti pilar dengan bagian luar berbentuk persegi dan rongga dalam berbentuk lingkaran itu konon sebagai kanal yang menghubungkan surga dan dunia. Orang-orang China pada zaman dahulu memiliki kepercayaan bahwa surga itu berbentuk bundar dan dunia itu persegi.

Di setiap ruas pilar giok itu terukir pola wajah sosok yang dipercaya sebagai dewa yang disembah pada kebudayaan kuno Liangzhu.

Giok Cong itu pula yang menginspirasi desain salah satu maskot Asian Games Hangzhou 2022 yang bernama Congcong, dengan hiasan kepala bergambarkan pola wajah dewa dari artifak tersebut.

Reruntuhan kota kuno Liangzhou pun menjadi satu dari tiga situs di Hangzhou yang masuk ke dalam daftar Warisan Dunia UNESCO selain Danau Xi atau West Lake dan Terusan Besar Tiongkok


Kota tercantik di China

Menekan tombol “fast forward” dari peradaban Liangzhu ke beberapa ribu tahun ke depan, wajah Hangzhou kini menjelma menjadi pusat bisnis dan teknologi serta markas besar dari raksasa e-commerce Alibaba, tapi mampu mempertahankan reputasinya sebagai salah satu kota tercantik di China.

"Ada pepatah di China yang mengatakan, Surga di atas, Suzhou dan Hangzhou di bawahnya," kata Wan Wan, seorang pemandu wisata setempat.

Adagium itu menandakan bahwa pemandangan di Hangzhou dan kota tetangga Suzhou sangat indah hingga dibandingkan dengan surga.

Bahkan, penjelajah asal Italia, Marco Polo, yang datang ke kota itu pada abad ke-13 memuji Hangzhou sebagai kota paling indah di China. dan tidak ada orang yang pergi ke Hangzhou kemudian pulang tanpa mengunjungi West Lake terlebih dahulu.
 

Danau di sebelah barat pusat kota itu menyematkan namanya sebagai ikon keindahan di selatan sungai Yangzte pada era Dinasti Tang abad kesembilan berkat syair-syair Bai Juyi.

Bai Juyi merupakan seorang penyair kelahiran Henan di bagian tengah China yang kemudian pindah ke Hangzhou pada usia muda karena terkesan tak hanya dengan kota dan budayanya, namun juga alamnya.

Meskipun sebagai pendatang, berbekal kepiawaiannya merangkai kata-kata indah, Bai Juyi menemukan tangga kariernya sebagai wali kota Hangzhou.

Di banyak negara boleh jadi tidak banyak penyair yang menjadi pejabat, karena konon gaya kehidupan seniman yang bebas dan khali tidak cocok untuk mengemban tugas kantoran.

Akan tetapi, di China kuno, kemampuan merangkai puisi dan syair adalah syarat mutlak untuk menjadi pegawai negeri atau kerajaan. Calon-calon pegawai harus lolos tes tersebut.

Semasa hidupnya Bai Juyi menciptakan lebih dari 3.000 puisi dan syair dan 200 di antaranya menggambarkan tradisi, keindahan empat musim, gunung dan sungai di Hangzhou.

Berkeliling dengan jalan kaki maupun menaiki "ojek" perahu, para pengunjung kini dapat merasakan sendiri bagaimana Bai Juyi mengagumi air Danau Xi yang tenang dengan latar barisan pegunungan di sebelah barat.
 
Suasana He Fang Market di Hangzhou pada malam hari. (ANTARA/Aditya E.S. Wicaksono)
 

Selemparan batu ke arah timur danau, berdiri deretan toko berbagai jenama dalam maupun luar negeri di wilayah pedestrian terbuka layaknya Times Square di New York.

Stasiun Metro Longxiangqiao yang pada hari-hari biasa cukup ramai bisa berubah penuh sesak karena lautan manusia berbondong-bondong menuju West Lake untuk memandang bulan purnama pada festival pertengahan musim gugur pada hari ke-15 bulan kedelapan dalam kalender lunar China, yang tahun ini jatuh pada Jumat, 29 November.

"West Lake adalah warisan budaya dunia, yang berarti tak hanya menjadi milik warga Hangzhou, tapi juga milik kalian," kata Wan Wan.


Urat nadi kehidupan

Sekira 50 menit perjalanan darat di utara West Lake, kota tua Tiangqi menjadi saksi bagaimana Hangzhou yang tadinya hanyalah "county" kecil yang tersembunyi di balik pegunungan menjadi pusatnya perdagangan.

Di antara deretan rumah-rumah tradisional yang menjajakan berbagai pernak-pernik dan makanan khas setempat, berdiri kokoh Jembatan Gongchen di atas Terusan Besar Tiongkok, kanal buatan terbesar di dunia yang membentang 1.800km dari Hangzhou hingga Beijing.

Nama Grand Canal atau Terusan Besar itu mungkin tidak terlalu terdengar di luar China seperti The Great Wall, Si Tembok Besar yang terkenal. Namun, ia memegang fungsi yang bisa melampaui peranan dari benteng yang menjadi salah satu keajaiban dunia itu.
Mulai dibangun pada 1400 tahun silam, terusan itu telah memberi makan dan membesarkan Hangzhou menjadi suatu kota yang makmur seperti saat ini.

Kanal Besar itu merupakan urat nadi transportasi dari selatan ke utara sepanjang sejarah China, dan hingga berkembangnya transportasi laut di era modern, telah menjadi kanal paling aman dan nyaman untuk pertukaran dan perdagangan.

"Di jalanan Hangzhou kita bisa melihat banyak restoran mie, itu karena orang-orang dari utara membawa budaya mie, sedangkan kami di selatan adalah penghasil beras," kata Wan Wan mengungkap akulturasi budaya yang terjadi.

Tingkat ekonomi Hangzhou dan daerah di selatan Sungai Yangzte pada zaman dahulu memang tertinggal dari wilayah utara.
 
Stasiun Hangzhou Metro Line di komplek Asian Games Village, Hangzhou, China. (ANTARA/Aditya E.S. Wicaksono)

Namun, kondisi daerah Dataran Tengah China goyah karena perang sehingga orang-orang yang tinggal di utara melarikan ke wilayah selatan yang lebih stabil.

Para pendatang yang membawa teknik pertanian yang maju, dipadukan dengan perdamaian di selatan, membuat Hangzhou dan sekitarnya berkembang mengejar ketertinggalannya.

Dari atas Jembatan Gongchen sudah tak tampak lagi kesibukan hilir mudik sampan apalagi perahu naga mewah yang didayung oleh para pengawal kerajaan.

Kini, jejak bahan bakar dari kapal-kapal motor mengubah wajah Si Kanal Besar yang sampai sekarang masih menjadi terusan paling berpengaruh di China.

Layaknya perahu-perahu perahu tersebut, Hangzhou telah mengarungi pasang-surut waktu, dengan membawa muatan sejarah dan perubahan yang berharga, mulai dari budaya Liangzhu kuno yang menjelma menjadi potret kemakmuran era modern sekarang ini.