Warga mengadu ke BKSDA Sampit karena kebun dirusak orang utan

id BKSDA Sampit, kalteng, Sampit, kotim, Kotawaringin Timur, orang utan, konservasi

Warga mengadu ke BKSDA Sampit karena kebun dirusak orang utan

Warga Kotim menunjukkan lokasi kebunnya yang dimasuki orangutan kepada petugas BKSDA Resort Sampit, Jumat (5/9/2025). ANTARA/HO-BKSDA Sampit

Sampit (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah kembali menerima laporan warga terkait gangguan orang utan yang merusak kebun hingga menimbulkan keresahan.

“Tadi pagi kami melakukan giat observasi atas laporan warga mengenai gangguan orang utan yang masuk ke areal kebun buah-buahan,” kata Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah di Sampit, Jumat.

Ia menyampaikan, bahwa laporan kali ini diterima dari warga Dusun Rongkang Desa Natai Baru Kecamatan Mentaya Hilir Utara, tepatnya di kilometer 26 Jalan Jenderal Sudirman Sampit.

Setelah menerima laporan tersebut, BKSDA Resort Sampit segera melakukan observasi lapangan dan bertemu langsung dengan pelapor bernama Ijan dan warga lainnya bernama Tamrin, namun saat tiba di lokasi tidak ditemukan keberadaan orang utan yang dimaksud.

Kendati demikian, ditemukan jejak dari hewan primata tersebut berupa satu buah sarang kelas satu dan bekas buah-buahan yang habis dimakan. Sarang kelas satu artinya sarang itu masih baru, utuh, dan daun-daunnya masih segar berwarna hijau.

“Keterangan dari kedua warga itu, orang utan yang pernah terlihat berjumlah satu individu, berukuran besar dan sering memakan buah-buahan di kebun serta mematahkan dahan pohon buah,” lanjutnya.

Baca juga: DPRD Kalteng minta pemerintah atasi krisis air bersih di pesisir Kotim

Menurut Muriansyah, berdasarkan pengakuan warga sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan terkait buah yang dimakan satwa dengan nama ilmiah pongo pygmaeus itu, tetapi yang menjadi kekhawatiran adalah kalau satwa itu menyerang warga.

Selain itu, warga tersebut juga takut kalau pohon-pohon buah yang ada di kebunnya mati karena dirusak orang utan, sehingga warga berharap agar satwa tersebut bisa diamankan atau dievakuasi oleh pihak berwenang.

Sementara karena keberadaan orang utan tidak ditemukan, BKSDA Resort Sampit meminta warga agar apabila satwa itu kembali muncul untuk memantau pergerakan dan segera melapor agar pihaknya bisa mempersiapkan untuk rescue atau penyelamatan.

“Kami juga menjelaskan terkait perilaku orang utan dan teknik pemantauan pergerakan orang utan, warga kami minta untuk sebisa mungkin menghindari berhadapan langsung dengan satwa tersebut,” imbuhnya.

Ia menambahkan, orang utan merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi Undang-Undang. Orang utan di habitat aslinya memiliki sifat pemalu dan menghindari manusia.

Namun, kini orang utan semakin sering masuk ke kebun milik warga, diduga karena terpaksa mencari makanan untuk bertahan hidup lantaran cadangan di habitat aslinya semakin sulit didapat. Kondisi ini sangat rawan bagi masyarakat maupun orang utan itu sendiri.

“Untuk itu perlu dilakukan penyelamatan terhadap orang utan yang masuk ke perkebunan warga dengan cara menangkapnya sesuai standar keamanan, kemudian membawa dan melepasliarkan orang utan ke habitat aslinya yakni hutan yang masih alami,” demikian Muriansyah.

Baca juga: Pemkab Kotim siapkan pembebasan lahan minimalkan rintangan sekitar bandara

Baca juga: Pemkab Kotim tekankan peran generasi muda dalam menjaga kamtibmas

Baca juga: Keluarga penumpang hilang di laut Sampit menyatakan ikhlas


Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.