
Banjir sudah surut, masyarakat Kotim tetap diimbau waspada

Sampit (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyatakan sekalipun banjir yang melanda sebagian wilayah setempat hampir surut sepenuhnya, namun masyarakat tetap diimbau waspada adanya banjir susulan.
"Hasil pantauan hari ini di berbagai lokasi banjir sudah surut. Termasuk di Desa Hanjalipan, sekalipun sebagian masih ada genangan di pekarangan," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam di Sampit, Senin.
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Kotim selama 12 sampai 29 September 2025, ada 24 desa dari sembilan kecamatan yang terdampak banjir. Di mana banjir tersebut akibat intensitas hujan tinggi dan air pasang dari Sungai Mentaya.
Meski begitu, saat ini banjir hampir sepenuhnya surut dengan hanya menyisakan satu desa yang tergenang, yakni Desa Hanjalipan Kecamatan Kota Besi. Itupun debit airnya sudah jauh berkurang dari yang sebelumnya.
"Banjir di Desa Hanjalipan sempat mencapai ketinggian 60-90 cm, tetapi kini menjadi 10-20 cm dari permukaan tanah pekarangan rumah warga, sedangkan untuk jalan desa sudah bebas dari banjir," ujar Multazam.
Kendati begitu, ia mengimbau masyarakat tetap waspada sebab berdasarkan prakiraan BMKG pada dasarian I Oktober mendatang ada potensi hujan deras yang dikhawatirkan menyebabkan terjadinya banjir susulan.
"Kami tentunya berharap kondisi saat ini bisa terus terjaga, tetapi prakiraan dari BMKG ini perlu kita waspadai. Apalagi, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan II juga sudah memperingatkan kita untuk selalu waspada," ucapnya.
Menindak lanjuti peringatan itu, BPBD Kotim telah memposisikan seluruh unit dan peralatan dalam kondisi siaga, sehingga ketika ada kejadian yang signifikan dan perlu perhatian ekstra maka Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kotim bisa segera meluncur ke lokasi.
Baca juga: Wabup Kotim ingatkan pentingnya membiasakan disiplin sejak dini
Upaya antisipasi ini tentunya tidak hanya dilakukan oleh pemerintah atau instansi terkait, tetapi juga wajib dilakukan oleh masyarakat demi meminimalkan dampak bencana, khususnya demi keamanan dan keselamatan diri sendiri maupun keluarga.
Walaupun, menurutnya masyarakat di daerah rawan banjir sudah berharmonisasi dengan situasi tersebut dan sigap dalam menghadapi banjir yang sangat membantu BPBD dalam kesiapsiagaan kebencanaan, tetapi bukan berarti masyarakat bisa mengendurkan kewaspadaan.
"Kami tetap harus waspada, apalagi kalau di situ ada aliran listrik segala macam, terutama bagi para orang tua yang punya anak kecil harus ekstra hati-hati karena biasanya anak-anak senang bermain di air dan terkadang tidak sadar kalau muka air banjirnya cukup dalam," tuturnya.
Dalam kesempatan ini, Multazam menyampaikan apresiasi kepada sejumlah desa, salah satunya Desa Bajarau Kecamatan Parenggean, yang membentuk tim kaji cepat di desa setempat memiliki early warning system atau sistem peringatan dini sendiri.
"Jadi ketika muka air sungai mulai mengalami peningkatan signifikan, tim itu akan menginformasikan kepada kepala desa dan didistribusikan masyarakat sehingga mereka bisa melakukan antisipasi. Hal ini sangat bagus dan kami berharap juga diterapkan di desa lainnya yang rawan bencana," demikian Multazam.
Baca juga: Realisasi optimasi lahan di Kotim sudah 100 persen
Baca juga: Kotim Juara 1 Bunda PAUD Berprestasi di Kalteng
Baca juga: Pemkab Kotim kumpulkan data koperasi untuk diperjuangkan ke Agrinas
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
