Sampit (ANTARA) - Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momen bagi seluruh rakyat Indonesia untuk kembali menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam bermasyarakat, tidak terkecuali di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
"Maka diharapkan Pancasila selalu menjadi dasar negara dan menjadi pedoman dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara," kata Komandan Kodim 1015/Spt Letkol Inf Dwi Candra Setyawan di Sampit, Rabu.
Harapan itu disampaikannya usai memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di halaman kantor Bupati Kotawaringin Timur. Upacara diikuti perwakilan dari instansi pemerintah daerah dan sejumlah instansi vertikal.
Turut hadir Wakil Bupati Kotawaringin Timur Irawati dan Wakil Ketua I DPRD Kotawaringin Timur Juliansyah. Upacara berlangsung dalam suasana khidmat dan lancar hingga selesai.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk merefleksikan hal-hal yang telah dan harus dilakukan. Ini menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah ke depan untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang tangguh di masa kini dan bangsa yang tangguh di masa yang akan datang.
Pembangunan berkelanjutan perlu menyelaraskan potensi sumber daya alam dengan sumber daya manusia. Untuk itu perlu dirancang keseimbangan baru yang mengedepankan kemajuan semua kelompok masyarakat dan memprioritaskan konservasi alam.
Kaitannya dalam hal pendidikan dan generasi penerus, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi penyemangat dengan kemerdekaan dalam belajar, berkarya, kemerdekaan dalam berbudaya.
Baca juga: Jadi 14 jabatan kosong di Pemkab Kotim
Ini diharapkan akan melahirkan generasi pelajar Pancasila, yaitu sosok pembelajar sepanjang hayat, yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mampu bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Para pelajar Pancasila nantinya akan meneruskan estafet pembangunan Indonesia yang berkelanjutan dan berkeadilan di masa depan.
Menurut Dwi Candra Setyawan, Pancasila sudah terbukti menjadi dasar negara yang sangat kuat. Berbagai hambatan dan tantangan dapat dihadapi sehingga Indonesia masih berdiri kokoh hingga saat ini.
"Bahkan pada tahun 1965, Pancasila masih kokoh dan tidak goyang walaupun dengan ada kejadian yang merongrong negara saat itu," demikian Dwi Candra Setyawan.
Sementara itu, peringatan Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan tragedi yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI. Dalam kejadian itu, ada tujuh korban, enam di antaranya adalah jenderal dan satu perwira pertama.
Mereka diculik dari rumah masing-masing di Jakarta, lalu dibawa ke sebuah lokasi di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur oleh kelompok bersenjata yang menamakan diri "Gerakan 30 September".
Yakni Letjen Ahmad Yani, Mayjen R. Suprapto, Mayjen M.T. Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen D.I. Panjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean (perwira pengganti yang ikut menjadi korban).
Jenazah para korban baru ditemukan pada 3 Oktober 1965 di sumur tua Lubang Buaya. TNI kemudian bergerak cepat menumpas pihak-pihak yang dianggap terkait dengan peristiwa tersebut.
Baca juga: Ketua DPRD Kotim sebut Sekolah Rakyat bukti keberpihakan negara kepada masyarakat
Baca juga: kontrak kerja 133 pegawai non ASN Kotim tidak dilanjutkan
Baca juga: Legislator Kotim dorong penguatan pendampingan petani hadapi serangan hama
