Logo Header Antaranews Kalteng

Riuh suara penonton warnai kemeriahan mangaruhi dalam FBHH Kotim 2026

Minggu, 11 Januari 2026 05:58 WIB
Image Print
Keseruan lomba mangaruhi pada Festival Budaya Habaring Hurung, Sabtu (10/1/2026). (ANTARA/Devita Maulina)

Sampit (ANTARA) - Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) 2026 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyajikan aksi unik, yakni lomba menangkap ikan tanpa alat atau mangaruhi yang menjadi metode tradisional masyarakat suku Dayak.

“Mangaruhi ini tradisi masyarakat Dayak, dalam menangkap ikan dengan tangan kosong tanpa alat bantu. Biasanya dilakukan saat air sungai surut, dan sekarang kita lestarikan lewat lomba,” kata Koordinator Lomba Mangaruhi Anton Sumaryanto di Sampit, Sabtu.

Kegiatan yang dilaksanakan di halaman gedung voli indoor kawasan Stadion 29 November Sampit ini menjadi bagian spesial dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-73 Kotim.

Anton menjelaskan kegiatan ini mengadaptasi kebiasaan suku Dayak saat air sungai menyusut di musim kemarau. Tradisi tersebut kini dikemas menjadi kompetisi untuk menjaga kelestariannya.

Tercatat 34 tim yang terdiri dari 23 tim putri dan 11 tim putra turut berpartisipasi mewakili sekolah hingga kecamatan. Peserta berasal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sekolah, hingga perwakilan kecamatan.

“Pesertanya cukup banyak dan didominasi tim putri. Antusiasme tahun ini meningkat dari tahun lalu,” ujarnya.

Panitia melepas ratusan ekor lele dengan berat total 30 kilogram ke dalam kolam khusus berukuran 6x8 meter. Para peserta harus berjuang ekstra untuk menangkap ikan yang licin hanya dengan mengandalkan ketangkasan tangan.

Riuh suara penonton membuat suasana lomba semakin hidup dan penuh tawa. Momen ini berhasil mengubah kompetisi tradisional menjadi sarana hiburan budaya yang sangat menarik bagi masyarakat setempat.

Baca juga: Lomba menyumpit kembali ramaikan Festival Budaya Habaring Hurung

Sistem penilaian lomba ini menitikberatkan pada kuantitas hasil tangkapan, bukan pada timbangan ikan tersebut. Hal ini ditegaskan kembali oleh Anton untuk memberikan kejelasan aturan bagi seluruh peserta.

“Yang dinilai jumlah ikan yang berhasil ditangkap, bukan beratnya,” jelas Anton.

Nilai ekologis juga tersirat dalam mangaruhi karena mengajarkan cara mengambil hasil alam tanpa merusak ekosistem. Tradisi ini menjadi simbol kearifan lokal dalam menjaga habitat air agar tetap lestari.

“Jadi zaman dulu ikan yang ditangkap hanya secukupnya, tanpa merusak lingkungan. Tidak pakai alat, tidak merusak habitat, jadi alam tetap terjaga,” ungkap Anton.

Lomba ini pun bertujuan untuk melestarikan tradisi dari masyarakat suku Dayak. Melalui acara ini, diharapkan generasi muda semakin mencintai warisan leluhur sekaligus sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Mangaruhi menjadi bukti bahwa budaya dan alam bisa berjalan beriringan.

“Lewat mangaruhi, kita ingin generasi muda mengenal budaya sekaligus belajar menjaga lingkungan,” demikian Anton.

Baca juga: Bupati Kotim apresiasi PT BGA Group tampilkan produk binaan lokal di Sampit Expo

Baca juga: Bupati optimistis perputaran uang di Sampit Expo 2026 capai target

Baca juga: Lawang Sakepeng simbol tekad menjaga nilai adat Dayak di tengah modernisasi



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026