Logo Header Antaranews Kalteng

Cara efektif atur penggunaan ponsel remaja

Selasa, 3 Februari 2026 21:53 WIB
Image Print
Ilustrasi remaja menggunakan ponsel (ANTARA/Pexels/Pixabay)

Jakarta (ANTARA) - Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Kasandra Putranto mengatakan orang tua bisa melakukan pendekatan yang efektif untuk memberikan aturan pembatasan penggunaan gawai pada remaja SMA yakni pembatasan berbasis fungsi dan waktu, bukan pembatasan emosional atau hukuman.

Kepada ANTARA di Jakarta, Selasa, Kasandra menjelaskan pendekatan efektif yang dimaksud diantaranya menyepakati pembatasan penggunaan gawai dari segi fungsi yakni remaja bebas menggunakan gawai untuk tugas sekolah dan komunikasi sosial pada jam tertentu. Selain itu juga orang tua bisa memberikan aturan dalam konteks waktu yakni tidak menggunakan ponsel pada saat jam makan, jam belajar dan sebelum tidur.

"Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras, karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan," kata dia.

Orang tua dan anak remajanya bisa membuat kesepakatan tentang batas waktu layar, misalnya maksimal dua sampai tiga jam hiburan digital per hari.

Dalam menerapkan aturan itu, kata Kasandra, perlu ada transparansi dari orang tua yang menjelaskan alasan aturan, bukan sekedar "pokoknya". Orang tua bisa menjadi teladan dengan mencontoh hal yang disepakati karena remaja sangat sensitif pada hal yang tidak konsisten.

Remaja memasuki usia SMA masih perlu pembatasan penggunaan ponsel, namun, perlu ada penyesuaian dibandingkan ketika dia masih anak-anak. Menurut sang psikolog, pada usia remaja SMA, seseorang mengalami peningkatan kemandirian dan pencarian identitas, namun, kontrol impuls secara neurologis dan pengambilan keputusan masih belum matang.

Mereka masih rentan oleh distraksi, penggunaan berlebihan, dan ketergantungan digital. Hal itu terjadi karena bagian otak prefrontal cortex yang berperan dalam pengendalian diri dan pertimbangan risiko masih berkembang hingga usia awal 20-an sehingga mereka masih perlu pendampingan dari orang dewasa.

"Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orang tua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak," kata Kasandra.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026