Logo Header Antaranews Kalteng

Harga cabai rawit di Sampit tembus Rp180.000 per kg usai Lebaran

Senin, 23 Maret 2026 17:03 WIB
Image Print
Harga cabai rawit di Sampit melambung tinggi usai Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, Senin (23/3/2026). ANTARA/Norjani

Sampit (ANTARA) - Dua hari usai Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, harga cabai rawit di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, melonjak hingga tembus Rp180.000 per kilogram.

"Kaget juga tadi pas beli harganya naik tinggi. Tadi beli sedikit saja, harganya 18.000 per ons. Kalau beli langsung satu kilogram, katanya harganya bisa kurang sedikit," kata Risa warga Sampit usai berbelanja di Pasar Keramat, Senin.

Memasuki awal pekan, sudah banyak pedagang di Pasar Keramat yang kembali berjualan usai berlebaran. Meski belum sepenuhnya normal, namun aktivitas di pasar yang terletak di Kecamatan Baamang ini mulai kembali menggeliat.

Sebagian besar bahan pangan dan sayuran tidak mengalami perubahan harga yang signifikan dibanding sebelum Lebaran. Namun yang menjadi perhatian adalah cabai rawit karena harganya melonjak tajam.

Biasanya saat kondisi stabil, harga cabai rawit di Pasar Keramat berkisar Rp50.000 hingga Rp80.000 per kg. Namun saat ini harganya naik tinggi menjadi Rp180.000 per kg.

"Dulu itu naik jadi Rp100.000 per kilogram saja sudah berasa tinggi sekali, sekarang malah sampai Rp180.000. Makanya kaget juga," ujar Risa.

Baca juga: Sudah 2.490 atlet terdaftar Porprov Kalteng 2026, tiga daerah belum

Harga barang kebutuhan di empat pasar tradisional di Sampit yaitu di Pusat Perbelanjaan Mentaya, Pasar Subuh, Pasar Keramat dan Pasar Al Kamal, terkadang tidak sama. Hal itu sangat tergantung harga yang didapat pedagang dari agen atau pedagang besar langganan masing-masing.

Salah seorang pedagang mengatakan, kenaikan harga ini dipengaruhi pasokan. Seperti diketahui, pemenuhan permintaan cabai rawit di Kotawaringin Timur sebagian masih dipasok dari Pulau Jawa lantaran produksi cabai rawit oleh petani lokal masih terbatas.

Akibat ketergantungan ini, fluktuasi harga bisa terjadi dalam waktu singkat. Terlebih jika pasokan terganggu dan stok menipis, maka harga cabai rawit biasanya akan merangkak naik.

"Saat ini kan masih libur Lebaran, jadi mungkin pasokannya masih sedikit, makanya harganya naik. Kalau harga di agen turun, harga di pasar juga pasti diturunkan," kata Yati.

Sementara itu Putra, salah seorang petani mengatakan, harga cabai rawit saat ini memang sedang tinggi. Dia menduga pasokan dari Pulau Jawa belum lancar sehingga cabai rawit naik tinggi.

"Petani sayuran di Sampit semakin berkurang karena sebagian beralih menjadi petani sawit. Makanya sekarang pasokan cabai rawit lokal pun semakin berkurang," demikian Putra.

Baca juga: Pantai Ujung Pandaran masih jadi objek wisata favorit di Kotim

Baca juga: DLH Kotim ingatkan pengelola tempat wisata bertanggung jawab menjaga kebersihan

Baca juga: Bupati sebut open house Idul Fitri momentum pererat silaturahim ke masyarakat Kotim



Pewarta :
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026