Logo Header Antaranews Kalteng

Pasien operasi bariatrik butuh pendampingan tenaga profesional pascatindakan

Rabu, 6 Mei 2026 11:17 WIB
Image Print
Ilustrasi pasien usai dioperasi (ANTARA/Pexels/Andrea Piacquadio)

Jakarta (ANTARA) - Pasien bariatrik atau individu dengan obesitas parah yang menjalani prosedur bedah pencernaan dianjurkan untuk mendapatkan pendampingan dari profesional seperti dokter, ahli gizi hingga psikolog.

Dokter spesialis bedah digestif dr. Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, menyampaikan bahwa pemicu obesitas salah satunya berasal dari gaya hidup modern yang gemar mengonsumsi makanan ultra-proses tinggi gula dan lemak secara berlebihan, kurang aktivitas fisik, kurang tidur, dan stres kronis.

Pola hidup yang dilakukan bertahun-tahun akan membentuk adaptasi metabolik di mana metabolisme akan melambat dan tubuh akan menganggap berat baru sebagai normal sehingga penurunan berat badan menjadi sulit. Siklus inilah yang membuat kenaikan berat badan pada akhirnya sulit dikendalikan.

Maka dari itu, penderita obesitas diharuskan untuk reset pola makan yang memerlukan program weight management yang terstruktur. Pada beberapa pasien, operasi bariatrik dapat menjadi pilihan saat dirasa risiko mempertahankan obesitas lebih besar daripada risiko operasinya.

“Operasi bariatrik adalah bagian dari terapi penyakit metabolik, prosedur ini bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga membantu mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik lainnya," ujarnya.

Dia menyampaikan ada beberapa kriteria minimum Indeks Massa Tubuh (BMI) sesuai dengan latar belakang kesehatan pasien yang dapat terbantu melalui operasi bariatrik. Di antaranya pasien diabetes melitus dengan BMI di atas 27,5, pasien dengan komorbid dengan BMI di atas 30 dan tanpa komorbid dengan BMI di atas 35.

Dokter yang menangani pasien bariatrik di LIGHThouse Advanced Klinik itu turut menekankan keputusan untuk menjalani operasi bariatrik bukanlah jalan pintas karena pasien akan membutuhkan adaptasi terhadap pola makan baru yang tidak biasa karena volume lambung yang mengecil.

Sehingga pendampingan nutrisi serta kebutuhan akan tambahan suplemen sangat dibutuhkan oleh pasien pascabariatrik.

Ahli Gizi Veronica S.Gz. menambahkan sebelum dan setelah bariatrik, pola makan pasien berubah secara signifikan, terutama masa setelah operasi yang sangat krusial karena pasien harus beradaptasi dengan lambung barunya.

Penanganan difokuskan pada kecukupan cairan dan protein, mencegah defisiensi mikronutrien serta mendampingi tahapan makanan.

Dalam hal ini, Veronica menyampaikan bahwa ahli gizi berperan dalam memberikan edukasi komprehensif terkait penyesuaian pola makan, karena meskipun ukuran lambung lebih kecil, pasien tetap dihadapkan pada tantangan dan keinginan untuk makan.

"Oleh karena itu, pasien bariatrik memerlukan pendampingan berkelanjutan agar hasil operasi dapat optimal dan bertahan dalam jangka panjang," katanya.

Di samping itu, pasien bariatrik juga akan mengalami tantangan dari sisi psikologis karena adanya perubahan drastis secara permanen.

Mengutip situs Pubmed di bawah naungan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat, dia menyebut sekitar 15 persen pasien bariatrik mengalami depresi yang diakibatkan dari perubahan hormon dan metabolik.

Skrining psikologis sebelum dan pendampingan setelah operasi sangat dianjurkan untuk memantau kesehatan mental pasien.



Pewarta :
Editor: Admin Portal
COPYRIGHT © ANTARA 2026