Palangka Raya (ANTARA) - Sejumlah organisasi maupun lembaga kemasyarakatan Suku Dayak dan suku lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah, mengimbau kepada pihak manapun yang ingin melaksanakan demontrasi, agar tetap damai dan tidak melakukan pengrusakan terhadap fasilitas apapun.

Himbauan itu disampaikan dalam  pernyataan sikap bersama yang bertema 'Jaga Rumah Betang, Jaga Rumah Kita', dan usai bertemu serta berdialog dengan dengan Gubernur Kalteng Agustiar Sabran di Palangka Raya, Minggu sore.

"Siapapun silahkan berdemonstrasi. Itu hak konstitusi yang diatur dalam Undang-undang. Terpenting itu, tidak anarkis dan tetap damai," kata Wakil Ketua Barisan Pertahanan Adat Dayak (Batamad) Kalteng Ingkit Djaper.

Adapun organisasi dan lembaga yang hadir dalam pernyataan sikap bersama itu, diantaranya Batamad Kalteng, Fordayak Kalteng, TBBR Kalteng, Gerdayak Kalteng, Perperdayak Kalteng, Dusmalateba Kalteng, serta lainnya.

Ingkit Djaper mengakui pihaknya membuat pernyataan sikap bersama itu setelah mendapat informasi jika sejumlah organisasi kemahasiswaan, baik internal maupun eksternal perguruan tinggi yang ada di Palangka Raya, akan kembali melaksanakan demontrasi.

"Para mahasiswa ini berdemonstrasi karena moralnya tergerak dengan kondisi negara yang memang sedang tidak baik. Apalagi sejumlah oknum wakil rakyat dan oknum aparat kepolisian pun memang ada yang arogan dan terkesan tidak melaksanakan tugasnya secara baik," kata dia.

Secara khusus, Mantan jurnalis itu mendorong aparat kepolisian berbenah dan tidak lagi semena-mena terhadap rakyat. Sebab, dari berbagai informasi yang diterima dirinya, banyak aparat kepolisian bukan menjadi pelindung, tetapi justru menjadi lawan masyarakat ketika mengalami masalah, khususnya jika terkait dengan perusahaan besar swasta (PBS) di provinsi ini.

Baca juga: Vending machine dan Kamera pengawas MRT dijarah dan dirusak saat demonstrasi ricuh

Dia mengatakan sebagian besar masyarakat sebenarnya sudah jenuh dan kesal dengan tindakan kesewenang-wenangan dan arogansi aparat kepolisian. Hal itu dapat dilihat dari berbagai kericuhan yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia.

"Meninggalnya seorang ojol akibat dilindas kendaraan polisi di Jakarta, sebenarnya puncak dari kemarahan masyarakat. Jadi, kalau kepolisian tidak berbenah dan menjadi lebih baik, bukan tidak mungkin kemarahan masyarakat akan semakin besar," kata Ingkit.

Turut menambahkan, Ketua Umum Dayak Dusmala-TBM Kalteng Bias Layar, mengapresiasi langkah Gubernur Agustiar Sabran mengumpulkan ormas maupun lembaga Suku Dayak dan kesukuan lain, untuk menyikapi langkah para mahasiswa yang akan melaksanakan demontrasi terhadap berbagai isu kebangsaan saat ini.

Dia mengatakan, dalam pertemuan itu, tak ada sedikitpun Gubernur Agustiar berupaya mengarahkan para ormas kesukuan, untuk melarang para mahasiswa melaksanakan demontrasi. Melainkan bagaimana demonstrasi yang merupakan hak konstitusi, dapat dilaksanakan secara damai dan tidak menimbulkan kericuhan ataupun mengganggu situasi kondusif provinsi ini.

"Saya rasa itu sangat tepat. Kita memang harus sama-sama menjaga daerah ini tetap aman dan damai," ucapnya.

Dirinya pun sepakat apabila nantinya demonstrasi tersebut menimbulkan pengrusakan dan kerusuhan, maka ormas dan para tokoh dayak, mengambil tindakan tegas kepada para pelaku. Di mana tindakan itu bisa dengan melaksanakan sidang adat dan pemberian sanksi sesuai adat Dayak.

"Silahkan berdemonstrasi dan menyampaikan pendapat secara bebas. Tetapi harus tetap dengan damai. Jaga Rumah Betang. Jaga rumah kita ini," tandas Bias.

Baca juga: Presiden Prabowo kumpulkan ketum partai dan kabinet di Istana Jakarta

Baca juga: Tol dalam kota depan DPR RI dibuka kembali, arus lalu lintas normal

Baca juga: Formasi lengkap DPRD Kotim siap dengarkan aspirasi masyarakat