Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menggelar rapat koordinasi guna mengantisipasi beberapa fenomena yang biasa terjadi selama Ramadhan, mulai dari kenaikan harga pangan hingga lonjakan penumpang, khususnya jelang Hari Raya Idul Fitri.
“Rapat koordinasi hari ini berkaitan dengan beberapa isu, berdasarkan paparan dari pihak terkait tadi diketahui ketersediaan barang atau bahan pokok cukup bagus, harga saat ini terkendali, lalu distribusi barang dan penumpang relatif aman,” kata Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kotim Rafiq Riswandi di Sampit, Jumat.
Hal ini ia sampaikan usai memimpin rapat koordinasi menghadapi tahun baru Imlek 2026, bulan suci Ramadhan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HKBN) Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Kegiatan ini melibatkan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi vertikal terkait seperti BMKG Kotim, KSOP Kelas III Sampit, Operator Pelayaran, BPS Kotim hingga penyedia jasa peti kemas.
Rafiq menjelaskan, kegiatan ini bukan sekadar tradisi menjelang Ramadhan, tetapi merupakan langkah krusial untuk memastikan stabilitas di masyarakat.
Beberapa poin bahasannya adalah ketersediaan dan stabilitas harga pangan, keamanan dan ketertiban umum, pengaturan lalu lintas hingga ketersediaan angkutan mudik dan balik pada momentum Lebaran.
Baca juga: Pemkab Kotim tunggu petunjuk alih status PPPK Paruh Waktu
Berdasarkan paparan dari masing-masing OPD maupun instansi terkait, saat ini ketersediaan bahan pangan dan harga barang masih tergolong stabil walaupun ada beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga tapi selisihnya tidak jauh.
“Lalu kaitan dengan arus mudik sudah kita koordinasikan juga, salah satunya disampaikan oleh pihak PT Pelni bahwa akan ada penambahan dua kapal selama Ramadhan untuk mengakomodir lonjakan penumpang. Jadi intinya semua sudah berjalan dengan baik,” ujarnya.
Kendati demikian, ia tetap meminta seluruh pihak terkait untuk menindaklanjuti hasil rapat koordinasi ini dan terus memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam menghadapi situasi di lapangan yang mungkin di luar prediksi.
Seperti yang disampaikan oleh BMKG Kotim, prakiraan cuaca selama Februari hingga Maret tergolong stabil, khususnya dari ketinggian gelombang, sehingga pengiriman logistik menggunakan kapal laut relatif aman.
Namun, bukan berarti pemerintah daerah bisa lengah, sebab cuaca kerap kali berubah atau sulit diprediksi. Sedangkan, saat ini Kotim masih sangat bergantung dengan pasokan dari luar pulau, sehingga jika terjadi hambatan dalam pengiriman logistik bisa berdampak pada gejolak harga di pasaran.
“Berkaitan dengan hal-hal yang mungkin perlu kita tindak lanjuti, maka kalau perlu kita adakan rapat mingguan atau dua minggu sekali untuk mengantisipasi supaya semua benar-benar terkendali, aman dan nyaman,” demikian Rafiq.
Baca juga: Jalan Lesa Parenggean akhirnya mulus setelah 12 tahun penantian
Baca juga: Soroti rancangan awal RKPD, Legislator Kotim rincikan daftar masalah
Baca juga: Marak lapak di pinggir jalan, omzet pedagang ayam di PIM Sampit anjlok