Sampit (ANTARA) - Setelah tertunda selama lebih dari satu dekade, proyek perbaikan Jalan Lesa di Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah akhirnya dinyatakan selesai dan siap menunjang aktivitas ekonomi masyarakat secara luas.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat (DSDABMBKPRKP) Kotim, pihak kontraktor, perusahaan, serta semua pihak yang turut membantu perbaikan Jalan Lesa,” kata Anggota DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) V Kotim, Andi Lala di Sampit, Jumat.

Proyek yang sempat terhambat oleh pandemi COVID-19 dan efisiensi anggaran ini berhasil dituntaskan pada penghujung tahun 2025. Keberhasilan ini menjadi angin segar bagi warga yang telah mengeluhkan kondisi jalan tersebut selama 12 tahun terakhir.

Andi Lala memberikan apresiasi tinggi atas kolaborasi berbagai pihak dalam merealisasikan aspirasi warga. Terlebih, menurutnya infrastruktur ini adalah kunci utama dalam meningkatkan mobilitas penduduk di wilayah tersebut.

Keberadaan Jalan Lesa ini dinilai sangat vital bagi masyarakat setempat, selain menghubungkan antara Desa Bajarau dan Kelurahan Parenggean, jalan yang dinamai Jalan Lesa ini juga menjadi akses utama menuju fasilitas kesehatan, RS Pratama Parenggean. 

Kondisi jalan yang rusak parah sering dikeluhkan masyarakat karena dinilai menghambat perjalanan, terlebih ketika ada pasien yang perlu segera dibawa ke rumah sakit. Pihak legislatif pun berkali-kali mendesak pemerintah daerah untuk memperbaiki jalan tersebut.

“Oleh karena itu, kami bersyukur sekali jalan ini akhirnya selesai diperbaiki, sehingga masyarakat pun bisa menggunakannya dengan nyaman dan lancar,” imbuhnya.

Secara teknis, rekonstruksi pengaspalan Jalan Lesa ini menelan biaya sebesar Rp2,97 miliar yang bersumber dari APBD Perubahan. Pengerjaan dilakukan oleh CV Hayak Basewut dengan masa kontrak singkat sejak 26 November hingga 30 Desember 2025.

Baca juga: Soroti rancangan awal RKPD, Legislator Kotim rincikan daftar masalah

Meski pengerjaan rampung sesuai jadwal, tantangan muncul ketika warga melaporkan adanya kerusakan minor hanya dua hari pasca kontrak berakhir. Laporan tersebut mencakup adanya retakan dan aspal yang terkelupas di beberapa titik.

Merespons hal tersebut, Dinas SDABMBKPRKP Kotim bergerak cepat menurunkan tim teknis. Berdasarkan hasil identifikasi, ditemukan 10 titik kerusakan dengan bentang panjang antara 2 hingga 15 meter yang memerlukan perbaikan segera.

Langkah perbaikan dilakukan dengan metode bongkar pasang dan pengaspalan ulang secara menyeluruh di sepanjang ruas 888 meter. Hal ini dilakukan demi menjamin kualitas jalan yang lebih solid dan merata bagi pengguna kendaraan.

Politisi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini menegaskan bahwa kualitas proyek infrastruktur tidak boleh ditawar. Ia meminta agar pengawasan di lapangan diperketat untuk memastikan setiap rupiah dari anggaran daerah menghasilkan manfaat yang tahan lama bagi rakyat.

Ia ini juga berpesan agar masyarakat turut menjaga aset jalan yang telah diperjuangkan selama belasan tahun tersebut. Perawatan yang baik dari semua pihak akan menentukan usia pakai aspal di masa mendatang.

“Kami berharap dengan mulusnya jalan ini dapat membawa manfaat bagi masyarakat. Jalan Lesa sudah lama diimpikan warga, sehingga harus benar-benar dirawat dan dimanfaatkan dengan baik agar manfaatnya dirasakan dalam jangka panjang,” demikian Andi Lala.

Baca juga: Marak lapak di pinggir jalan, omzet pedagang ayam di PIM Sampit anjlok

Baca juga: Sinergi BKSDA Sampit dan warga selamatkan anak trenggiling

Baca juga: Panginan Sukup Simpan simbol ketahanan pangan dan warisan leluhur di Kotim