Logo Header Antaranews Kalteng

Legislator Kotim dorong pembentukan lembaga penanganan perilaku menyimpang

Kamis, 16 April 2026 17:27 WIB
Image Print
Anggota DPRD Kotim Suprianto. ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Legislator Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Suprianto mendorong pembentukan lembaga khusus berbasis masyarakat, yang fokus menangani individu dengan perilaku menyimpang melalui pendekatan edukatif dan humanis.

"Kalau menurut kami coba dibentuk semacam lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat, lembaga swadaya masyarakat yang konsen terhadap orang-orang yang berperilaku menyimpang seperti itu," kata Suprianto di Sampit, Kamis.

Hal ini disampaikan Anggota DPRD Kotim itu menyikapi kemunculan grup remaja di media sosial yang mengarah kepada perilaku menyimpang seksual. Grup tersebut bernama Gay ABG Sampit, yang kini telah dilaporkan ke Komdigi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika setempat.

Kemunculan grup ini memicu keresahan masyarakat, terutama para orang tua yang khawatir anaknya terpapar penyimpangan tersebut. Oleh karena itu, DPRD menilai perlu langkah konkret dan terarah untuk menangani persoalan tersebut secara komprehensif.

Menurut Suprianto, fenomena tersebut perlu dipandang sebagai persoalan sosial yang membutuhkan penanganan serius, bukan sekadar stigma. Sebab, jika dibiarkan tanpa intervensi, kelompok-kelompok tersebut berpotensi berkembang tanpa arah dan berdampak pada lingkungan sekitar.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menciptakan kepedulian sosial, alih-alih melakukan pengucilan. Ia mengingatkan bahwa pendekatan yang tidak manusiawi justru dapat memperburuk kondisi.

"Sebenarnya, kalau kita lihat dimana-mana kelompok seperti itu cukup rapuh. Tinggal bagaimana kita menciptakan kepedulian masyarakat di sekitar saja, jangan justru kita pinggirkan, kita kucilkan tanpa ada pendekatan secara manusiawi," tegasnya.

Dirinya juga menyoroti minimnya edukasi terkait seksualitas yang selama ini masih dianggap tabu di tengah masyarakat. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor munculnya perilaku menyimpang di kalangan remaja.

"Kalau saya kecenderungannya, karena kita itu kurang perhatian terhadap mereka, terhadap edukasi bagaimana seksual dan sebagainya itu dianggap tabu, akhirnya tercipta hal-hal seperti ini," ungkap pria yang juga dikenal sebagai ustadz tersebut.

Ia menambahkan, perlu setelah dibentuknya lembaga khusus, maka yang tidak kalah penting adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan efektivitasnya dalam melakukan pendekatan sosial di masyarakat.

Baca juga: Terhimpit ekonomi, ASN asal Seruyan nekat maling motor

Ia juga menyinggung pentingnya dukungan anggaran dan kebijakan yang memadai jika lembaga yang ada dibebani tanggung jawab lebih besar. Ia menilai, aspek pendanaan menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program penanganan.

Namun begitu, ia menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memperkuat edukasi serta mendorong lahirnya lembaga-lembaga kecil yang secara khusus menangani persoalan tersebut di tingkat masyarakat.

"Sekarang yang kita inginkan adalah bagaimana memberikan edukasi, membentuk lembaga-lembaga kecil yang konsen terhadap hal-hal seperti itu," imbuhnya.

Suprianto menambahkan, pemerintah daerah juga harus meningkatkan kepedulian terhadap persoalan ini karena berdampak langsung pada masa depan generasi muda di Kotim.

Ia mengingatkan bahwa tanpa penanganan serius, kondisi ini bisa menghambat upaya menciptakan generasi unggul.

"Jangan sampai keinginan kita menciptakan generasi emas justru sebaliknya menjadi generasi cemas, itu berbahaya," demikian Suprianto.

Baca juga: Pemkab Kotim intensifkan pelibatan masyarakat tangani stunting melalui Program Genting

Baca juga: Pemkab Kotim perkuat peran desa dalam penanganan bencana

Baca juga: DPRD Kotim dorong sanksi tegas bagi PBS Tak kooperatif



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026