Sampit (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga memberikan harapan baru melalui pemberian keterampilan kerja sebagai modal bagi warga binaan setelah bebas nanti.

"Kami berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk mandiri setelah bebas nanti," kata Kepala Lapas Kelas IIB Sampit, Muhammad Yani di Sampit, Selasa.

Lapas Sampit bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin dalam upaya pemberdayaan warga binaan pemasyarakatan (WBP). Salah satu wujud konkretnya adalah menggelar pelatihan keterampilan kerja bagi warga binaan setempat.

Berbagai jenis pelatihan keterampilan kerja yang pernah diberikan di antaranya menjahit, kerajinan tangan, budi daya ikan, menanam sayuran dengan sistem hidroponik, pembuatan batako, pertukangan dan lainnya.

Lapas Sampit dibantu instansi terkait, menghadirkan narasumber berpengalaman. Pelatihan juga disertai praktik agar para warga binaan benar-benar paham dan menguasai sehingga nantinya berhasil. Bahkan, beberapa kegiatan langsung dicoba dibuat jenis usahanya untuk dikerjakan para warga binaan sehingga menghasilkan nilai ekonomi.

Seperti hari ini, Lapas Sampit menggelar pelatihan menjahit. Peserta bahkan dari warga binaan laki-laki dan mereka terlihat serius mengikuti kegiatan pelatihan keterampilan tersebut. 

Menurut Yani, pelatihan menjahit yang kembali digiatkan ini menjadi salah satu unggulan pembinaan kemandirian di Lapas Sampit. Meski dijalankan oleh satu orang tahanan pendamping (tamping) yang telah lebih dulu mendapatkan pelatihan, hasil yang ditunjuk kan terbilang maksimal. 

Baca juga: Tim Wasev tekankan pentingnya antisipasi dampak cuaca dalam pelaksanaan TMMD di Kotim

Dengan dukungan peralatan yang cukup lengkap, berbagai kebutuhan jahit mampu dikerjakan dengan rapi dan berkualitas. Setiap proses dikerjakan secara teliti, mulai dari pengukuran, pemotongan bahan, hingga tahap finishing. 

Ketekunan dan konsistensi menjadi kunci utama dalam menghasilkan produk dan jasa jahit yang memuaskan. Tidak hanya melatih keterampilan teknis, kegiatan ini juga membangun disiplin, tanggung jawab, serta rasa percaya diri warga binaan.

Kegiatan berlangsung di bawah pengawasan langsung Kepala Subseksi Giatja, Dwinarno, bersama satu orang CPNS. Pengawasan tersebut memqstikan seluruh proses berjalan sesuai prosedur sekaligus tetap menjaga aspek pembinaan.

Yani menyampaikan apresiasinya atas capaian program tersebut. Menurutnya, keberhasilan kegiatan menjahit ini menjadi bukti nyata bahwa pembinaan kemandirian di dalam lapas berjalan efektif.

Melalui program ini, Lapas Sampit tidak hanya menjalankan fungsi pemasyarakatan, tetapi juga menyiapkan warga binaan agar memiliki keterampilan produktif. Harapannya, saat kembali ke tengah masyarakat, mereka tidak lagi memulai dari nol, melainkan su dah memiliki bekal keahlian untuk membuka usaha atau bekerja secara mandiri. 

“Program Giatja, termasuk kegiatan menjahit ini, telah menunjukkan hasil yang sangat baik dan menjadi bukti suksesnya pembinaan kemandirian di Lapas Sampit,” demikian Muhammad Yani.

Baca juga: Evakuasi buaya tangkapan warga di Ujung Pandaran terhambat transisi kewenangan

Baca juga: Sekolah Rakyat di Kotim targetkan 1.080 murid baru

Baca juga: KSOP Sampit tingkatkan pengawasan armada angkutan Lebaran 2026