Sampit (ANTARA) - Krisis jaringan telekomunikasi masih membelenggu masyarakat di Kecamatan Bukit Santuai Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah dengan hanya satu desa yang terjangkau sinyal dari total 14 desa yang ada di wilayah tersebut.
“Kalau blank spot ini hampir semua desa. Hanya di ibu kota kecamatan, di Desa Tumbang Penyahuan yang aman. Kalau desa lain sampai ke ujung, ke Tumbang Saluang, itu semua blankspot (tidak terjangkau sinyal seluler),” kata Camat Bukit Santuai Agus Saptono di Sampit, Kamis.
Kondisi ini praktis membuat aktivitas komunikasi digital lumpuh di hampir seluruh wilayah pemekaran Mentaya Hulu tersebut. Hanya Desa Tumbang Penyahuan, yang merupakan pusat pemerintahan kecamatan, yang sudah menikmati jaringan stabil.
Agus Saptono mengungkapkan bahwa absennya sinyal sangat mempengaruhi efisiensi birokrasi. Pengiriman dokumen yang seharusnya selesai dalam hitungan detik via WhatsApp, kini butuh perjuangan ekstra.
Demi menjaga roda pemerintahan di wilayah setempat tetap berputar, setiap desa menyiagakan operator khusus. Para petugas ini wajib ‘berburu’ titik sinyal setiap hari untuk memastikan instruksi dari kecamatan tidak terputus.
“Setiap desa sudah memiliki operator khusus yang bertugas memantau komunikasi antara kecamatan dan desa. Operator itu setiap hari ke kantor dan menuju lokasi yang memiliki sinyal untuk memastikan informasi tetap tersampaikan,” jelasnya.
Baca juga: Ketua PWI Kotim: Sanksi tegas menanti oknum wartawan pemeras
Menghadapi kebuntuan infrastruktur kabel dan menara telekomunikasi, sejumlah pemerintah desa mulai mengambil langkah mandiri. Penggunaan perangkat internet berbasis satelit kini menjadi tren untuk memecah isolasi informasi.
“Sekarang informasinya, akhir-akhir ini desa juga beli alat Starlink, jadi terbantu oleh alat itu juga,” ujarnya.
Agus melanjutkan, gangguan yang dirasakan lebih pada sisi kecepatan komunikasi, tidak sampai menghentikan pelayanan publik di desa secara umum. Berbeda dengan ibu kota kecamatan yang telah terjangkau sinyal dan tidak mengalami kendala komunikasi.
Kehadiran teknologi seperti Starlink sangat membantu perangkat desa dalam bekerja. Meski demikian, solusi ini bersifat parsial dan belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara luas.
Pihaknya telah mengusulkan penanganan blank spot dalam setiap rapat bersama DPRD maupun Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo).
Bahkan ia juga menyuarakan permasalahan tersebut saat reses Anggota DPD RI Agustin Teras Narang di Kotim beberapa waktu lalu dengan harapan bisa membuka seluruh wilayah Bukit Santuai dari keterisolasian sinyal seluler.
“Kami tetap selalu bersabar karena kami memahami prosesnya. Itu pasti ada tahapan demi tahapannya. Kami yakin, Pemkab Kotim selalu akan memperjuangkan itu. Contohnya jangankan masalah blank spot, urusan listrik desa saja, yang berapa tahun itu tidak ada tembus listrik desa, setahun terakhir kan terjawab,” demikian Agus Saptono.
Baca juga: Polda Kalteng siapkan 2.300 personel amankan Idul Fitri
Baca juga: Peluang usaha perikanan di Kotim sangat menjanjikan
Baca juga: DPRD Kotim imbau tunda umrah imbas konflik di Timur Tengah