
Truk Sawit Turut Andil Percepat Kerusakan Jalan

Sampit (Antara Kalteng) - Aktivitas truk pembawa hasil perkebunan kelapa sawit dengan muatan melebihi kapasitas jalan dituding mempercepat kerusakan jalan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.
"Jalan di HM Arsyad itu baru dua tahun diaspal, sekarang sudah rusak karena truk CPO (crude palm oil) yang melintas bermuatan belasan ton, bahkan truk fuso dengan kapasitas 15 - 20 ton, padahal jalan kita cuma delapan ton," kata Anggota Komisi IV DPRD Kotim, Danny Rahman saat rapat dengar pendapat di gedung DPRD, Rabu.
Dia menyesalkan tindakan perusahaan yang seakan tidak peduli terhadap batasan maksimal kemampuan jalan di Kotim yang hanya delapan ton muatan sumbu terberat. Rata-rata truk pengangkut kelapa sawit mencapai belasan ton sehingga membuat jalan cepat rusak.
Jalan HM Arsyad diperkirakan dilintasi ratusan truk sawit setiap harinya. Pasalnya, jalan ini merupakan akses satu-satunya dari Sampit menuju Pelabuhan Bagendang yang terletak di Kecamatan Mentaya Hilir Utara.
"Aturan dari pemerintah provinsi juga harus dipatuhi. Truk CPO dan tambang diperbolehkan melintas pada pukul 22:00 WIB sampai 05:00 WIB. Ini bukan berarti tidak bisa melintas. Itu pun khusus untuk pertambangan dan perkebunan," tambah Danny.
Dia mendesak pemerintah daerah segera meningkatkan ruas jalan Lingkar Selatan dan Lingkar Utara agar truk perusahaan tidak lagi melintas di jalan umum. Seperti jalan Lingkar Selatan, kerusakan jalan sepanjang 6,6 kilometer seharusnya bisa diperbaiki oleh pemerintah daerah dibantu pihak perusahaan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kotim, H Masran Hadi mengatakan, peningkatan ruas jalan Lingkar Selatan belum bisa dilakukan dalam waktu dekat karena belum dianggarkan di APBD murni. Dia berjanji akan mengusulkan anggarannya pada APBD Perubahan tahun ini.
"Kita juga akan koordinasi dengan pemerintah provinsi. Untuk di Lingkar Utara, tahun ini akan dibangun ringroad (jalan tembus), di antaranya sepanjang delapan kilometer menuju Desa Kandan serta menuju Bajarum sepanjang 10 kilometer dengan lebar 30 meter. Juga ada ringroad menuju kawasan markas Brimob sepanjang 10 kilometer," jelas Masran.
Sementara itu Wira Jaya, perwakilan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit berharap infrastruktur di daerah ini ditingkatkan sehingga investasi tidak terus disalahkan. Pengusaha terpaksa melintas di jalan umum karena belum ada alternatif lain.
"Secara hitung-hitungan biaya produksi, memang akan rugi kalau cuma mengangkut muatan delapan ton. Truk-truk yang di daerah kita sebenarnya jauh lebih kecil dibanding angkutan sawit di daerah lain seperti di Sumatera," ujarnya.
Dia berharap ada solusi terbaik agar investasi bisa terus berjalan dan masyarakat juga bisa tetap beraktivitas dengan nyaman. Perusahaan tentu menginginkan kehadiran mereka membawa dampak positif bagi daerah dan masyarakat.
Pewarta : Norjani
Editor: Zaenal A.
COPYRIGHT © ANTARA 2026
