Logo Header Antaranews Kalteng

Legislator: Pembangunan Pasar Mangkikit Sampit Terkendala Material

Sabtu, 6 Juni 2015 17:29 WIB
Image Print
Ilustrasi. Bupati Kotawaringin Timur, H Supian Hadi bersama tokoh adat saat ritual adat peletakkan batu pertama pembangunan Pasar Mangkikit di Jalan Pangeran Antasari Sampit, Minggu (22/2/2015)(FOTO ANTARA Kalteng/Norjani)

Sampit (Antara Kalteng) - Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Abdul Kadir mengatakan, pembangunan pasar Mangkikit, Sampit, terkendala ketersediaan material.

"Informasi yang saya terima dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disperindagsar) Kabupaten Kotim proyek tersebut terhenti karena pihak ketiga yang mengerjakan proyek kesulitan mendapatkan material," katanya kepada wartawan, di Sampit, Sabtu.

Abdul Kadir menilai terhentinya pembangunan pasar Mangkikit Sampit tersebut akibat pihak ketiga sebagai pelaksana pekerjaan proyek kurang siap, sehingga material yang dibutuhkan untuk pembangunan belum ada di lokasi.

Ia berharap pemerintah daerah meninjau kembali kerja sama dengan pihak ketiga tersebut, sebab jika tidak ada kepastian kelanjutan pembangunan pasar, tentunya akan merugikan para pedagang.

"Kami terus memantau perkembangan pembangunan pasar Mangkikit Sampit itu, namun saat ini yang terjadi adalah masalah teknis dan hal itu bukan ranah kami," katanya.

Abdul Kadir meminta kepada pemerintah daerah, dalam hal ini Disperindagsar Kabupaten Kotim, untuk bisa memberikan penjelasan kepada para pedagang kapan pembangunan pasar tersebut akan dilanjutkan agar mereka tidak resah.

Sementara itu, pengurus pasar Mangkikit Sampit, Agus mengatakan, sejumlah pedagang mulai resah karena pembangunan pasar belum ada kejelasan.

"Sampai saat ini belum ada kejelasan kapan pembangunan pasar akan dilanjutkan, padahal kami berharap bisa cepat selesai pembangunannya," ucapnya.

Agus mengakui, sejak dipindahkan ke lokasi yang baru, yakni di terminal Kodim Sampit penghasilan pedagang menurun.

"Tempat sementara yang saat ini kami gunakan berjualan kurang nyaman karena sempit, sehingga pembeli juga enggan berbelanja," ungkapnya.



Pewarta :
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026