Dekranasda Kotim gali potensi pelajar lewat lomba ecoprint

id Dekranasda Kotim, HUT Kotim, Sampit Expo, kewirausahaan, ecoprint, kalteng, Sampit, kotim, Kotawaringin Timur

Dekranasda Kotim gali potensi pelajar lewat lomba ecoprint

Ketua Dekranasda Kotim Khairiah dan Sekretaris Dekranasda Kotim Permata Fitri berbaur dengan peserta lomba ecoprint, Minggu (11/1/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menggelar lomba membuat taplak meja ecoprint dengan teknik pounding sebagai sarana untuk menggali potensi daerah dan mengenalkan seni kerajinan alam kepada generasi muda.

“Kami ingin menggali potensi anak-anak muda untuk melanjutkan pembuatan ecoprint. Karya ini tidak berhenti di lomba saja, tetapi bisa menjadi sumber ekonomi keluarga ke depannya,” kata Ketua Dekranasda Kotim Khairiah Halikinnor di Sampit, Minggu.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Dekranasda dengan Pemkab Kotim dalam memeriahkan Sampit Expo 2026 yang menjadi rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kotim. Kegiatan yang diikuti oleh 10 kelompok pelajar SMA.

Khairiah menyatakan bahwa lomba ini adalah upaya menyiapkan perajin lokal agar mampu bersaing di pasaran. Ia berharap kegiatan ini dapat menggeliatkan ekonomi kreatif melalui kolaborasi inovasi dan kekayaan alam Bumi Habaring Hurung.

“Saya sangat mendukung kegiatan ini. Saya berharap kedepannya kegiatan-kegiatan serupa yang bertujuan untuk menggeliatkan perekonomian agar dapat terus berkolaborasi dengan Dekranasda demi memajukan potensi-potensi kekayaan alam, inovasi dan teknologi bagi UMKM Kotim,” ujarnya

Khairiah menambahkan bahwa teknik ecoprint perlu terus dilestarikan agar budaya lokal tidak tergerus oleh teknologi dan budaya luar. Menurutnya, generasi muda harus bangga dan mampu mengunggulkan produk asli daerah sendiri.

Sementara itu, juri lomba sekaligus owner Ecoprint Hantingan, Taslimah menyebut minat anak muda di Kotim terhadap ecoprint saat ini masih sangat minim, bahkan hampir tidak ada.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi pemerintah daerah dan Dekranasda Kotim yang berinisiatif menggelar lomba ini. Melalui lomba ini, ia ingin menunjukkan bahwa ecoprint adalah peluang bisnis yang menjanjikan karena bahan bakunya sangat mudah didapat.

“Saya juga mengusulkan agar diadakan edukasi ke masyarakat, karena di tempat kita ini banyak tumbuhan lokal yang bisa kita manfaatkan dan itu bisa menjadi ciri khas kita. Disamping secara ekonomis bisa menghasilkan uang dan bahannya mudah didapat, kita juga mendorong penggunaan bahan berbasis alam,” jelasnya.

Baca juga: DPKP Kotim siap dukung dan pertahankan swasembada pangan nasional

Lebih lanjut, ia menerangkan ecoprint memiliki dua teknik, yakni pounding (pukul) dan steaming (kukus). Adapun, teknik yang digunakan dalam lomba kali ini adalah pounding, karena dinilai lebih aman bagi para pelajar yang baru mulai belajar ecoprint.

Teknik pounding adalah mencetak pola daun pada kain katun molly dengan cara dipukul. Kain yang digunakan wajib mengandung serat alam dan tidak boleh mengandung polyester agar warna terserap sempurna.

Taslimah juga menekankan pentingnya memilih daun dengan kadar tanin tinggi untuk mentransfer pigmen getah menjadi motif yang indah. Setelah proses pounding, selanjutnya kain dijemur sampai kering. Seluruh proses dari awal hingga akhir biasanya membutuhkan waktu tiga hari.

“Secara umum rentang waktu yang dibutuhkan sama terlepas dari lebar kain yang digunakan. Selain kemampuan untuk mengaplikasikan teknik ecoprint, hasil atau kreativitas dalam menyusun daun agar menghasilkan pola yang indah juga menjadi penilaian dalam lomba ini,” pungkasnya.

Meski jumlah peserta tergolong masih sedikit, namun kegiatan ini mendapat respons yang positif. Salah satu peserta Puzha Adristy, pelajar dari SMK 1 Sampit, mengaku sangat antusias mengikuti lomba ini.

Kendati mengaku baru pertama kali mencoba dan sempat merasa kesulitan, ia merasa tertantang untuk menyelesaikan karyanya dengan penuh kesabaran.

“Seru dan asyik, meskipun lumayan sulit karena belum tahu tekniknya. Saya baru tahu cara bikinnya sekarang setelah mendapat bimbingan dari guru dan belajar dari internet untuk ikut lomba ini,” demikian Puzha.

Baca juga: Diskan Kotim bentuk tim terpadu penanganan buaya

Baca juga: DPKP Kotim: Drone pertanian dari Kementan bantu efisiensi kerja di lapangan

Baca juga: Riuh suara penonton warnai kemeriahan mangaruhi dalam FBHH Kotim 2026


Pewarta :
Uploader : Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.