Logo Header Antaranews Kalteng

Pedagang plastik di Sampit mulai batasi stok imbas kenaikan harga

Kamis, 2 April 2026 16:47 WIB
Image Print
Suasana toko plastik di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Kamis (2/4/2026). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Lonjakan harga plastik memaksa pedagang di sejumlah pasar tradisional di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, membatasi pasokan barang sebagai strategi pembatasan stok untuk meminimalkan risiko kerugian akibat modal yang membengkak.

“Kenaikan mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa, tetapi saat itu belum terlalu signifikan. Setelah Lebaran, kenaikannya semakin terasa dan sampai sekarang sudah sekitar lima kali mengalami kenaikan,” kata Iyan salah seorang pedagang plastik di Pasar Keramat Sampit, Kamis.

Iyan mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga ini sebenarnya sudah mulai merayap sejak pertengahan Ramadhan. Namun, situasi semakin memburuk pasca-Lebaran dengan intensitas kenaikan yang terjadi berkali-kali dalam waktu singkat.

Beberapa jenis plastik dilaporkan mengalami kenaikan hingga 50 hingga 100 persen. Salah satu yang paling terdampak adalah plastik kemasan es yang harganya melambung dari Rp34.000 menjadi Rp55.000 per pak.

“Plastik untuk es dulu sekitar Rp34 ribu per pak, sekarang sudah Rp55 ribu,” sebutnya.

Kenaikan sebesar Rp21.000 ini sangat membebani pedagang eceran maupun pelaku UMKM yang bergantung pada kemasan tersebut.

Selain itu, plastik cup minuman yang biasanya dibanderol Rp320.000 per dus, kini menyentuh angka Rp465.000. Untuk jenis plastik kantong barang, kenaikannya bahkan mencapai dua kali lipat atau 100 persen dari harga normal sebelumnya.

“Ada juga plastik barang yang dulu Rp15 ribu sekarang sudah Rp30 ribu. Semakin bening kualitas plastiknya, biasanya kenaikannya juga semakin tinggi,” ujarnya.

Baca juga: Disdukcapil Kotim jemput bola perekaman KTP penyandang disabilitas dan ODGJ

Iyan membeberkan bahwa harga modal beberapa jenis plastik saat ini sudah mencapai Rp53.000, padahal sebelumnya harga jual ke konsumen hanya di kisaran Rp35.000. Kondisi ini membuat pedagang harus ekstra waspada dan tidak berani menyetok barang dalam jumlah besar.

“Kami jadi tidak berani mengambil banyak karena harga dari distributor sudah naik terlebih dahulu,” ujarnya.

Iyan mengaku tak tau pasti penyebab kenaikan harga tersebut, namun berdasarkan informasi dari distributor, kenaikan ini dipicu oleh melambungnya harga biji plastik sebagai bahan baku utama serta kelangkaan komponen produksi tertentu.

Disamping itu, sistem pemesanan barang juga berubah. Jika sebelumnya pembelian bisa dilakukan dengan sistem pembayaran tempo, kini sebagian distributor menerapkan sistem pre order (PO) dan pembayaran harus dilakukan lebih awal.

“Kalau dulu masih bisa pembayaran tempo, sekarang sudah tidak bisa. Kadang juga harus pesan dulu melalui sistem pre order,” ungkapnya.

Meskipun banyak pelanggan yang terkejut dan sempat curiga pedagang sengaja menaikkan harga sepihak, Iyan mengaku tetap tenang karena kenaikan ini murni dari rantai pasokan. Ia masih berupaya membantu konsumen dengan menjual sisa stok lama di harga rendah.

“Banyak yang kaget, ada juga yang memaklumi. Bahkan ada yang mengira kami yang menaikkan harga sendiri,” ucap Iyan.

Namun, Iyan menegaskan bahwa harga lama hanya akan bertahan selama persediaan di gudang masih ada. Jika stok lama tersebut habis, maka seluruh harga jual akan segera disesuaikan dengan ketentuan terbaru dari pihak distributor.

“Untungnya kami masih punya stok lama, jadi masih bisa dijual dengan harga lama. Tapi kalau stok lama habis, mau tidak mau kami harus mengikuti harga yang baru,” terangnya.

Baca juga: Disdukcapil Kotim jemput bola perekaman KTP penyandang disabilitas dan ODGJ

Senada disampaikan oleh pedagang plastik di Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, Aji yang mengaku membatasi pasokan barang ke tokonya. Bahkan, ia mengurangi pasokan hingga setengah dari biasanya.

“Harganya memang sudah naik dari Supplier, jadi mau tidak mau kami pun harus menyesuaikan. Selain itu, pasokan juga kami kurangi,” ucapnya.

Ia menambahkan, kondisi pasar yang tidak menentu ini akhirnya berdampak langsung pada penurunan omzet penjualan secara keseluruhan. Pedagang kini lebih memilih bermain aman guna menjaga keberlangsungan usaha di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

“Omzet pasti berkurang karena kami juga tidak berani nyetok terlalu banyak seperti sebelumnya, takut barangnya tidak laku,” pungkasnya.

Kondisi ini pun mulai dikeluhkan oleh para pelaku UMKM di Sampit, terutama pedagang minuman yang sangat bergantung pada penggunaan kemasan plastik cup.

Mereka kini terjepit di antara biaya produksi yang membengkak dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Salah satunya Anissa yang biasa berjualan es jeruk peras di sekitar Taman Kota Sampit.

Ia mengaku harus memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan, mulai dari mengurangi margin keuntungan hingga mempertimbangkan kenaikan harga jual produk.

“Kenaikan harga cup plastik ini sangat terasa, sementara kami tidak mungkin menaikkan harga es secara mendadak karena takut pembeli kabur. Kalau terus begini, keuntungan kami semakin tipis bahkan terancam merugi,” demikian Anissa.

Baca juga: Legislator Kotim soroti belum meratanya TK di tengah wajib belajar 13 tahun

Baca juga: DPRD Kotim tekankan penerapan WFH ASN tetap utamakan kepuasan layanan publik

Baca juga: Ratusan ASN Kotim mendapat edukasi pencegahan HIV/AIDS



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026