Logo Header Antaranews Kalteng

Mobil pompa dikerahkan untuk atasi drainase tersumbat di Sampit

Kamis, 21 Mei 2026 15:47 WIB
Image Print
Aktivitas penyedotan air dari drainase di Jalan Jenderal Sudirman, Sampit, menggunakan mobil Pump, Kamis (21/5/2026). ANTARA/HO-BPBD Kotim.

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus mempercepat penanganan banjir di Kota Sampit dengan mengerahkan mobil pompa (mobile pump) yang dipinjam dari Balai Wilayah Sungai Kalimantan II Palangka Raya.

“Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, untuk saat ini penanganan banjir masih dilakukan jangka pendek dulu. Salah satunya dengan meminjam mobil pump dari BWS Kalimantan II di Palangka Raya,” kata Wakil Bupati Kotim, Irawati di Sampit, Kamis.

Pengerahan alat itu diutamakan untuk menyedot air pada drainase yang tersumbat, terutama di sejumlah titik rawan genangan di kawasan perkotaan. Salah satunya, di Jalan Jenderal Sudirman, di depan Kantor Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan setempat.

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mengoperasikan mobil pump guna mengalirkan air dari drainase yang mengalami kebuntuan.

Dalam proses pengerjaan, air yang tersumbat disedot menggunakan pompa berkekuatan besar lalu dialirkan menuju drainase di sisi seberang jalan melalui selang berukuran besar yang dipasang melintang di badan jalan.

Agar arus lalu lintas tetap berjalan dan tidak menimbulkan antrean panjang kendaraan, petugas memberlakukan sistem buka tutup selama pekerjaan berlangsung. Langkah itu dilakukan karena posisi selang melintasi ruas jalan utama di pusat Kota Sampit.

Menurut Irawati, penggunaan mobil pump menjadi solusi sementara untuk mempercepat pengurangan genangan air di sejumlah lokasi terdampak banjir, khususnya wilayah yang drainasenya mengalami penyumbatan dan sulit mengalir menuju Sungai Mentaya.

“Kecepatan sedot alat ini sekitar 250 liter per detik. Hari ini dilaksanakan di Jalan Jenderal Sudirman kawasan perkantoran, selanjutnya juga akan dilakukan di sejumlah kawasan permukiman di Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang,” ujarnya.

Ia berharap pengerahan alat tersebut dapat membantu memperlancar aliran air dari drainase perkotaan menuju sungai, sehingga genangan yang selama ini bertahan cukup lama bisa lebih cepat surut.

Baca juga: PT Globalindo Alam Perkasa perkuat pencegahan karhutla melalui sosialisasi dan simulasi bersama masyarakat

Selain itu, Irawati juga meminta dukungan masyarakat apabila nantinya mobil pump dioperasikan di kawasan permukiman warga, mengingat proses pengerjaan membutuhkan akses jalan dan penyesuaian kondisi lingkungan sekitar.

“Saya juga meminta dukungan masyarakat, jika nantinya mobil ini masuk ke kawasan permukiman,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam menjelaskan mobil pump dimanfaatkan untuk penanganan darurat banjir dan genangan, terutama pada kawasan dataran rendah yang mengalami hambatan aliran air akibat drainase tersumbat.

“Selama ada ruang untuk membuang air yang disedot, alat ini bisa maksimal untuk penanganan jangka pendek,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, mobil pump tersebut dipinjam selama tiga hari dari BWS Kalimantan II dan diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu penanganan banjir di beberapa titik Kota Sampit.

Ia juga menyebutkan, proses penyedotan air pada drainase yang buntu di Jalan Jenderal Sudirman memerlukan waktu sekitar dua jam hingga aliran air kembali lancar.

“Untuk penanganan di Jalan Jenderal Sudirman, proses penyedotan air dari drainase yang buntu memakan waktu sekitar dua jam,” ucapnya.

BPBD Kotim selanjutnya akan melakukan pemetaan terhadap lokasi lain yang memungkinkan dilakukan penyedotan menggunakan mobil pump. Namun operasional alat tetap mempertimbangkan kondisi pasang surut Sungai Mentaya agar pembuangan air dapat berjalan efektif.

“Selain kegiatan ini, aktivitas normalisasi drainase juga dilakukan di berbagai titik di Sampit. Hingga saat ini alat berat masih dioperasikan untuk mengatasi pendangkalan dan penyumbatan drainase yang diduga menjadi salah satu faktor utama banjir di wilayah perkotaan sulit surut,” demikian Multazam.

Baca juga: BPS Kotim siapkan 352 petugas untuk Sensus Ekonomi 2026

Baca juga: Sapi Kurban Presiden untuk Sampit berbobot hampir satu ton

Baca juga: Pemkab Kotim dukung penguatan organisasi parpol demi situasi kondusif daerah



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026