
BPS Kotim siapkan 352 petugas untuk Sensus Ekonomi 2026

Sampit (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menyiapkan 352 petugas lapangan untuk pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang dimulai 15 Juni hingga 30 Agustus.
“Rekrutmen petugas ini sudah dalam tahap seleksi sekarang. Kita melibatkan sekitar 352 petugas untuk seluruh wilayah Kotim,” kata Kepala BPS Kotim Eddy Surahman di Sampit, Kamis.
Eddy menjelaskan saat ini tahapan persiapan sensus telah memasuki proses rekrutmen petugas yang sedang dalam tahap seleksi.
Mereka ini nanti bertugas mendata seluruh aktivitas ekonomi masyarakat, mulai dari rumah tangga, UMKM hingga perusahaan besar di seluruh wilayah Kotim.
Hasil seleksi petugas diumumkan 30 Mei 2026. Jumlah pendaftar disebut cukup tinggi karena hampir 500 orang mengikuti proses pendaftaran untuk seluruh wilayah Kotim.
Para petugas bekerja selama masa pendataan atau sekitar dua setengah bulan dengan pembiayaan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Nanti semua petugas ini bertugas turun ke lapangan dimulai 15 Juni sampai 30 Agustus. Masa aktif petugas sensus itu 2,5 bulan sepanjang periode pendataan,” ujarnya.
Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh petugas mendapat pelatihan teknis penggunaan aplikasi dan tata cara pendataan. Diawali dengan apel bersama dan check-in peserta pada 1 Juni, kemudian dilanjutkan sesi pelatihan mulai 2 hingga 12 Juni.
Pelatihan tersebut dibagi dalam tiga gelombang dan masing-masing petugas akan menjalani pembekalan selama tiga hari. Selanjutnya, jumlah petugas di tiap kecamatan disesuaikan dengan beban pendataan di wilayah masing-masing.
“Jumlah petugas per kecamatan nanti dibagi tergantung muatannya, karena satu orang petugas itu nanti mengerjakan sekitar 700 rumah tangga,” jelasnya.
Baca juga: Sapi Kurban Presiden untuk Sampit berbobot hampir satu ton
Sensus Ekonomi merupakan kegiatan pendataan lengkap atas seluruh unit usaha atau perusahaan yang berada dalam batas-batas wilayah suatu negara. Sensus Ekonomi adalah program skala nasional yang dimulai sejak 1986 secara periodik setiap 10 tahun.
Namun, pada Sensus Ekonomi 2026 memiliki cakupan yang lebih luas dibanding sensus sebelumnya. Jika sebelumnya pendataan hanya menyasar rumah tangga yang memiliki usaha, kali ini seluruh rumah tangga akan dicacah secara lengkap.
Melalui metode tersebut, petugas akan terlebih dahulu mendata seluruh rumah tangga, kemudian melakukan pendalaman apabila ditemukan aktivitas usaha di dalam rumah tangga tersebut.
“Kalau sekarang semuanya didata, karena kita melakukan sensus ini secara lengkap. Jadi semuanya akan didata. Misal kalau ada usaha di suatu rumah tangga, maka pertanyaannya masuk ke Sensus Ekonominya lebih detail,” tuturnya.
Disamping rumah tangga dan UMKM, sensus juga menyasar perusahaan besar, termasuk perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan yang beroperasi di Kotim.
Untuk perusahaan besar dan menengah, BPS saat ini telah melakukan pendataan awal melalui metode blasting email dan pengisian mandiri.
Namun apabila perusahaan belum mengisi data hingga batas waktu yang ditentukan, petugas akan melakukan kunjungan langsung.
Eddy juga menyebut, terdapat berbagai indikator yang akan dihimpun dalam sensus tersebut, mulai dari pendapatan usaha, penyerapan tenaga kerja, penggunaan barang modal, produksi hingga kendala yang dihadapi pelaku usaha.
“Jadi bukan hanya pengusaha besar yang didata, tetapi UMKM juga. Apalagi saat ini UMKM jadi primadona di daerah kita. Hampir 98 persen ekonomi Kotim ditopang oleh sektor UMKM. Jadi ini bisa jadi input besar bagi pemerintah dalam menyesuaikan berbagai kebijakannya,” ucapnya.
Kemudian yang berbeda pada Sensus Ekonomi 2026 ini, untuk pertama kalinya sektor pertanian juga ikut didata agar struktur ekonomi daerah dapat tergambar lebih lengkap dan komprehensif.
Dulunya, sektor pertanian ini tidak masuk dalam Sensus Ekonomi karena BPS punya tiga program sensus, yakni Sensus Penduduk, Sensus Pertanian dan Sensus Ekonomi. Sebelumnya sektor pertanian ini masuk dalam Sensus Pertanian.
“Di Sensus Ekonomi 2026 ini untuk pertama kalinya kita juga mendata sektor pertanian supaya datanya lengkap dan komprehensif ketika kita sajikan nanti,” katanya.
Eddy juga menyampaikan, bahwa pada Sensus Ekonomi 2026 ini BPS akan menggunakan sistem pendataan digital melalui aplikasi FASIH (Flexible Authentically Survey in Harmony) yang dioperasikan menggunakan perangkat gawai petugas.
“Petugas kita langsung mendata dengan gadgetnya masing-masing, itu langsung diolah datanya dan langsung masuk ke pusat,” ungkapnya.
Meski berbasis daring, aplikasi tersebut tetap dapat digunakan secara offline, terutama untuk wilayah pedalaman yang memiliki keterbatasan jaringan internet. Data nantinya akan tersinkronisasi otomatis ketika perangkat mendapatkan sinyal.
Karena itu, kepemilikan perangkat gawai yang memadai menjadi salah satu syarat utama dalam proses rekrutmen petugas sensus.
Hasil sensus nantinya diharapkan mampu menunjukkan kekuatan ekonomi daerah, kemampuan penyerapan tenaga kerja, kondisi permodalan hingga potensi sektor unggulan yang berkembang di Kotim.
Data tersebut dinilai sangat penting untuk menggambarkan kekuatan ekonomi daerah sekaligus menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
Data itu juga bermanfaat besar bagi investor dan pelaku usaha dalam melihat peluang investasi di daerah, terutama karena sektor industri pengolahan kini mulai menjadi kontributor utama pembentuk Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kotim.
“Mudah-mudahan kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dari Sensus Ekonomi ini nanti memberikan manfaat yang besar untuk dunia usaha maupun pemerintah daerah,” demikian Eddy.
Baca juga: BMKG sebut peningkatan curah hujan di Kotim dipicu fenomena MJO
Baca juga: Pemkab Kotim dukung penguatan organisasi parpol demi situasi kondusif daerah
Baca juga: Pembina Posyandu Kotim pantau penerapan 6 SPM di Baamang Barat
Pewarta : Devita Maulina
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
