Palangka Raya (Antara Kalteng) - Warga Kota Palangka Raya khususnya masyarakat Suku Dayak yang beragama Hindu Kaharingan menggelar ritual adat "Ma`Mapas Lewu", "Ma`arak Sahur" dan "Palus Mangantung Sahur Lewu" 2015.

"Rangkaian upacara ini dalam rangka menyongsong tahun 2016 sebagai upaya membersihkan diri dari segala bentuk perasaan yang mengotori hati dan pikiran," kata Ketua Majelis Dayak Agama Hindu Kaharingan Kota, Parada, di Palangka Raya, Rabu.

Ritual adat ini digelar selama tiga hari yang dimulai pada (30/12) atau Rabu 2015 dan berakhir pada (1/1) atau Jumat 2016. Ritual Ma`mapas Lewu memiliki arti membersihkan wilayah dari pengaruh perbuatan buruk atau jahat baik yang dilakukan oleh manusia atau pun roh jahat.

Selanjutnya Ma`arak Sahur sebagai ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa, Sahur Parapah, Antang Patahu dan leluhur Kalimantan Tengah yang selama tahun 2015 telah memberikan perlindungan, kesehatan dan kekuatan sehingga masyarakat Palangka Raya mampu melewatinya.

Terakhir ialah Mangantung Sahur Lewu yang bermaksud sebagai wujud permohonan kepada Yang Maha Kuasa, Sahur Parapah, Antang Patahu serta leluhur Kalimantan Tengah agar "Kota Canti" Palangka Raya selalu dijaga dan dilindungi.

"Dilindungi di sini memiliki arti terhindar dari hal-hal yang buruk, baik yang dilakukan oleh manusia atau pun oleh roh-roh jahat," Parada menambahkan.

Sementara Wali Kota Palangka Raya, Riban Satia saat membuka acara itu secara resmi meminta agar berbagai upacara adat yang berada di Ibu Kota Provinsi berjuluk "Bumi Tambun Bungai" dapat terus dilestarikan.

"Agar budaya dan adat yang kita miliki terus dijaga dan dilestarikan sehingga tidak hilang akibat ditelan kemajuan zaman," kata wali kota dua periode itu.

Pihaknya mendukung penuh setiap pelaksanaan adat agar budaya dan kearifan masyarakat lokal terus lestari.

"Harapan kita selain menjaga budaya tetap terjaga juga mampu menambah kunjungan wisatawan yang ingin menyaksikan keragaman budaya, adat dan kearifan masyarakat Palangka Raya," kata Riban.