Sampit (ANTARA) - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah gencar melakukan pengenalan olahraga panjat tebing kepada anak-anak di Sampit sebagai langkah awal mencetak atlet masa depan yang kompetitif.
“Fokus kami sekarang bukan latihan khusus, tapi memperkenalkan panjat tebing ke anak-anak, khususnya usia dini, sebagai bagian dari upaya regenerasi,” kata Ketua Harian FPTI Kotawaringin Timur Halikinnor di Sampit, Senin.
Aktivitas ini terlihat di halaman Gedung Voli Indoor, Jalan Tjilik Riwut, setiap Minggu sore. Sejumlah anak nampak antusias menaklukkan dinding buatan, mengubah kesan bermain menjadi upaya serius mengenal teknik dasar memanjat.
Halikin menjelaskan, bahwa fokus utama organisasi saat ini adalah memperluas jangkauan peminat di kalangan usia dini untuk memastikan keberlangsungan prestasi olahraga ini di wilayah tersebut.
“Regenerasi atlet sangat penting karena keterbatasan jumlah personel saat ini. Melalui sesi latihan rutin setiap Sabtu dan Minggu sore, kami berharap bibit unggul dapat terjaring secara alami dari masyarakat umum,” ujarnya.
Meski awalnya ragu, anak-anak tampak mulai berani menggapai poin demi poin di bawah pengawasan ketat pelatih. Suasana latihan akhir pekan ini menjadi ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin menguji nyali dan ketangkasan fisik.
Antusiasme mulai terlihat dari peningkatan jumlah peserta yang konsisten hadir. Beberapa anak bahkan sudah menunjukkan komitmen tinggi dengan melengkapi peralatan pribadi untuk menunjang progres latihan mereka di lapangan.
“Kalau yang hanya coba-coba cukup banyak, tapi yang terlihat mulai tertarik ada sekitar 8 sampai 10 orang. Bahkan ada sekitar tiga anak yang sudah membeli peralatan panjat tebing dan ikut rutin berlatih bersama kami," ungkapnya.
Baca juga: Pemkab Kotim pastikan tetap maksimal layani JCH di tengah efisiensi anggaran
Secara teknis, usia di bawah 8 tahun dianggap sebagai waktu emas untuk memulai pelatihan. Hal ini dipersiapkan agar saat menginjak usia 10 tahun, para atlet muda sudah memiliki kesiapan mental dan fisik untuk berlaga di level nasional.
“Di tingkat nasional ada pertandingan anak usia 10 tahun. Makanya perlu siapkan sejak jauh-jauh hari, jika ada peluang anak itu bisa ikut berkompetisi di tingkat nasional,” jelas Halikinnor.
Selain mengejar prestasi, olahraga ini diyakini mampu mengasah motorik kasar dan keberanian anak. FPTI Kotim kini juga sedang memperjuangkan agar cabang olahraga ini bisa masuk dalam agenda resmi O2SN tingkat pelajar.
“Rencananya panjat tebing menjadi salah satu yang dipertandingkan dalam O2SN, kami lagi memperjuangkan itu. Keputusan akhirnya akan keluar dalam waktu dekat,” pungkasnya.
Salah satu orang tua peserta, Mashud mengaku sangat mendukung kegiatan ini karena memberikan dampak positif bagi perkembangan sang anak. Ia melihat anaknya menjadi lebih berani dan memiliki fisik yang lebih tangguh selama mengikuti latihan.
“Sebagai orang tua, saya senang ada wadah seperti ini di Sampit. Selain melatih keberanian dan motorik anak, kegiatan ini menjadi penyaluran energi yang positif bagi mereka daripada sekadar bermain gawai,” demikian Mashud.
Baca juga: Pangdam: Jembatan Garuda percepat peningkatan konektivitas di pelosok Kotim
Baca juga: Pembahasan plasma sawit buntu, DPRD Kotim dorong konsultasi sampai ke pusat
Baca juga: Bupati Kotim tegaskan WFH bukan libur, kinerja ASN tetap dipantau