Muara Teweh (Antara Kalteng) - Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah mulai tahun 2016 melakukan ujicoba mengembangkan budidaya ikan seluang (rastora,sp) di kolam kawasan Balai Benih Ikan Desa Trinsing Kecamatan Teweh Selatan, Barito Utara.
"Saat ini kami sedang menyiapkan sarana dan prasaran budidaya ikan seluang yang populasinya banyak di sepanjang Sungai Barito dan anak sungainya," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Barito Utara, Setia Budi di Muara Teweh, Senin.
Menurut Budi, selain itu pihaknya juga membuat rekayasa ekologi yang tujuannya agar ikan saluang yang dibudidayakan merasa hidup di habitat aslinya, sehingga dapat berkembang biak dengan baik.
"Kita juga akan menyeterilkan kolam yang akan digunakan untuk budidaya ikan saluang ini dari pemangsa, seperti ikan Gabus (haruan) dan lainnya," katanya.
Budi mengatakan budidaya ikan saluang itu diharapkan dilaksanakan tahun depan dan dapat berjalan dengan baik dan berhasil, sehingga hasil produksi ikan ini nanti dapat menjadi produk unggulan untuk makan olahan khas Kabupaten Barito Utara.
"Budidaya ikan saluang yang akan kita lakukan nanti arahnya pada produksi, sekaligus untuk percontohan kepada masyarakat yang juga berminat untuk membudidayakan ikan saluang ini," ujar Budi.
Dia mengatakan selama ini populasi ikan seluang di Sungai Barito cukup banyak setelah debit air sungai naik atau banjir, setelah surut maka ikan seluang banyak dipanen warga.
Ikan yang asal mulanya berkembang biak dari sejumlah danau di wilayah Barito Utara itu terbawa arus ke Sungai Barito saat banjir dan melawan arus ke hulu.
Ikan seluang dikenal dengan ikan torpedo karena kemampuannya berenang melawan arus ke wilayah hulu Sungai Barito sehingga terkenal dengan sebutan ikan `Seluang Tewei`. Ikan-ikan inilah yang menjadi makanan ikan lain seperti patin dan jelawat di sungai
"Panen ikan seluang yang merupakan ikan musiman dalam jumlah banyak ini dilakukan warga dengan menggunakan alat tangkap tradisional seperti lunta (jala) dan hauf (alat jaring ikan yang kedua sisinya mengunakan kayu pelepah tumbuhan)," jelas dia.
Alat tangkap ikan jenis hauf ini biasanya yang menggunakannya harus berendam di air atau bisa juga berdiri di kayu yang ujungnya berada di sungai sambil mendorong alat tersebut.
"Pencarian ikan seluang ini biasa dilakukan diatas lanting (bangunan terapung) dan juga di bataran Sungai Barito dengan berendam di dalam air dengan hasil berkilo-kilo," ujarnya.
Kalau ikan seluang lagi "booming" harga ikan seluang dijual Rp10.000 per kilogram
(seluang belum dibersihkan), sedangkan yang sudah dibersihkan diantaranya sisik dan kepalanya dibuang mencapai Rp30 ribu/kg.
Ikan seluang biasanya selain dijual juga dibikin ikan asin dengan dikeringkan dibawah sinar matahari yang memiliki rasa enak itu biasanya menjadi oleh-oleh bagi warga maupun pejabat yang datang ke Muara Teweh dengan harga berkisar Rp25.000-Rp35.000/kg, kata Budi.
