
Kalteng Belum Ada Status KLB DBD

... Selama 2015, ada 281 kasus DBD,"
Palangka Raya (Antara Kalteng) - Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah Suprastidja Budi menyebut Pemerintah Kabupaten/Kota belum ada menetapkan status kejadian luar biasa terhadap Demam Berdarah Dengue walau sudah ada penderita yang meninggal dunia.
Sejak November 2015 telah mengingatkan Kabupaten/Kota mengantisipasi DBD dan apabila jumlah penderita meningkat drastis segera ditetapkan status KLB agar berbagai kekurangan yang dibutuhkan dapat dibantu Dinkes Kalteng, kata Suprastidja di Palangka Raya, Kamis.
"Kalau dalam kondisi normal, penyebaran penyakit DBD biasanya sejak November hingga Maret. Namun sekarang ini cuaca di Indonesia, khususnya Kalteng cenderung kurang normal. Jadi, bisa berubah penyebarannya. Tapi, pada dasarnya musim hujan perlu dilakukan antisipasi DBD," kata dia.
Menurut dia, pemukiman padat penduduk tetap menjadi daerah rawan DBD yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur maupun Kotawaringin barat. Namun, informasi diterima Dinkes Kalteng penderita DBD yang sudah ada korban meninggal dunia yakni Palangka Raya, Barito Utara dan Kapuas.
"Mengenai pencegahan dan obat-obatan bagi penderita DBD sudah dipersiapkan masing-masing kabupaten/kota, sedangkan Pemprov Kalteng hanya bersifat membantu. Kami tentu sudah mempersiapkan obat-obatan maupun fogging, tapi kan belum ada permintaan dari Kabupaten/Kota," kata Suprastidja.
Sebelumnya, Kepala Seksi Wabah dan Bencana Fransiska menyebut seorang warga meninggal dunia akibat terserang penyakit DBD. Korban berinisial MT berumur 32 tahun yang tinggal di Jalan Hiu Putih itu setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Doris Sylfanus selama beberapa jam.
MT sebelumnya mengalami gejala demam selama tiga hari. Namun setelah menjalani pengobatan dan merasa baikan maka pengobatan itu tidak dilanjutkan. Setelah lemas baru dibawa ke Rumah Sakit Doris, sehingga diperkirakan terlambat berobat karena dari informasi saat tiba di rumah sakit trombosit darahnya sudah mencapai 10.000.
"Data yang diperoleh dari beberapa rumah sakit dan puskesmas di wilayah "Kota Cantik" Palangka Raya, setidaknya selama Januari ada 113 warga yang menjadi suspek DBD. Dari jumlah itu 56 di antaranya dinyatakan positif dan satu orang yang meninggal dunia akibat terserang penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk itu. Selama 2015, ada 281 kasus DBD," kata Siska.
Dinkes Palangka Raya menyebut pada Januari hingga Maret menjadi waktu yang harus diwaspadai masyarakat karena pada waktu itu, biasanya DBD akan banyak menyerang masyarakat.
"Bulan-bulan itu masuk musim hujan maka kecenderungan penyebaran DBD juga lebih tinggi," kata Siska.
Pewarta : Jaya Wirawana Manurung
Editor: Ronny
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
