
Program integrasi sapi-sawit percepat swasembada daging

Sampit (Antaranews Kalteng) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, terus mendorong perusahaan besar swasta perkebunan kelapa sawit menjalankan program integrasi sapi-sawit untuk membantu percepatan swasembada daging.
"Kalau ini berjalan sesuai harapan, saya yakin satu hingga tiga tahun ke depan Kotawaringin Timur sudah mampu swasembada daging. Ini juga menguntungkan perusahaan perkebunan karena mereka akan mendapatkan penghasilan tambahan," kata Kepala Dinas Pertanian Kotawaringin Timur I Made Dikantara di Sampit, Kamis.
Saat ini Kotawaringin Timur membutuhkan sekitar 3.500 ekor sapi per tahun untuk memenuhi permintaan konsumsi daging sapi. Dari jumlah tersebut, baru separuhnya yang bisa dipenuhi peternak lokal, sedangkan sisanya didatangkan dari luar daerah seperti Kalimantan Selatan, Jawa, Nusa Tengara dan lainnya.
Ketergantungan pasokan luar daerah ini diakui berdampak terhadap fluktuasi harga. Saat pasokan terhambat, harga daging sapi biasanya dengan cepat naik. Harga daging sapi di Sampit berkisar Rp110.000 hingga Rp130.000 /kg, bahkan saat permintaan meningkat maka harganya bisa naik menjadi hingga Rp150.000 /kg.
Fakta ini juga menunjukkan bahwa peluang usaha peternakan sapi masih sangat besar. Peluang ini harus ditangkap dengan baik, sekaligus membantu Kotawaringin Timur agar berswasembada daging sehingga tidak perlu mendatangkan sapi dari luar daerah.
Potensi program integrasi sapi-sawit karena Kotawaringin Timur merupakan daerah di Kalimantan Tengah yang memiliki jumlah perusahaan perkebunan terbanyak dan areal kebun kelapa sawit terluas. Ini menjadi potensi besar karena perkebunan kelapa sawit memiliki sumber pakan melimpah untuk sapi dari bagian-bagian yang sudah tidak dimanfaatkan.
Made menyebutkan, saat ini sudah ada sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Mentaya Hulu yang menjalankan program integrasi sapi-sawit dengan jumlah sapi sekitar 400 ekor. Selain itu, juga ada dua perusahaan lainnya yang menjalankan program serupa.
Populasi sapi di kabupaten ini saat ini 7.000 ekor dan yang produktif berkisar 4.000 sampai 5.000 ekor. Selain itu, banyak pula pengusaha yang mendatangkan sapi untuk penggemukan, kemudian dijual ke pasar.
Made berharap pembahasan rancangan peraturan daerah tentang program integrasi sapi-sawit bisa terwujud tahun 2019 nanti. Peraturan daerah tersebut diharapkan dapat mendorong optimalisasi program tersebut sehingga swasembada daging bisa terwujud.
"Kalau peraturan daerahnya jadi maka bisa diwajibkan bagi perusahaan untuk menjalankan program integrasi sapi-sawit. Saya yakin peraturan daerah nanti bisa membantu mencapai swesmbada," demikian Made.
Pewarta : Norjani
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
