Logo Header Antaranews Kalteng

Mahasiswa FKG UMPR ikuti penguatan kesehatan mental

Senin, 24 November 2025 15:39 WIB
Image Print
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi berkumpul mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Fakultas Psikologi UMPR dengan tema “Penyuluhan Kesehatan Mental pada Gen-Z: Bahayanya Self-Diagnose di Era Digitalisasi”. (ANTARA/HO-UMPR)

Palangka Raya (ANTARA) - Puluhan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi berkumpul mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Fakultas Psikologi UMPR dengan tema “Penyuluhan Kesehatan Mental pada Gen-Z: Bahayanya Self-Diagnose di Era Digitalisasi”.

Dosen Fakultas Psikologi UMPR, Haris Munandar SPsi MPsi di Palangka Raya, Senin menerangkan, acara yang dipuatkan di Asrama Mahasiswa (Dormy) Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (UMPR), itu berlangsung interaktif dan menarik.

“Kami melihat fenomena self-diagnose atau mendiagnosis diri sendiri semakin marak di kalangan Gen-Z. Media sosial seperti TikTok dan Instagram dipenuhi konten kesehatan mental yang sayangnya sering disalahpahami,” katanya.

Pada kegiatan Pengabian Kepada Masyarakat (PKM) itu, Haris didampingi tiga mahasiswa Psikologi yakni Syifa, Lenita dan Rafli.

Kegiatan dimulai dengan pretest untuk mengukur pemahaman awal peserta tentang kesehatan mental dan praktik self-diagnose. Hasilnya cukup mengejutkan, mayoritas peserta mengaku pernah mendiagnosis diri sendiri berdasarkan konten di media sosial.

"Yang membuat acara ini berbeda adalah metode penyampaiannya yang dikemas secara kreatif. Syifa, Lenita, dan Rafli memfasilitasi beberapa game psikologi yang membuat peserta tertawa sekaligus berpikir," katanya.

Melalui studi kasus interaktif, peserta diajak berdiskusi dan berpikir kritis.
Haris Munandar menekankan bahwa self-diagnose bisa berbahaya karena dapat menyebabkan self-stigma, pengobatan yang tidak tepat, hingga mengabaikan kondisi medis sebenarnya.

“Merasa sedih bukan berarti depresi klinis. Gugup sebelum presentasi bukan otomatis anxiety disorder. Ada kriteria diagnostik yang jelas dan hanya profesional yang bisa menegakkannya,” jelasnya.

Lenita dan Syifa, mahasiswa pendamping, menambahkan pentingnya literasi digital dalam mengonsumsi konten kesehatan mental.

“Kita ajari peserta cara memilah konten yang kredibel, melihat latar belakang pembuat konten, dan kapan harus mencari bantuan profesional,”
katanya.

Di penghujung acara, posttest dilakukan untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasilnya sangat menggembirakan, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta tentang bahaya self-diagnose dan pentingnya mencari bantuan profesional.

"Alhamdulillah, dari posttest terlihat bahwa 87 persen peserta kini memahami perbedaan antara gejala sementara dengan gangguan mental yang perlu penanganan klinis," katanya.

Syifa, Lenita, dan Rafli menutup kegiatan dengan mengajak seluruh peserta untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini mendapat apresiasi tinggi dari peserta. Mereka berharap kolaborasi antara Fakultas Psikologi dan Kedokteran Gigi UMPR bisa terus berlanjut dengan tema-tema kesehatan mental lainnya yang relevan dengan kehidupan mahasiswa.

Baca juga: Dosen FISIPOL UMPR perkuat organisasi masyarakat desa dalam advokasi

Baca juga: Mahasiswa FH UMPR dalami hukum adat lewat studi lapangan

Baca juga: Dosen FAI UMPR perkuat pemahaman konsep sekolah sadar mutu



Pewarta :
Editor: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026