Logo Header Antaranews Kalteng

Siasat perhotelan hadapi tantangan ekonomi

Rabu, 4 Februari 2026 12:45 WIB
Image Print
Ilustrasi - Pekerja hotel (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Jakarta (ANTARA) - Founder dan CEO perusahaan manajemen hospitality Mora Group Andhy Irawan mengatakan pelaku industri perhotelan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menghadapi tantangan ekonomi, termasuk potensi penurunan pendapatan di tengah biaya operasional yang tetap tinggi.

Hal tersebut diutarakan Andy dalam diskusi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bertajuk “Di Balik Klaim Pertumbuhan Pariwisata: Perspektif Bisnis Hotel” di Press Room Kementerian Pariwisata, Selasa.

“Paling enggak untuk existing, kita sudah prepare worst scenario. Tapi ini enggak se-ekstrem pandemi,” kata Andhy.

Ia menjelaskan, langkah antisipasi yang dibahas di internal industri antara lain penyesuaian jam kerja hingga skema unpaid leave atau cuti tidak berbayar apabila kondisi memburuk. Namun, ia menegaskan industri berupaya menghindari pemutusan hubungan kerja.

“Pendapatan berkurang, tapi cost tetap jalan. Kita enggak mecat. Kalau memang harus, ya penyesuaian, misalnya gaji 60 persen,” ujarnya.

Menurut Andhy, tantangan ekonomi saat ini tetap berdampak pada kinerja industri, namun skalanya masih dapat dikelola. Ia menilai situasi tersebut menjadi pelajaran dari krisis sebelumnya.

“Kalau krisis, pasti ada dampak. Tapi ini bukan balik ke pandemi. Kita sudah belajar dari kemarin,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Andhy menyebut sejumlah unit hotel yang dikelolanya masih mencatatkan kinerja positif, khususnya di beberapa daerah.

“Secara overall masih oke. Surabaya leading, Banjarbaru juga very leading. Bahkan ada yang sampai nolak-nolak,” ujarnya.

Ia menambahkan, strategi selektif dalam pengelolaan bisnis menjadi kunci menjaga kinerja. Menurut dia, fokus pada target dan segmentasi yang jelas membuat industri tetap bergerak.

“Saya sekarang lebih selected. Karena saya tahu goals-nya,” kata Andhy.

Selain faktor ekonomi, Andhy menilai tantangan industri perhotelan juga berkaitan dengan tata kelola, termasuk persoalan perizinan dan pengawasan akomodasi non-hotel. Ia menilai pemerintah daerah memiliki peran penting dalam pengaturan tersebut.

“Balik lagi ke mengatur. Kalau aturannya benar, fair, industri juga sehat,” ujarnya.

Ia mencontohkan isu akomodasi berbasis sewa jangka pendek yang dinilai perlu pengawasan lebih ketat agar tidak menimbulkan persaingan yang tidak seimbang dengan hotel.

“Bukan soal ada atau tidak ada, tapi bagaimana mengaturnya,” kata Andhy.Menurut dia, penguatan tata kelola menjadi kunci agar industri perhotelan tetap resilien (tangguh) menghadapi tantangan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan pariwisata nasional.



Pewarta :
Editor: Nano Ridhansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2026