Logo Header Antaranews Kalteng

Pemkab Kotim semakin gencarkan pencegahan stunting sejak 1000 HPK

Rabu, 22 April 2026 17:24 WIB
Image Print
Para ibu memberikan telur untuk anaknya pada kegiatan Penggerakan Masyarakat Gerakan Cegah Stunting Kotim 2026 yang digelar di Puskesmas Baamang I, Rabu (22/4/2026). ANTARA/Devita Maulina.

Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menggencarkan upaya pencegahan stunting melalui gerakan masyarakat yang menitikberatkan intervensi sejak 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) sebagai langkah strategis membangun generasi sehat dan berkualitas.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kotim Umar Kaderi di Sampit, Rabu, mengatakan anak-anak adalah generasi penerus yang akan memimpin negeri ini di masa yang akan datang.

"Jadi, sangat penting memastikan mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang, agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," ujarnya.

Hal ini ia sampaikan pada kegiatan Penggerakan Masyarakat Gerakan Cegah Stunting Kotim 2026 yang dipusatkan di Puskesmas Baamang I, Kecamatan Baamang.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kotim Khairiah Halikinnor dan jajaran, mengingat TP PKK merupakan mitra strategis pemerintah dalam pengentasan stunting.

Umar menjelaskan, kegiatan penggerakan masyarakat dalam pencegahan stunting rutin dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan, baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan, dengan melibatkan berbagai pihak mulai dari kecamatan hingga desa.

"Ini adalah bentuk edukasi dan kolaborasi antara tenaga kesehatan dengan camat, lurah, kepala desa, PKK, serta kader posyandu. Kita ingin pemahaman tentang 1000 HPK benar-benar diterapkan, karena stunting itu dimulai sejak dalam kandungan," jelasnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kotim ini menegaskan, bahwa anak merupakan aset berharga bagi masa depan bangsa sehingga pemenuhan gizi seimbang harus menjadi perhatian utama sejak dini.

Sementara sejauh ini, stunting masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia karena tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif, produktivitas, hingga daya saing daerah di masa depan.

"Penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh, terencana dan berkelanjutan," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya asupan gizi bagi ibu hamil agar pertumbuhan janin optimal dan dapat melahirkan generasi yang sehat dan cerdas. Momentum kegiatan ini juga dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen bersama dalam menekan angka stunting di Kotim.

Kegiatan hari ini yang mengangkat tema 'Aksi Nyata Keluarga Sehat: Pencegahan Stunting sejak 1000 HPK melalui Edukasi dan Kolaborasi', menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai garda terdepan dalam pencegahan. Namun, upaya tersebut tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan lintas sektor dan organisasi perangkat daerah (OPD).

"Pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Peran keluarga sangat penting, tetapi juga perlu dukungan penuh dari OPD dan seluruh pemangku kepentingan terkait," tambahnya.

Pemerintah daerah telah berkomitmen meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui berbagai program, termasuk penyuluhan bagi ibu hamil, balita, dan anak sekolah. Disamping itu, kegiatan edukasi juga diperkuat dengan demonstrasi pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal yang dinilai lebih terjangkau dan bernilai gizi tinggi.

"Pemanfaatan pangan lokal bisa menjadi solusi nyata dalam pencegahan stunting. Kami berharap kegiatan ini memotivasi kader posyandu dan keluarga agar lebih aktif memastikan asupan gizi anak," lanjutnya.

Baca juga: Bupati Kotim tegaskan kepala desa wajib pahami pengelolaan dana desa

Umar menambahkan, saat ini, angka stunting di Kotim masih berada di angka 21,6 persen berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), sementara target nasional pada 2026 berada di kisaran 17 persen. Pemerintah daerah pun menargetkan penurunan signifikan melalui berbagai intervensi, termasuk pemberian makanan tambahan dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Harapannya tidak muncul kasus stunting baru dan kasus yang ada bisa kita eliminasi secara bertahap," tandasnya.

Kegiatan penggerakan masyarakat dalam pencegahan stunting tersebut juga diisi dengan pemberian telur sebagai salah satu sumber protein hewani yang mudah dijangkau, sekaligus edukasi langsung terkait pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi ibu hamil dan balita.

Baca juga: Bupati Kotim kukuhkan 17 DPK Apdesi demi perkuat kolaborasi desa

Edukasi ini disampaikan oleh tenaga kesehatan kepada para ibu dan kader posyandu, mulai dari pemahaman stunting, pentingnya 1.000 HPK, hingga praktik pemberian makanan bergizi berbasis bahan lokal.

Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang interaksi antara masyarakat dan tenaga kesehatan untuk berdiskusi mengenai kendala yang dihadapi dalam pemenuhan gizi keluarga sehari-hari.

Antusiasme masyarakat terlihat dari keikutsertaan para ibu yang aktif bertanya dan mengikuti arahan yang diberikan, sehingga diharapkan pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya sangat terbantu dengan kegiatan ini, karena jadi lebih paham tentang gizi anak dan pentingnya mencegah stunting sejak hamil. Apalagi dengan pembagian telur ini sangat membantu kami untuk memenuhi kebutuhan gizi anak di rumah," demikian Anita, salah seorang ibu peserta kegiatan.

Baca juga: KSOP Sampit jemput bola layani penerbitan E-Pas Kecil bantu masyarakat

Baca juga: Bupati Kotim instruksikan seluruh OPD bersiap hadapi dampak kemarau

Baca juga: Disdik Kotim dorong peran guru PAI cetak generasi berakhlak mulia



Pewarta :
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026