Dokter : Kanker tidak bisa sembuh tapi dapat dikendalikan
Minggu, 4 Desember 2022 11:59 WIB
Ilustrasi kanker. (Pexels)
Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Onkologi dari RSUP Persahabatan dr. Oni Khonsa, Sp.OG, Subsp. Onk mengatakan penyakit kanker tidak bisa disembuh namun dapat dikendalikan.
"Kalau kanker itu definisinya bukan sembuh, dia sama seperti asma, hipertensi, diabetes, ada kekambuhan bila tidak dikontrol, jadi pengobatan ini biar lebih terkontrol," ujar dr. Oni dalam webinar "AstraZeneca: Kampanye 10 Jari" di Jakarta, Sabtu.
Lebih lanjut, dr. Oni mengatakan kanker bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan layaknya tuberkulosis (TB). Kanker sendiri memiliki banyak jenis hingga tingkat keparahan yang berbeda.
Menurut dr. Oni, kambuh atau tidaknya sel kanker sangat ditentukan dari pengobatan, terapi dan juga gaya hidup pasiennya.
"Sesering apa kambuhnya? Itu sangat erat dengan stadium, jenis kankernya dan kondisi-kondisi lain penyerta pasien, bagaimana membuat pola hidup yang baik," ujar dr. Oni.
Sementara itu, dr. Oni juga mengatakan bahwa kista tidak selalu menjadi cikal bakal dari kanker. Hanya kista endrometrium saja yang bisa berkembang menjadi kanker.
Meski demikian, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui ganas atau tidaknya jenis kista tersebut.
"Mengarah ke ganas atau tidak dilihat dari tes, kista yang diduga jinak bisa berubah sifatnya. Ini bisa bertransformasi karena ada paparan karsinogen seperti dari zat kimia, rokok, vape," kata dr. Oni.
"Kalau ternyata waktu diperiksa kistanya masih eksis, terutama endrometrium maka hindari potensi karsinogen. Kista harus diambil dan dilihat jinak atau enggak tapi kalau enggak diambil harus dipantau terus," lanjutnya.
"Kalau kanker itu definisinya bukan sembuh, dia sama seperti asma, hipertensi, diabetes, ada kekambuhan bila tidak dikontrol, jadi pengobatan ini biar lebih terkontrol," ujar dr. Oni dalam webinar "AstraZeneca: Kampanye 10 Jari" di Jakarta, Sabtu.
Lebih lanjut, dr. Oni mengatakan kanker bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan layaknya tuberkulosis (TB). Kanker sendiri memiliki banyak jenis hingga tingkat keparahan yang berbeda.
Menurut dr. Oni, kambuh atau tidaknya sel kanker sangat ditentukan dari pengobatan, terapi dan juga gaya hidup pasiennya.
"Sesering apa kambuhnya? Itu sangat erat dengan stadium, jenis kankernya dan kondisi-kondisi lain penyerta pasien, bagaimana membuat pola hidup yang baik," ujar dr. Oni.
Sementara itu, dr. Oni juga mengatakan bahwa kista tidak selalu menjadi cikal bakal dari kanker. Hanya kista endrometrium saja yang bisa berkembang menjadi kanker.
Meski demikian, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui ganas atau tidaknya jenis kista tersebut.
"Mengarah ke ganas atau tidak dilihat dari tes, kista yang diduga jinak bisa berubah sifatnya. Ini bisa bertransformasi karena ada paparan karsinogen seperti dari zat kimia, rokok, vape," kata dr. Oni.
"Kalau ternyata waktu diperiksa kistanya masih eksis, terutama endrometrium maka hindari potensi karsinogen. Kista harus diambil dan dilihat jinak atau enggak tapi kalau enggak diambil harus dipantau terus," lanjutnya.
Pewarta : Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor : Admin Kalteng
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Fakultas Farmasi UMPR gelar kuliah pakar bertema nanoherbal untuk pengembangan obat bahan alam
12 February 2026 19:17 WIB
Pelatihan cetak inovator herbal UMPR dorong kemandirian-inovasi obat tradisional
26 November 2025 12:33 WIB
Penelitian ungkap obat kumur anti kuman bisa gunakan ekstrak bawang putih
20 November 2025 11:30 WIB
Mahasiswa Farmasi UMPR lestarikan kearifan lokal lewat buku saku tanaman obat Suku Dayak
13 November 2025 15:09 WIB
Bupati Kotim apresiasi prestasi pelajar SMPN 1 Sampit mengangkat manfaat gelinggang
19 September 2025 5:12 WIB
FK-Fakultas Farmasi UMPR edukasi ibu pengajian tentang pemanfaatan tanaman obat
25 August 2025 12:56 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
PJB perlu ditangani sejak dini demi mencegah risiko komplikasi kelainan paru-paru
12 February 2026 16:28 WIB