Palangka Raya (ANTARA) - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kalimantan Tengah (Kalteng) Muhammad Reza Prabowo memaparkan implementasi Program Sekolah Gratis yang telah berjalan sepanjang tahun 2025.

‎“Pak Gubernur Agustiar Sabran menginginkan agar bantuan sekolah gratis ini benar-benar dirasakan oleh anak-anak kita, khususnya peserta didik yang tidak mampu dan mereka yang berada di wilayah pedalaman. Itu menjadi konsen utama beliau dan juga menjadi tanggung jawab kita bersama,” tegas Reza di Palangka Raya, Senin.

Dijelaskannya terdapat sejumlah sekolah yang benar-benar membebaskan peserta didik dari pungutan Biaya Penunjang Pendidikan (BPP), sehingga sepenuhnya mengandalkan pendanaan dari BOSP dan BOSDA.

Namun demikian, Reza juga menjelaskan di beberapa sekolah masih diberlakukan BPP dengan skema subsidi silang.

Peserta didik dari keluarga mampu tetap dikenakan BPP, sementara siswa dari keluarga tidak mampu dibebaskan dari pungutan tersebut.

‎“Ini langkah yang sangat luar biasa dan harus kita apresiasi bersama. Kita semua harus sadar bahwa pendidikan adalah sektor yang selalu menjadi sorotan. Jangan sampai apa pun yang kita lakukan justru menimbulkan pertanyaan, ketidakpuasan, atau persepsi negatif di masyarakat,” tegasnya.

‎Baca juga: DPRD Kalteng tegaskan wacana WFA tidak boleh ganggu pelayanan publik

Lebih lanjut dia ‎mengatakan peningkatan kualitas pelayanan publik di sektor pendidikan harus terus dijaga, kendati berhadapan dengan tantangan keterbatasan anggaran.

‎“Dulu APBD kita berada di angka Rp10,2 triliun, sekarang hanya sekitar Rp5,3 triliun. Dampaknya sangat terasa di Dinas Pendidikan. Jika sebelumnya kami mengelola sekitar Rp2,3 triliun dari mandatory 20 persen, kini hanya sekitar Rp1,3 triliun. Artinya ada penurunan hampir Rp1 triliun atau sekitar 45 persen,” ujarnya.

‎Meski demikian, Reza menegaskan pengurangan anggaran tidak boleh menjadi alasan menurunnya kualitas pelayanan publik.

Ia menyebutkan tingkat kepuasan peserta didik di Kalimantan Tengah mencapai 97,3 persen, dan capaian tersebut harus terus dipertahankan melalui kerja sama seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

‎“Ini bukan kehebatan saya atau dinas semata, tetapi hasil kerja bersama. Ketika kita kompak, solid, dan memiliki visi yang sama, maka tujuan meningkatkan kualitas pendidikan akan tercapai,” ujarnya.

‎Lebih lanjut, Reza mengakui pengelolaan dana BOS dan BOSDA pada masa sebelumnya masih menimbulkan stigma negatif di masyarakat.

Oleh karena itu, Disdik Kalteng berupaya menghadirkan transparansi melalui pemanfaatan platform PENA Kalteng agar pengelolaan anggaran lebih akuntabel dan dapat dipantau bersama.

‎Hasil evaluasi internal menunjukkan sebagian besar alokasi dana masih terserap untuk kebutuhan operasional sekolah, seperti pembayaran guru honorer dan kebutuhan administrasi lainnya, namun belum sepenuhnya dirasakan langsung oleh peserta didik. Hal inilah yang menjadi perhatian serius Pemprov Kalteng.

Baca juga: Disdik Kalteng perkuat implementasi koperasi sekolah pada 2026

Baca juga: Pemprov-DPRD Kalteng selaraskan tata kelola perpustakaan dan sistem kearsipan

Baca juga: Pemprov Kalteng fokuskan pembangunan sektor prioritas menyikapi penurunan APBD