Sampit (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah mencatat sebanyak 148 pasien HIV/AIDS tengah dalam penanganan dengan mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif.
“Data terakhir, total pasien HIV/AIDS yang terdata di RSUD dr Murjani sebanyak 148 orang, dan yang rutin berobat sekitar 80 pasien,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Anggun Iman Hernawan di Sampit, Senin.
Ia menyampaikan, bahwa layanan medis bagi pasien HIV/AIDS tersedia setiap hari, baik melalui skema rawat jalan maupun rawat inap.
Namun, dari jumlah pasien HIV/AIDS yang terdata hanya sekitar 80 orang yang rutin menjalani pengobatan dengan mayoritasnya merupakan kelompok usia produktif.
Penurunan jumlah pasien yang berobat di rumah sakit ini bukan menandakan kasus berkurang, melainkan dampak dari pemerataan layanan kesehatan.
Saat ini, fasilitas pengobatan HIV/AIDS telah tersedia di RS Pratama Parenggean, Puskesmas Ketapang I dan Puskesmas Baamang II.
“Bahkan, pasien dari luar daerah seperti Kabupaten Seruyan kini diarahkan untuk menjalani perawatan di wilayah asal mereka. Hal ini dilakukan agar pelayanan kesehatan tidak lagi menumpuk secara terpusat di RSUD dr Murjani saja,” ujarnya.
Berdasarkan profil medis, penderita didominasi oleh warga berusia 25 hingga 49 tahun atau usia produktif. Sedangkan, untuk kasus pada anak-anak maupun lanjut usia (lansia) relatif jarang ditemukan.
Pola penularan HIV/AIDS di Kotim berbeda dengan sejumlah daerah lain. Jika di Jawa banyak kasus terjadi akibat penggunaan jarum suntik narkoba, di Kotim penularan lebih banyak disebabkan perilaku seks bebas, baik heteroseksual maupun homoseksual.
“Rata-rata penderita berada di usia produktif. Penularan yang paling banyak kami temukan terjadi melalui hubungan seksual. Karena itu, edukasi dan pencegahan menjadi sangat penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, lebih memahami risiko dan menjaga perilaku hidup sehat,” jelas dr Imam.
Baca juga: Pemkab Kotim pertahankan program jaminan kesehatan masyarakat di tengah efisiensi anggaran
Fenomena ini menjadi perhatian serius karena kelompok usia tersebut merupakan tulang punggung pembangunan daerah.
Disebutkan pula, bahwa banyak pasien baru menyadari status kesehatan mereka setelah muncul keluhan penyakit penyerta. Misalnya, pasien datang karena keluhan tertentu, tapi setelah diperiksa mengarah kepada infeksi HIV/AIDS.
Sementara itu, secara medis virus HIV/AIDS sebenarnya sudah dapat terdeteksi sekitar tiga bulan setelah terpapar, meskipun gejala klinis baru muncul satu hingga lima tahun kemudian.
“Banyak penderita tidak merasakan gejala selama bertahun-tahun. Bahkan ada kasus pasangan yang lebih dulu sakit dan meninggal, baru kemudian diketahui bahwa pasangannya juga terinfeksi HIV/AIDS,” bebernya.
Ia menambahkan, sejauh ini belum ditemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS secara total. Pengobatan HIV/AIDS yang ada saat ini bertujuan untuk menekan pertumbuhan virus agar sistem kekebalan tubuh tetap terjaga.
Meski harus dikonsumsi seumur hidup, pengobatan rutin mampu membuat pasien hidup normal dan menekan risiko penularan ke tingkat yang sangat rendah.
“Kalau viral load (partikel virus) di bawah 5.000 kopi, kita anggap terkendali. Pasien bisa hidup normal, tapi obat harus diminum seumur hidup. Jika pengobatan dihentikan, virus bisa kembali aktif,” demikian dr. Iman.
Baca juga: DPRD Kotim tekankan perlunya langkah konkret hadapi karhutla
Baca juga: Pemkab Kotim apresiasi dedikasi SMPN 1 Sampit turut membangun SDM
Baca juga: RSUD Murjani Sampit kembali layani penuh pasien stroke dan jantung