Minta hujan, Pemkab dan masyarakat Dayak Kobar gelar ritual Menuba Adat

id kabupaten kotawaringin barat,kobar,bupati kobar,nurhidayah,ritual menuba adat

Minta hujan, Pemkab dan masyarakat Dayak Kobar gelar ritual Menuba Adat

Bupati Kobar HNurhidayah (koas kuning) dan Wakil Bupati Kotawaringin Barat Ahmadi Riansyah (bertopi) memperlihatkan seekor ikan Belida hasil tangkapan Wakil Bupati Ahmadi Riansyah bersama seorang kerabatnya. (Foto Antara/Hendri Gunawan).

Pangkalan Bun (ANTARA) - Pemerintah dan masyarakat Dayak yang ada Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, menggelar ritual menuba adat atau meracun ikan menggunakan  getah dari akar tuba, dengan tujuan meminta kepada sang pencipta agar menurunkan rahmat hujan.

Ritual itu merupakan salah satu budaya leluhur suku dayak yang biasa dilakukan saat dilanda kemarau panjang dengan tujuan meminta hujan, kata Bupati Kobar Nurhidayah di Pangkalan Bun, kemarin.

"Alhamdulillah sejak malam tadi, ketika kami memulai rangkaian ritual Menuba Adat, sampai dengan pagi ini rahmat hujan sudah diturunkan. Ini sebuah mukjizat dari Allah Subhana Wa Taala," ucapnya.

Dikatakan, setelah hujan turun, pemkab bersama masyarakat suku bergembira dan bersuka cita dengan melakukan panen ikan gratis. Hal itu juga merupakan rangkaian dari ritual menuba adat.

Nurhidayah pun berkeinginan adag ritual Menuba adat tersebut kedepannya akan dimasukkan ke dalam kelender pariwisata dan dijadikan event tahunan, yang rencananya akan di barengkan dengan momen hari jadi Kecamatan Arut Utara.

"Saya mengimbau kepada masyarakat yang ada di bantaran Sungai Arut, agar bersama-sama menjaga sungai Arut. Sebab, Arut itu juga salah satu faktor penting keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Mari kita jaga alam, dan alam pasti menjaga kita," kata Bupati Kobar itu.

Terpisah, salah seorang tokoh adat Kecamatan Arut Utara Yoner menuturkan, ritual menuba adat ini bukan buatan mereka, melainkan warisan dari nenek moyang mereka, yang dari zaman dahulu juga sudah merasakan kemarau mulai dari jangka waktu tiga bulan, enam bulan bahkan ada sampai sembilan bulan.

Baca juga: Kobar mulai kembangkan hutan hak dengan pola kemitraan

"Berdasarkan cerita dari orang tua kami dulu, ketika dilanda kemarau panjang semua tokoh adat khususnya di Arut Utara berkumpul, merundingkan bagaimana caranya mendatangkan hujan hingga muncullah ritual tuba adat atau menuba adat ini," ucap Yoner

Dia mengatakan menuba adat ini tujuan utamanya bukan semata-mata untuk mendapatkan ikan melainkan berdoa untuk meminta turun hujan, panen ikan tersebut hanyalah luapan suka cita kita usai melakukan ritual dan dituruni hujan.

Yoner mengaku senang apabila ritual menuba adat ini dijadikan event tahunan yang bakal digarap dan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

"Artinya kedepan, selain kelestarian budaya leluhur tetap terjaga, rangkaian kegiatan menuba adat ini pun akan dikemas lebih meriah sehingga mampu menarik minat wisatawan dan menjadi sektor pariwisata baru di Kotawaringin Barat khususnya di Kecamatan Arut Utara," kata Yoner.

Sebagai informasi, menuba adat kali ini dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Arut Utara diantaranya di Desa Gandis dan Desa Riam, namun masyarakat yang tumpah ruah di sungai mengikuti ritual menuba tidak hanya masyarakat dari dua desa tersebut tetapi juga berasal dari desa-desa terdekat bahkan ada beberapa kelompok buang berasal dari luar Kecamatan Arut Utara.

Ada tiga jenis ikan yang mendominasi hasil tangkapan masyarakat dalam ritual menuba adat kali ini diantaranya ikan Kaliaki, Ikan Belida dan Ikan Baung dengan kisaran berat mulai dari tujuh ons sampai dengan lima hingga belasan kilogram.

Baca juga: Polres Kobar tangkap 12 tersangka pembakar lahan

Baca juga: Pemkab Kobar mulai antisipasi ancaman banjir di Kumai

Pewarta :
Uploader : Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar