
Komisi II DPRD Kotim tinjau langsung depo sampah samping SMPN 3 Sampit

Sampit (ANTARA) - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah turun langsung untuk mengecek kondisi terkini depo sampah di samping SMPN 3 Sampit setelah diterapkannya sistem baru oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.
"Klaim dari Kepala DLH bahwa depo itu sudah tidak bau lagi, makanya hari ini kami turun untuk mengecek langsung. Memang dibandingkan sebelumnya bau sampah yang keluar dari depo itu sudah berkurang," kata Ketua Komisi II DPRD Kotim Akhyannoor di Sampit, Senin.
Dalam kegiatan itu, Akhyannoor turut didampingi Sekretaris Komisi II DPRD Kotim Supian Hadi, serta anggotanya yakni Andi Lala, Hendra Sia, Zainuddin, Pardamean Gultom dan Seto Hadi.
Pihaknya juga menemui Kepala SMPN 3 Sampit untuk meminta tanggapan dari pihak sekolah mengenai klaim bahwa depo sampah tersebut sudah tidak menimbulkan bau setelah DLH mempercepat proses pengangkutan sampah dari depo ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Berdasarkan peninjauan langsung dan keterangan dari kepala sekolah, Akhyannoor menyebutkan bahwa bau tidak sedap dari depo sampah yang sampai ke sekolah memang sudah berkurang, namun belum bisa disebut tidak berbau sama sekali.
Kendati begitu, ia tidak lantas menyalahkan sistem baru yang diterapkan DLH, karena cara itu terbukti mengurangi bau menyengat dari depo sampah tersebut.
"Bagaimanapun juga yang namanya sampah pasti bau, bahkan sampah di rumah kita pun ada baunya, tetapi kalau dibandingkan dengan kunjungan kami sebelumnya bau yang keluar saat ini memang berkurang," tuturnya.
Ia melanjutkan, berdasarkan pengamatan pihaknya di lokasi, lantai semen depo sampah yang berlubang menjadi salah satu penyebab masih adanya bau yang keluar dari bangunan itu. Air dari pembusukan sampah itu meresap melalui lubang di lantai tersebut ke tanah sehingga membuat lembab dan bau. Tak hanya itu, beberapa bagian atap juga bocor.
"Keinginan kami dari Komisi II dan setelah berbincang dengan petugas DLH, kami akan ajukan permohonan penganggaran untuk perbaikan atap dan lantai cor sehingga bagus dan diharapkan bisa lebih mengurangi bau yang keluar," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 3 Sampit Siti Khadijah membeberkan adanya perubahan sejak ia menyurati Bupati Kotim pada September 2025 lalu terkait keluhan atau aspirasi pihak sekolah maupun wali murid mengenai depo sampah yang menimbulkan bau menyengat.
"Juli itu kan tahun ajaran baru, banyak murid baru yang masih penyesuaian sehingga banyak keluhan mengenai bau dari depo sampah, termasuk dari orang tua juga, sehingga kami secara prosedur menyampaikan aspirasi ke Bupati," tuturnya.
Baca juga: DLH Kotim perbaiki sistem untuk optimalkan pengelolaan sampah
Menurutnya, surat tersebut segera ditindaklanjuti dengan penutupan pintu samping depo, selain itu tidak ada lagi sampah yang meluber sampai ke jalan. Bau pun berkurang meski tidak hilang sepenuhnya.
Walaupun masalah bau ini bisa lebih dikurangi dengan cara pengecoran lantai depo sampah seperti rencana pihak legislatif, namun Siti mengungkapkan harapan sebenarnya dari pihaknya bukan itu.
Pihaknya justru menagih janji awal yang pernah disampaikan pemerintah saat sosialisasi pembangunan depo tersebut, yakni terkait sanitasi sampah menggunakan desinfektan.
Penggunaan desinfektan ini diyakini lebih efektif dalam menghilangkan bau, sekaligus membunuh bakteri penyakit dari depo sampah yang bisa menyebar melalui udara.
"Jadi walaupun nanti itu di semen, setelah sampah diangkut perlu disemprot lagi dengan desinfektan, supaya baunya tidak muncul. Itu harapan kami kalau memang pemerintah memutuskan bahwa depo sampah itu tetap di situ," demikian Siti Khadijah.
Baca juga: Bunda PAUD Kotim perkuat garda terdepan pencegahan stunting
Baca juga: Komitmen perangi narkoba, ratusan pejabat di Kotim ikuti tes urine massal
Baca juga: SMPN 1 Sampit klarifikasi video viral terkait MBG
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
