Logo Header Antaranews Kalteng

Diskominfo Kotim perkuat silaturahim sekaligus promosikan Wisata Durian Jemaras

Kamis, 1 Januari 2026 06:22 WIB
Image Print
Suasana kebersamaan lintas instansi di Kotim dalam menyambut pergantian tahun dengan menikmati wisata durian di Desa Jemaras, Rabu (31/12/2025). ANTARA/Devita Maulina

Sampit (ANTARA) - Menutup kalender 2025 dengan kesan manis, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah menggelar silaturahim lintas instansi dengan cara yang unik, yakni menikmati durian langsung di kebun durian.

“Kegiatan ini bertujuan untuk silaturahim antar beberapa instansi. Kegiatan ini bersifat dadakan, kami sengaja memilih 31 Desember karena ini tanggal terakhir di penghujung 2025, karena kami ingin menutup tahun ini dengan yang manis-manis,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Diskominfo Kotim Adi Candra di Sampit, Rabu.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga yang turut dihadiri oleh Wakil Bupati Kotim Irawati, Kepala Bandara Haji Asan Sampit Abdul Haris dan jajaran, Kepala KSOP Kelas III Sampit Hotman Siagian dan jajaran, perwakilan Korem 102/Pjg, Kejari Kotim dan lainnya.

Ibarat kata pepatah ‘sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui’, disamping memperkuat silaturahim demi terjalinnya sinergi yang baik antar lembaga pemerintahan, kegiatan ini juga menjadi sarana promosi wisata lokal.

Melalui kegiatan ini pula, pihaknya berupaya menegaskan potensi dan eksistensi durian lokal di tengah masyarakat luas. Pasalnya, seringkali durian asli Desa Jemaras ketika dijual di luar Kotim justru diklaim berasal dari daerah lain.

Hal tersebut dinilai sangat disayangkan, karena ini dapat menjadi nilai tambah di sektor pariwisata Kotim dan tentunya bisa membantu para petani durian lokal dalam memasarkan hasil panen.

“Durian di sini asli dari Desa Jemaras bukan dari daerah lain. Karena ada beberapa durian yang dijual di Palangka Raya atau kota lainnya itu diklaim dari salah satu kabupaten di Kalteng, padahal bagi pecinta durian itu jelas berbeda,” ujarnya.

Baca juga: Pemkab Kotim sambut pergantian tahun dengan doa dan refleksi diri

Ia menambahkan, durian Desa Jemaras memiliki keunggulan rasa yang tidak kalah dengan daerah lain. Berbagai varian seperti durian Mentega, Otak Udang, Kempeng, hingga Bawor tersedia di sini.

Oleh karena itu, pihaknya berupaya membangun citra durian lokal ini agar bisa bersaing dengan durian dari daerah lainnya.

“Kita ingin melakukan branding agar durian Cempaga bisa bersaing. Di sini rasanya paling banyak varian dan autentik. Sensasinya pun berbeda karena kita memanen sendiri menggunakan lanjung dan makan langsung di bawah pohonnya,” tambahnya.

Wakil Bupati Kotim Irawati, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi Diskominfo Kotim yang menginisiasi kegiatan tersebut.

Bertepatan dengan libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini, ia pun mengajak masyarakat untuk berkunjung dan menikmati sensasi ‘durian jatuh’ di Desa Jemaras yang telah ditetapkan sebagai desa kuliner tahunan untuk buah musiman tersebut.

“Apalagi di desa ini ada aturan dari kepala desanya bahwa durian tidak boleh dipanjat. Jadi, wisatawan benar-benar menikmati durian yang jatuh dari pohon. Artinya, buah yang kita makan adalah buah yang masak di pohon, bukan dipetik sebelum waktunya,” ujar Irawati.

Kualitas durian lokal ini juga diakui oleh Kepala Bandara Haji Asan Sampit, Abdul Haris yang baru beberapa bulan bertugas di Kotim setelah lama bertugas di Jakarta.

Ia bahkan menyebut durian berwarna oranye atau Otak Udang khas Jemaras memiliki rasa yang lebih legit dibandingkan durian montong, meskipun dari segi ukuran lebih kecil.

“Dulu saya hobi durian, tapi karena faktor usia sempat membatasi. Namun disini saya sampai 'khilaf' karena rasanya memang enak sekali,” ucapnya.

Baca juga: DAD Kotim beberkan hasil investigasi penembakan empat warga di kebun sawit

Pria yang berasal dari Medan ini juga mendorong pengembangan hasil produksi durian, terlebih setelah ia melihat langsung kondisi kebun durian di Desa Jemaras.

Menurutnya, hasil panen durian bisa diolah menjadi produk dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi, seperti pancake durian yang cukup terkenal di Medan dan sering dijadikan oleh-oleh untuk dibawa ke luar daerah.

Setelah diolah menjadi produk oleh-oleh, maka pengirimannya menggunakan transportasi udara maupun laut bisa lebih mudah, karena tidak terlalu mengganggu layaknya buah durian utuh. Ini juga bisa menjadi ciri khas yang mengangkat nama Kotim secara luas.

“Saya melihat ini potensi besar, sayangnya jika tidak dikembangkan. Jika bisa diolah menjadi pancake seperti di Medan, ini akan jadi oleh-oleh khas Kotim yang bernilai tinggi di Jakarta. Semoga ada arah ke sana, karena sayang sekali kalau tidak dikembangkan," saran Haris.

Respons positif juga disampaikan oleh Kepala KSOP Kelas III Sampit Hotman Siagian yang mengaku terkesan dengan pengalaman pertamanya makan durian langsung di kebun.

“Rasanya mantap tidak ada duanya, tidak kalah dengan durian Medan. Saya bahkan habis sekitar 15 butir hari ini. Sangat direkomendasikan,” ungkapnya.

Senada, Ketua PWI Kotim Siti Fauziah, yang ikut serta dalam rombongan, memberikan apresiasi atas inisiatif Diskominfo Kotim dalam mempromosikan aset lokal melalui kegiatan kolaboratif.

“Luar biasa sensasinya makan durian lokal asli Jemaras langsung di kebunnya. Ini sangat direkomendasikan untuk dinikmati. Kami berterima kasih kepada Kadis Kominfo yang telah menginisiasi kegiatan lintas sektor yang penuh keakraban ini,” demikian Siti.

Baca juga: DPRD Kotim minta penanganan darurat ruas jalan Sampit-Seruyan

Baca juga: Penjualan kembang api di Sampit merosot jelang Tahun Baru 2026

Baca juga: KSOP Sampit ingatkan nakhoda tidak memaksakan berlayar saat cuaca buruk



Pewarta :
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026