
Anggota DPRD Kotim beberkan dua alasan Sungai Mentaya harus segera dikeruk

Sampit (ANTARA) - Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Zainuddin mengatakan, pendangkalan alur Sungai Mentaya sudah menimbulkan dampak yang merugikan sehingga sudah seharusnya dilakukan pengerukan alur.
"Dari muara di perairan Ujung Pandarsn sampai ke Pelangsian itu cukup lama belum dikeruk. Kami berharap pemerintah pusat memperhatikan ini," kata Zainuddin.
Menurutnya, setidaknya ada dua alasan sehingga pengerukan alur Mentaya dinilai sudah sangat mendesak. Masalah ini diharapkan menjadi perhatian pemerintah pusat karena pengerukan alur dipastikan akan menelan biaya cukup besar.
Alasan pertama, pendangkalan yang terjadi saat ini membuat Sungai Mentaya cukup cepat meluap saat musim hujan maupun ketika air laut sedang pasang. Akibatnya, jalan dan rumah warga di bantaran sungai menjadi terendam banjir yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Alasan kedua, pendangkalan menyebabkan aktivitas keluar dan masuk kapal menyusuri alur hingga ke Pelabuhan Bagendang maupun Pelabuhan Sampit, terganggu. Pergerakan kapal hanya bisa dilakukan saat sungai pasang, sedangkan saat surut kapal sangat rawan kandas di titik-titik pendangkalan.
Kondisi ini membuat kegiatan ekonomi masih terbatas sehingga keberadaan alur belum bisa dioptimalkan. Padahal jika alur bisa dilewati selama 24 jam non stop maka dampaknya akan sangat positif bagi daerah karena aktivitas ekonomi dipastikan akan meningkat tajam.
"Ini berdampak terhadap ekonomi karena informasinya, sebagian pengusaha lebih memilih mengirim kargo melalui Pelabuhan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat karena lebih lancar setiap hari, sementara di Kotim berjadwal yang tergantung kondisi pasang sungai," timpal Zainuddin.
Baca juga: Legislator Kotim desak polisi perketat keamanan sikapi peningkatan kriminalitas
Zainuddin paham betul kondisinya karena wilayah selatan meliputi empat kecamatan yang dilalui alur menuju pelabuhan, merupakan daerah pemilihan yang diwakilinya. Empat kecamatan tersebut yaitu Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara.
Dia sangat berharap pemerintah pusat segera mengeruk alur Sungai Mentaya, khususnya di titik-titik terdangkal. Jika pengerukan bisa dilakukan, dia yakin kegiatan ekonomi akan meningkat signifikan dan membawa manfaat besar bagi kesejahteraan masyarakat.
"Kapal-kapal yang sering keluar masuk juga terkendala sehingga sering harus menunggu di muara sungai hingga air pasang. Untuk itu sangat diperlukan pengerukan sungai," demikian Zainuddin.
Sementara itu berdasarkan data Dinas Perhubungan, kedalaman sungai Mentaya saat ini sekitar minus 4 meter LWS (Low Water Spring) atau air pasang terendah. Dengan kedalaman tersebut, maksimal kapal kargo yang bisa masuk adalah sekitar 3000 DWT (Dead Weight Tonnage) dan untuk tongkang sekitar 5000 DWT.
Sampai saat ini kapal yang akan berlabuh masih menggantungkan aktivitas pada kondisi pasang surut air Sungai Mentaya karena pendangkalan. Jika sungai sedang surut, kapal harus menunggu di muara sampai sungai kembali pasang sehingga kapal bisa masuk menyusuri alur hingga ke pelabuhan.
Pengerukan alur terakhir dilakukan Juni 2015 lalu oleh Kementerian Pehubungan dengan mengucurkan dana APBN sekitar Rp34 miliar. Dana itu digunakan untuk mengeruk sekitar 500.000 meter kubik lumpur di ambang luar sepanjang 1,8 kilometer dengan lebar 60 meter dan kedalaman antara empat hingga lima meter.
Selain di muara, masih ada pendangkalan di alur dalam yakni dua titik di depan Pos TNI AL dan kawasan Serambut. Dua titik pendangkalan ini juga diusulkan untuk dikeruk agar lalu lintas kapal makin lancar. Selama ini, jika sungai surut maka kapal bisa kandas di titik ini maupun di lokasi dangkal lainnya.
Baca juga: Lima hari terikat, Buaya di Ujung Pandaran akhirnya dilepaskan
Baca juga: Pupuk organik limbah sawit diklaim bikin padi di Desa Bapeang lebih subur
Baca juga: BKPSDM Kotim umumkan tiga kandidat Inspektur
Pewarta : Norjani
Editor: Muhammad Arif Hidayat
COPYRIGHT © ANTARA 2026
