Sampit (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melalui Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan (DCKTRP) kembali menyiapkan skema pembebasan lahan untuk mendukung pengembangan Bandara Haji Asan Sampit.
“Saat ini kami sedang menyiapkan rencana pembebasan lahan selanjutnya, di arah barat samping pintu gerbang yang lama, untuk keperluan pengembangan bandara,” kata Kepala DCKTRP Kotim Rafiq Riswandi di Sampit, Jumat.
Sebelumnya Pemkab Kotim telah melakukan pembebasan lahan di ujung landasan pacu atau runway arah barat dengan luasan kurang lebih lima hektare dan di samping runway dengan luasan 1 hektare lebih untuk pemindahan gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK)
Namun, rupanya lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan bandara satu-satunya di Bumi Habaring Hurung tersebut tidak cukup sampai di situ, sehingga pemerintah daerah kembali menyiapkan rencana pembebasan lahan lainnya.
Lahan yang akan dibebaskan kali ini terletak di samping pintu gerbang lama Bandara Haji Asan Sampit yang menghadap ke Jalan Samekto. Lahan tersebut merupakan kebun milik warga yang ditanami berbagai jenis pepohonan yang semakin tumbuh tinggi.
“Terkait untuk apa lahan itu kedepannya atau dibangun apa itu masuk masterplan dari pihak bandara, jadi kami kurang tau detailnya. Tetapi, pembebasan lahan ini salah satunya berkaitan dengan pohon-pohon tinggi yang ada di lokasi itu,” lanjutnya.
Baca juga: Pemkab Kotim tekankan peran generasi muda dalam menjaga kamtibmas
Rafiq menjelaskan, keberadaan pepohonan yang menjulang tinggi di sekitar bandara dapat menjadi rintangan atau obstacle yang mengganggu keselamatan penerbangan. Apabila terus dibiarkan pohon tersebut akan semakin tinggi dan mengganggu jarak pandang.
Selain itu, adanya rintangan semacam ini juga bisa berdampak terhadap minat dari maskapai penerbangan untuk mau beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit.
Hal tersebut bertentangan dengan keinginan pemerintah daerah yang berupaya untuk menggaet lebih banyak maskapai penerbangan untuk mau beroperasi di Kotim demi terciptanya persaingan antar maskapai yang sehat dan menekan harga tiket pesawat.
“Kalau ada obstacle seperti itu maskapai lain agak enggan untuk beroperasi di tempat kita, makanya salah satu langkah kita adalah dengan pembebasan lahan sehingga mudah untuk menghilangkan obstacle itu,” ujar Rafiq.
Ia menambahkan, luasan lahan yang akan dibebaskan belum diketahui karena belum dilakukan pengukuran, begitu pula terkait estimasi anggaran yang belum disiapkan karena masih menunggu hasil pengukuran.
Akan tetapi, berdasarkan koordinasi dengan Asisten I Setda Kotim dan Dinas Perhubungan diketahui bahwa sudah ada verifikasi lapangan terhadap lahan tersebut dan diketahui bahwa lahan itu terbagi atas nama delapan pemilik.
“Rincian verifikasi itu juga termasuk beberapa jenis pohon yang ada di lokasi itu. Saat ini kami masih menunggu hasil verifikasi selesai sepenuhnya untuk selanjutnya melakukan pembahasan dengan pihak terkait untuk pembebasan lahannya,” demikian Rafiq.
Baca juga: Satu desa di Kotim dilanda banjir luapan sungai
Baca juga: Keluarga penumpang hilang di laut Sampit menyatakan ikhlas
Baca juga: Kapolres Kotim sebut kamtibmas tetap terkendali pasca demo