Palangka Raya (ANTARA) - Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kerajinan rotan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, terus menunjukkan potensi besar untuk menembus pasar ekspor. 

Monalisa Tumimomor, yang akrab disapa Mona di Palangka Raya, Minggu, mengungkapkan harapannya agar produk tas, aksesoris, kalung, anting, gelang, dan dompet anyaman rotan buatannya bisa lebih luas jangkauannya, dari lokal hingga internasional.

Dalam wawancara eksklusif, Mona menjelaskan bahwa ia telah bergabung dengan kelompok UMKM sejak tahun 2025. 

Produk utamanya tetap berfokus pada tas rotan, termasuk dompet dan berbagai aksesoris seperti kalung, gelang, cincin, serta anting dengan motif yang bisa di kustomisasi sesuai pesanan pelanggan.

Baca juga: UMKM Palangka Raya bersiap ekspor produk limbah kayu bernuansa Dayak

"Harapannya ke depan, kita bisa lebih luas lagi. Sekarang ini masih di tingkat lokal saja, siapa tahu nanti bisa naik hingga ke level internasional," ujar Mona dengan semangat.

Produk anyaman rotan miliknya sudah berhasil menembus pasar luar daerah, tidak hanya terbatas di wilayah Palangka Raya saja, tetapi juga hingga sampai ke Jakarta, Surabaya, bahkan NTB. 

Penjualan saat ini meliputi barang ready stock yang bisa dipilih langsung oleh pembeli, serta layanan by order dengan pilihan motif rotan sesuai keinginan, seperti motif Talawang.

Bahan baku rotan yang digunakan bersumber dari berbagai daerah, termasuk Garut dan lokal Kalimantan Tengah, untuk menjaga kualitas dan variasi.

Mona mengakui dukungan pemerintah terhadap UMKM selama ini sudah cukup baik, khususnya dalam penyediaan alat produksi seperti mesin jahit khusus kulit dan sintetis, serta meja kerja. 

Baca juga: Produk Kalteng unik, tapi kemasan dan branding masih prematur

"Untuk dukungan pemerintah sudah dibantu dengan alat-alatnya," katanya.

Untuk lokasi usahanya berada di Jalan Tantina Nomor 81, Kelurahan Bukit Tunggal, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya.

Masyarakat yang berminat dapat langsung datang ke lokasi atau memesan melalui media sosial Instagram @dm_collection_pky/Danum_Mahasur

Sedangkan untuk media sosial TikTok, saat ini masih dalam tahap pengembangan.

Baca juga: Sebanyak 17 UMKM Palangka Raya ekspor produk ke Selandia Baru

Mona berharap pemerintah dapat memberikan fasilitas lebih lanjut untuk peningkatan kualitas dan kreativitas produksi, sehingga UMKM kerajinan rotan khas Kalimantan Tengah ini semakin kompetitif di pasar yang lebih luas.

Kerajinan rotan menjadi salah satu produk unggulan daerah yang terus berkembang, sejalan dengan upaya penguatan ekonomi kreatif berbasis sumber daya lokal. 

Selain itu, produk rotan milik galeri Danum Mahasur itu juga akan melakukan ekspor kali pertama ke Selandia Baru. 

Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kerajinan rotan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Monalisa Tumimomor (baju biru)) saat menerima kedatangan pemilik Galeri Lifestyle Nusantara sekaligus perusahaan Exquisite Wood Limited di Selandia Baru, Hairunnisa (kiri), bersama suaminya, Rodney Taua atau Sidik (dua kiri) didampingi Kabid Perindustrian, DPKUKMP Palangka Raya, Margalis (dua kanan) di Palangka Raya beberapa waktu lalu. ANTARA/Dokumentasi Pribadi


Pengusaha furniture asal Selandia Baru Rodney Taua mengaku kekagumannya saat melihat langsung kerajinan tangan khas Kalimantan Tengah (Kalteng) di sejumlah  industri rumahan yang ada di Kota Palangka Raya.

"Saya sudah 8 tahun berkecimpung di dunia furnitur dan kerajinan kayu premium, tetapi apa yang saya lihat di sini benar-benar level nya lain," kata Rodney sambil memegang anyaman tas rotan Dayak di salah satu tempat Industri Kecil Menengah (IKM) di Palangka Raya.

Baca juga: Kerajinan Kalteng bikin kagum pengusaha asal Selandia Baru

Rodney Taua yang memiliki perusahaan furnitur dan dekorasi berbahan kayu ramah lingkungan bernama 'Exquisite Wood Limited' di New Zealand itu mengaku, terpukau seketika ketika melihat anyaman rotan Dayak berkualitas tinggi. 

Selain itu, istri dari Rodney Taua, Hairunnisa mengatakan, produk para UMKM ataupun IKM yang ada di 'Kota Cantik' Palangka Raya ini terbilang cukup menarik dan butuh dorongan dan perhatian dari pemerintah terkait produk lokal. 

"Minimal ada quality control resmi, pembinaan pengemasan, fumigasi, dan phyto-sanitary yang standar ekspor, sebab New Zealand negara yang paling ketat di dunia soal biosecurity," kata wanita kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur itu. 

Baca juga: Produk lokal Kalteng mendunia hingga "Best of the Best" di pasar internasional

"Kita akan upayakan dan membantu memasarkan produk-produk para pengusaha UMKM yang ada di Kota Palangka Raya ini, dengan ketentuan syarat dan dukungan baik dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kota dalam mendukung kemajuan para UMKM yang ada di Kalteng," katanya.  

Kekaguman seorang pengusaha Selandia Baru ini seolah menjadi pengingat, bahwa kerajinan tangan khas Kalteng bukan hanya warisan lokal, melainkan kekayaan dunia yang layak dipamerkan ke panggung internasional.

Baca juga: Pemkot Palangka Raya perkuat legalitas produk UMKM lewat fasilitasi sertifikasi halal dan merek